19 Jul 2011

PENGAWASAN DALAM PANDANGAN ISLAM

PENGAWASAN DALAM PANDANGAN ISLAM
H. Hendri Tanjung, S.Si., MM., M.Ag., M.Phil.

Pengawasan dalam Islam dilakukan untuk meluruskan yang bengkok, mengoreksi yang salah dan membenarkan yang hak. Pengawasan (control) di dalam ajaran Islam (hukum syariah), paling tidak terbagi kepada 2 (dua) hal: Pertama, Kontrol yang berasal dari diri, yang bersumber dari tauhid dan keimanan kepada Allah SWT. Orang yang yakin bahwa Allah pasti mengawasi hamba-Nya, maka orang itu akan bertindak hati-hati. Ketika sendiri, dia yakin Allah yang kedua, dan ketika berdua dia yakin Allah yang ketiga. Allah SWT berfirman: “Tidaklah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima

melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Mujadalah [58]: 7).
Ini adalah control yang paling efektif, yang berasal dari dalam diri. Ada sebuah hadits yang menyatakan: “Bertakwalah Anda kepada Allah, dimanapun Anda berada.” (HR. Thabrani dari Abu Darda’).

Taqwa itu tidak mengenal tempat. Taqwa itu bukan sekedar di masjid, bukan sekedar di atas sajadah, tetapi yang namanya taqwa itu adalah juga ketika beraktivitas, ketika di kantor, ketika di meja perundingan dan ketika melakukan berbagai macam perbuatan. Taqwa semacam inilah yang Tawa shoubil marhamah (saling menasehati atas dasar kasih sayang). Hal ini ditetapkan dalam Al-Qur’an pada surat Al-Balad ayat 17 yang artinya adalah saling berwasiat atas dasar kasih sayang. Tujuan melakukan pengawasan, pengendalian dan koreksi adalah untuk mencegah seseorang jatuh terjerumus kepada sesuatu yang salah. Tujuan lainnya adalah agar kualitas kehidupan terus meningkat. Inilah yang dimaksud dengan tausiyah, dan bukan untuk menjatuhkan. Ternyata metode bil marhamah ini sangat dashyat pengaruhnya. Kita lihat firman Allah dalam surat Fushilat (41) ayat 34-35.

Dalam ayat tersebut Allah menegaskan, bahwa tidaklah sama antara kebaikan dan keburukan. Kebaikan akan abadi, sedang keburukan akan hancur. Kebaikan akan bernilai, akan diterima oleh fitrah manusia, sedang keburukan akan ditolak, sekalipun keburukan itu dominan. Bagaimanapun, pada akhirnya keburukan akan dapat dihancurkan oleh kebaikan.

Tetapi dalam menghadapi keburukan, ayat ini menegaskan: “Idfa’ billatî hiya ahsan”, tolaklah keburukan itu dengan cara yang lebih baik. Mengapa demikian? Sebab, jika kita sudah mampu menolak keburukan dengan kebaikan, misalnya menolak (membalas) orang kikir dengan memberi kepadanya, membalas orang yang membenci dengan mendatanginya, atau membalas orang yang memutuskan hubungan dengan bersilahturahmi kepadanya, maka pengaruhnya sungguh luar biasa. Sehingga, “fa idzal-ladzî bainaka wa bainahu’adâwatun ka annahû waliyyun hamîm”, maka tiba-tiba orang yang semula menunjukkan permusuhan dan kebencian terhadap kita, seolah-olah telah berubah menjadi teman yang sangat dekat. Jadi, sikap-sikap yang menampilkan marhamah ini ternyata punya dampak yang sangat besar.

Kita tidak akan bisa melakukan yang demikian ini (menolak kejahatan dengan kebaikan), kecuali jika kita memiliki kesabaran. Kesabaran tidak bisa tercapai juga, kecuali kita mendapatkan anugerah dari Allah SWT. Artinya, kita tidak bisa melakukan itu semua jika kita tidak punya silah qawiyyah (hubungan batin yang kuat) dengan Allah SWT.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab.
Baca Selengkapnya | PENGAWASAN DALAM PANDANGAN ISLAM

ISLAM DI INDONESIA MASA ORDE LAMA, ORDE BARU DAN REFORMASI

ISLAM DI INDONESIA MASA ORDE LAMA, ORDE BARU DAN REFORMASI
Didin Saefuddin
Dosen Pascasarjana UIKA Bogor

A. Islam Masa Orde Lama

Setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, mulailah bangsa Indonesia mengisinya dengan pembangunan di berbagai bidang; fisik, nonfisik, mental, spiritual dan infrastruktur. Para pemimpin waktu itu sepakat mengangkat Soekarno sebagai presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden.

Salah satu yang menjadi agenda para pemimpin waktu itu adalah departemen apa saja yang perlu dibentuk. Muncul usulan membentuk Kementrian Agama yang bertugas mengurusi masalah keagamaan bagi umat Islam. Dalam rapat yang berlangsung, Latuharhary, seorang utusan dari Maluku, keberatan dengan pembentukan kementrian agama tersendiri. Keberatan itu didasarkan pada kekhawatiran bahwa jika misalnya seorang Kristen yang menjadi menteri agama, kaum Muslim akan merasa kurang tenteram, dan begitu sebaliknya. Dari kalangan Islam, Abdul Abbas menyarankan agar masalah agama dijadikan bagian dari Kementrian Pendidikan. Usul ini akhirnya diterima, karena setelah dilakukan voting, gagasan membentuk kementrian agama tersendiri hanya memperoleh enam suara. Tetapi pada sidang Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), sebuah komite lanjutan dari PPKI, usul ini muncul kembali. Para tokoh Islam seperti Mohammad Natsir mendukung usul ini dengan pertimbangan supaya masalah agama tidak dianggap ”sambil lalu” oleh Kementrian Pendidikan. Presiden pun memberi isyarat setuju. Maka pada 12 Maret 1946 Kementrian agama resmi dibentuk dengan H.M. Rasjidi sebagai menteri pertamanya.

Adanya Kementrian Agama dapat dikatakan sebagai solusi kompromi atas polemik yang terjadi pada ”tujuh kata” pada Piagam Jakarta, yang dapat menawarkan kemungkinan bagi pelaksanaan ajarana agama, khususnya syariat Islam, sehingga Islam dapat berperan dalam negara modern.

Suasana sosial-politik Indonesia pada tahun-tahun pertama kemerdekaan memperlihatkan tidak adanya hambatan penting yang menghalangi hubungan politik antara kelompok Islam dan kelompok nasionalis. Perdebatan mereka tentang corak hubungan antara Islam dan negara seperti terhenti. Paling tidak untuk sementara, kedua kelompok ini melupakan perbedaan ideologis di antara mereka .

Kelompok Islam menjadikan wadah Masyumi sebagai organisasi politik untuk mennyuarakan aspirasi mereka. Para anggota Masyumi adalah. Kekuatan Masyumi antara 1946-1951benar-benar mencolok. Herbert Feith mengatakan bahwa dalam pemilihan umum tingkat regional yang diselenggarakan di beberapa wilayah di Jawa pada 1946, dan pemilihan umum di Yogyakarta pada 1951, Masyumi memperoleh mayoritas suara mutlak atau paling tidak lebih banyak dibanding kontestan lain manapun .

Dalam Parlemen yang berangotakan 236 orang, Masyumi tampil sebagai partai dengan menduduki 49 kursi. Karena besarnya perolehan kursi, Masyumi dipercaya memimpin kabinet yaiti Kabinet Natsir pada 1950-1951, Kabinet Sukiman pada 1951-1952, dan Kabinet Burhanudin Harahap pada 1955-1956.

Namun keutuhan Masyumi harus diuji dengan keputusan NU keluar dari Masyumi. NU kemudian membentuk partai sendiri. Menariknya kursi yang diperoleh dari Pemilu tahun 1955, NU memperoleh 45 kursi dan masuk dalam empat partai besar yaitu PNI, Masyumi, NU dan PKI .

Kekuatan Masyumi sebagai partai politik Islam terus diuji sehingga harus mengalami masa surutnya. Perkembangan lebih lanjut anggota-anggota yang menjadi pendukung Masyumi yaitu Muhammadiyah, Mathla’ul Anwar, al-Ittihadiyah, al-Jami’ah al-Washliyah, al-Irsyad, dan Persis keluar dari Masyumi. Terakhir karena konflik dengan Soekarno, Masyumi dibubarkan oleh Presiden pada tahun 1960. Tokoh-tokoh Masyumi dituduh Soekarno terlibat dalam pemberomtakan PRRI .

Soekarno kemudian menggagas ide yang ingin menyatukan paham Nasionalisme, Islam dan Komunisme yang terkenal dengan sebutan NASAKOM. Konsep yang jelas mengenai ide ini tak pernah terumuskan. Ide ini mendapat reaksi keras dari umat Islam. Namun secara tidak diduga ide ini didukung oleh NU. Bahkan NU memberikan gelar kepada Soekarno dengan gelar Waliyyul Amri Dharury bisy Syaukah. Pada bulan Mei 1963 NU dan PKI mendukung sepenuhnya pengangkatan Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Sikap akomodatif NU ini, menurut Ensiklopedi Tematis Islam , hanyalah suatu pragmatisme politik. Idham Khalid berpendapat partainya tidak akan turut serta dalam pemerintahan yang merugikan agama.

Peranan partai Islam di masa ini mengalami kemerosotan. Soekarno makin memperlihatkan otoritasnya sebagai penguasa. Pancasila ditafsirkan sesuai keinginannya. Partai yang mendapat angin waktu itu adalah PKI yang mulai melakukan manuver-manuver politiknya.

Masa Soekarno ini kemudian terkenal dengan masa Demokrasi Terpimpin. Era Soekarno berakhir setelah terjadinya pemberontakan Gerakan 30 September 1965 yang terkenal dengan G30S PKI. Para Jenderal yang setia kepada Pancasila dibunuh dengan sadis. Soekarno pun dikaitkan dengan dukungannya terhadap G30S. Masa ini kemudian dikenal dengan masa Orde Lama.
B. Islam Masa Orde Baru

Tanggal 10 Januari1966 para mahasiswa turun ke jalan memprotes pemerintah yang makin tidak berpihak kepada rakyat. Mereka melakukan demonstrasi menuntut PKI dibubarkan, mendesak membubarkan kabinet 100 menteri, dan meminta harga-harga diturunkan. Demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) itu kemudian dikenal demonstrasi Tritura atau tiga tuntutan rakyat. Sejak ini mulailah era baru yang disebut Orde Baru. Sebelum ini disebut Orde Lama.

Presiden Soekarno di masa ini sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Berdasar surat perintah sebelas Maret (Supersemar) dia memberikan kuasa kepada Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Kepada Soeharto diperintahkan ”untuk menciptakan suasana ketenangan dan keamanan, dan menjamin keselamatan pribadi presiden, yang jelas merasa terancam” . Melalui rapat di MPR Soeharto dipercaya menjadi presiden RI menggantikan Soekarno. Harapan baru umat Islam muncul kembali. Masyumi diusulkan untuk direhabilitasi, namun ditolak oleh pemerintah. Sebagai kompensasinya pemerintah mengizinkan pendirian partai baru untuk menampung para mantan aktivis Masyumi. Nama partai tersebut adalah Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dengan pimpinannya Djarnawi Hadikusumo dan Lukman Harun.

Satu dengmi satu keinginan umat Islam kandas di tangan Orde Baru. Piagam Jakarta yang diu sulkan untuk dilegalisasi kembali pada sidang MPRS tahun 1968 ditolak. Demikian juga keinginan menyelenggarakan Kongres Umat Islam Indonesia pada tahun yang sama tidak dikabulkan.

Sikap saling curiga muncul dan merebak, bahkan pemerintah Orde Baru makin memperlihatkan sikap represifnya terhadap kaum Muslimin. Setiap kegiatan dakwah harus meminta izin dari aparat keamanan, setiap organisasi Islam harus mengganti azas organisasinya dengan azas tunggal Pancasila, dan partai yang dibolehkan hanya tiga yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia. Semua pegawai negeri digiring untuk memilih Golongan Karya sehingga selama enam kali pemilihan umum Golkar berhasil memenangkan pemilihan umum. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di kampus-kampus juga dibatasi dengan norma-norma yang menyebabkan mahasiswa hanya memfokuskan hanya pada perkuliahan. Para pendakwah yang dianggap membahayakan penguasa dipenjarakan .

Menurut Din Syamsudin, agenda politik Orde Baru mencakup depolitisasi Islam. Proyek ini, menurutnya, didasarkan pada anggapan bahwa Islam yang kuat secara politik akan menjadi hambatan bagi modernisasi. Dengan mendepolitisasi Islam mereka akan mempertahankan kekuasaan dan melindungi kepentingan-kepentingan mereka .

Namun walaupun Islam secara politik mendapat tekanan dari berbagai sudut, di pihak lain, secara kultural kebangkitan Islam menyeruak tanpa dapat dibendung. Mungkin ini hikmah dari perlakuan kurang bersahabat pemerintah terhadap umat Islam. Secara fenomenal dakwah Islam menerobos dinding-dinding gedung mewah seperti hotel-hotel berbintang. Gedung-gedung perkantoran modern menyediakan tempat untuk shalat jumat, pengajian-pengajian muncul di kalangan birokrasi pemerintahan, berbagai kegiatan dakwah seperti tablig akbar mendapat sambutan ribuan pengunjung, masjid-masjid bermunculan, seminar-seminar keislaman diadakan di kampus-kampus sekuler seperti UI, ITB, IPB, Trisakti dan UGM, wanita-wanita dari kalangan terpelajar banyak yang mengenakan jilbab di kota-kota besar, buku-buku Islam terbitan baru dengan tampilan menarik diterbitkan secara besar-besaran. Dan pada tingkat ekonomi berhasil didirikan Bank Muamalat yang beroperasi secara syariat Islam. Pada lapisan kaum intelektual didirikan organisasi bernama Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) dengan ketuanya BJ Habibie. Jumlah jamaah haji pun meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai 200 ribu jamaah lebih.

Kekuatan Orde Baru semakin nyata berkat dukungan militer. Posisi Presiden Soeharto pun makin kokoh dengan dukungan tentara. Perkembangan kebangkitan Islam pun direspond oleh Soeharto dengan melakukan pendekatan terhadap kalangan Islam. Pendirian Bank Muamalat dan ICMI adalah hal yang didukung penuh oleh Soeharto. Namun di awal tahun 90-an ada wacana yang dimunculkan oleh Amien Rais tentang perlunya regenerasi kepemimpinan nasional. Seperti diketahui bahwa setiap sidang MPR yang menentukan kepemimpinan nasional, pilihan selalu menuju ke diri Soeharto sampai enam kali sampai angin reformasi yang menghendaki pergantian kepemimpinan nasional muncul.

Diawali dengan adanya krisis moneter yang melanda negara-negara Asia, yang berdampak nilai rupiah makin merosot terhadap dolar, posisi pemerintah di bawah Soeharto mulai disorot oleh rakyat. Demonstrasi mahasiswa secara besar-besaran muncul di Jakarta. Demonstrasi yang terjadi setiap hari itu sampai menelan korban yakni tewasnya tiga mahasiswa Universitas Trisakti. Kerusuhan dan penjarahan muncul secara brutal yang berujung pada kejatuhan Soeharto pada bulan Mei 1998. Soeharto menyatakan berhenti menjadi presiden dan digantikan oleh wakilnya yaitu Bacharuddin Jusuf Habibie.

C. Euforia Pasca Jatuhnya Soeharto

Berakhirnya masa kekuasaan Soeharto menandai dimulainya orde reformasi. Maka Habibie mendapat tugas berat menakhodai Indonesia di masa transisi. Langkah-langkah yang mengarah kepada proses demokratisasi pun diambil. Kebebasan pers dijamin, pemberantasan korupsi dilakukan, para pejabat yang diangkat melalui nepotisme diberhentikan, kabinet pun dirombak, sistem politik yang berkaitan dengan penetapan presiden dan para kepala daerah dilakukan melalui pemilihan langsung oleh rakyat. Dan yang paling menarik adalah dibukanya kran regulasi politik yang membolehkan didirikannya partai baru.

Situasi ini dimanfaatkan oleh rakyat untuk beramai-ramai mendirikan partai baru. Dan secara fenomenal di masa ini kembali Islam politik mendapat momentumnya untuk bangkit. Sejumlah partai Islam berdiri seperti Partai Keadilan, Partai Bulan Bintang, Partai Masyumi Baru dan Partai Syarikat Islam. Selain itu PPP yang pernah mengganti asas partai dengan Pancasila pun kembali menegaskan asasnya dengan Islam dan mengganti lambang dengan gambar ka’bah .
Partai-partai baru ini selain ada yang secara tegas berasaskan Islam, ada pula yang tidak menegaskan sebagai partai Islam namun konstituennya adalah kalangan Islam seperti Partai Amanat Nasional (PAN) yang digagas oleh Amien Rais, aktivis Muhammadiyah, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang digagas oleh Abdurrahman Wahid.

Secara fantastis Pemilu tahun 1999 mengikutsertakan 48 partai yang ditawarkan kepada rakyat untuk dipilih. Dari ke 48 partai itu dapat dikategorikan kepada empat kategori yaitu pertama, partai nasionalis seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar, dan Partai Keadilan dan Persatuan (PKP); Kedua, partai Islam seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan (PK), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Politik Islam Masyumi (PPIM), dan Partai Syarikat Islam; Ketiga, partai nasionalis berbasis Islam, seperti Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB); Keempat, partai Kristen; Keempat, partai para buruh seperti Partai Buruh Indonesia.

Seleksi alam menggugurkan satu demi satu partai yang berta rung di kancah pemilu 1999 tersebut. Partai yang di masa Orde Baru diberi kesempatan berlaga, yaitu PPP, Golkar dan PDI (yang kemudian berubah menjadi PDIP), masih mendapat suara signifikan. Namun para pendatang baru yang dianggap oleh rakyat sebagai alternatif pun bermunculan. Terdapat tujuh partai yang memperoleh suara di atas partai-partai lain yaitu PDIP, Golkar, PPP, PKB, PAN, PBB, dan PK.

Di masa keterbukaan ini, harapan akan terjaminnya rasa keamanan, keadilan dan kesejahteraan rakyat mulai berjalan. Kekuasaan represif rezim Orde Baru yang didukung militer mulai hilang. Rakyat mulai berani menyuarakan kepentingannya tanpa rasa takut, sehingga unjuk rasa-unjuk rasa menjadi pemandangan biasa di jalan-jalan.
Masa transisi kepemimpinan Habibie berlangsung satu tahun. Sidang MPR kemudian memilih Abdurrahman Wahid dan Megawati sebagai presiden dan wakil presiden. Namun Wahid pun hanya setahun memimpin karena terkait kasus Bulog yang menyebabkan ia diganti oleh Megawati.

Pemilihan langsung presiden pertama digelar pada tahun 2004. Susilo Bambang Yudoyono dan Jusuf Kalla berhasil memperoleh suara terbanyak sehingga ditetapkan sebagai presdien dan wakil presiden mengalahkan pasangan-pasangan lain yaitu Megawati-Hasyim Muzadi, Amien Rais-Siswono Judohusodo, Wiranto-Solahudin Wahid, dan Hamzah Haz-Agum Gumelar.
Para pengamat politik dunia menilai keberhasilan Indonesia menyelenggarakan Pemilu secara langsung menempatkan Indonesia sebagai negara demokratis ketiga di dunia setelah Amerika dan India.

D. Islam di Masa Reformasi

Kebebasan yang terbuka lebar di masa ini pun dimanfaatkan oleh umat Islam untuk menata dirinya, bukan hanya di bidang politik, melainkan juga bidang ekonomi, pendidikan, sosial dan kehidupan keberagamaan.

Di bidang politik, banyak fenomena menarik tentang menguatnya kebangkitan politik kaum santri. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro Islam semakin tampak terbuka, seperti dicanangkannya program zakat nasional pada tahun 2005 dan penataan madrasah-madrasah di bawah Departemen Agama dengan dukungan dana yang besar.

Ketika Undang-undang tentang pemilihan kepala daerah (pilkada) disahkan maka sekarang tidak lagi menjadi tugas DPRD untuk menentukan gubernur dan bupati/walikota. Maka berlangsunglah pesta demokrasi tingkat daerah yang memunculkan calon-calon pemimpin baru. Yang menarik dari hasil pilkada, secara tidak terduga, terdapat pemimpin baru yang terpilih dari kalangan santri. Terpilihnya Ahmad Heriawan dan Dede Yusuf sebagai gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat pada 2008 sangat mencengangkan banyak orang. Mereka adalah calon dari partai Islam yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan partai berberbasis massa Islam, Partai Amanat Nasional. Demikian juga calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara yang diusung PKS memenangkan Pilkada Sumut tidak lama setelah berlangsung Pilkada Jawa Barat.

Di bidang ekonomi, kaum Muslimin sudah memiliki bank yang beroperasi secara Islami, yaitu Bank Muamalat yang sudah dirintis sejak zaman Orde Baru. Karena minat umat Islam yang begitu besar akan beroperasinya bank Islam maka para bankir pun memanfaatkan momentum ini. Para pengusaha bank berusaha untuk mengkonversi sistem perbankan dari konvensional ke perbankan syariah. Banyak bank yang tadinya hanya beroperasi secara konvensional mulai membuka sistem syariah. Dimulai oleh Bank Syariah Mandiri, kemudian disusul oleh Bank BNI Syariah, IFI Syariah, BUKOPIN Syariah, BRI Syariah, BTN Syariah, BII Syariah, Permata Syariah, dan bahkan bank asing seperti HSBC.

Fenomena ini mendorong pihak Bank Indonesia (BI) untuk membuka divisi perbankan syariah untuk melakukan pembinaan dan regulasi. Jabatan pembina bank syariah di BI pun ditingkatkan dari setingkat divisi menjadi direktorat, seiring dengan menjamurnya bank-bank syariah baik di tingkat pusat maupun di tingkat lokal dengan munculnya bank-bank perkreditan syariah.

Kebutuhan akan tenaga sumber daya manusia yang ahli di bidang perbankan syariah secara otomatis disambut oleh kalangan perguruan tinggi untuk membuka jurusan ekonomi Islam. Maka perguruan tinggi Islam, baik negeri maupun swasta, ramai-ramai membuka jurusan ekonomi Islam. Namun kesempatan ini pun dimanfaatkan oleh kalangan perguruan tinggi umum untuk membuka jurusan ekonomi syariah. Maka UI, UGM, Trisakti dan IPB pun membuka program ekonomi Islam, tidak hanya di strata sarjana melainkan juga pascasarjana.
Pendidikan Islam juga memunculkan fenomena yang menarik. Di level pendidikan dasar dan menengah, muncul fenomena sekolah terpadu, yaitu Sekolah dasar Islam Terpadu (SDIT), Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) dan Sekolah Menengah Islam Atas Terpadu (SMAIT).

Kehadiran sekolah terpadu ini ternyata menarik minat kalangan masyarakat untuk memasukkan anak-anaknya. Sistem sekolah ini pada intinya memadukan pendidikan umum dan agama bukan hanya pada tingkat teoritis melainkan sampai pada tingkat praktik. Anak-anak diwajibkanuntuk mempraktekkan shalat berjamaah di masjid sekolah. Bahkan bukan hanya shalat wajib, sekolah ini pun mengharuskan mereka untuk shalat sunat seperti dhuha dan rawatib. Di bidang bacaan Quran, sistem SIT menekankan kefasihan dan hafalan Quran anak didik.

Animo masyarakat memasukkan anaknya ke sekolah terpadu bisa menjadi faktor terbukanya kesadaran akan pentingnya ajaran Islam bagi anak-anak mereka.

Di pihak lain muncul fenomena lain yaitu sekolah-sekolah berasrama atau yang populer disebut Boarding School. Sekolah ini sebenarnya sekolah umum, hanya siswanya diwajibkan tinggal di asrama untuk mengikuti pembinaan kepribadian yang menunjang tujuan sekolah. Sekalipun model sekolah ini menyerupai pesantren, namun tidak ada pelajaran mengaji kitab kuning atau kewajiban berbahasa Arab di lingkungan asrama. Beberapa nama sekolah yang menerapkan model ini adalah SMA Madania, SMA Dwiwarna, keduanya di Parung, Bogor; SMA al-Muthahhari Bandung, dan International Islamic Boarding School (IIBS) Cikarang.

Di level kehidupan keberagamaan masyarakat terjadi perkembangan yang juga menarik untuk diamati, seperti menjamurnya travel-travel haji dan umroh untuk memfasilitasi masyarakat yang hendak naik haji dan umroh. Jumlah jamaah haji terus meningkat mencapai lebih dari 220 ribu jamaah. Pengajian-pengajian dan training-training Islam dibanjiri pengunjung seiring dengan bermunculannya da’i-da’i muda yang menarik dalam menuturkan materi dakwahnya.

Majelis-majelis ta’lim yang menampilkan juru-juru dakwah yang populer dan menyejukkan bermunculan dan diminati kaum Muslim perkotaan. Dalam kaitan ini masing-masing majelis pengajian memiliki nama yang menjadi semacam ”trade mark” seperti Manajemen Qalbu yang dipelopori oleh Abdullah Gymnastiar, Majelis Zikir yang dipelopori oleh Arifin Ilham, dan Wisata Hati yang diasuh oleh Yusuf Mansyur. Juru dakwah yang lebih dahulu menyemarakkan tablig-tablig akbar adalah Zainuddin MZ, yang mendapat julukan ”da’i sejuta ummat”. Namun seiring dengan perannya di partai politik, namanya perlahan-lahan tidak lagi populer.

Di kalangan eksekutif, kebangkitan keagamaan juga makin meluas. Hampir tidak ada satu pun gedung pencakar langit di kota besar seperti Jakarta yang tidak memiliki fasilitas shalat jumat. Hotel-hotel berbintang berlomba-lomba menyediakan tempat untuk shalat tarawih yang diisi ceramah agama. Para artis banyak yang mengenakan busana yang menutupi aurat di samping melaksanakan umroh dalam mengisi liburan mereka.

Training-training motivasi juga diminati kaum menengah dan eksekutif. Dalam hal ini yang menonjol adalah training ESQ (Emotional, Spiritual Quotient) yang dipelopori oleh Ary Ginanjar Agustian. Sekalipun, untuk mengikuti training ini harus membayar jutaan rupiah namun tetap saja diminati kalangan eksekutif dan kalangan Islam kota. Bahkan di tahun 2006 ESQ sudah dilaksanakan di luar negeri seperti Malaysia dan Brunei. Training ESQ sebenarnya lebih banyak muatan keislamannya namun dikemas secara menarik melalui pendekatan sains modern mutakhir dan teknologi multimedia serta musikalisasi yang mengundang sentuhan emosi para pesertanya. Selain kaum profesional dan eksekutif, ESQ juga menyediakan training untuk mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga dan anak-anak.

Acara-acara dakwah pun menjamur di televisi, terutama pada waktu datangnya bulan Ramadhan. Pada bulan ini acara dakwah diadakan menjelang dan sesudah berbuka puasa serta menjelang dan setelah santap sahur. Cerita-cerita film di televisi pun memunculkan kisah-kisah Islami yang tidak ditemui di masa-masa sebelumnya.

Pendek kata, syiar Islam di masa ini tampak semarak menembus ruang-ruang kehidupan masyarakat. Dalam mengekspresikan pendapat, gagasan, pikiran dan cita-citanya, masyarakat tidak lagi dihantui perasaan takut, seperti di masa Orde Baru. Gagasan-gagasan provokatif, bernuansa politis, sekalipun, tidak mendapat teguran atau larangan dari pemerintah. Bahkan negara, secara legal formal, telah mengesahkan wilayah Provinsi Aceh, yang kemudian berubah nama menjadi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), sebagai wilayah yang diberi otonomi penerapan syariat Islam. Kasus-kasus pelanggaran pidana yang dilakukan warga diputuskan melalui peradilan syariat .

Di antara sebagian masyarakat ada yang secara demonstratif dan provokatif mengkampanyekan diterapkannya syariat Islam di negara RI , bahkan ada juga di antara mereka yang ingin membangun negara dengan sistem khilafah yang berdimensi universal di seluruh dunia .

Perkembangan Islam dan kehidupan umat Islam di Indonesia akan terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Banyaknya kaum muda Islam terpelajar yang bergelar sarjana, magister dan doktor tampaknya membawa angin segar bagi perkembangan baru Islam Indonesia di masa depan.

Beberapa pendapat yang dilontarkan para pakar dan pemikir Islam dunia memprediksi bahwa kebangkitan Islam akan muncul di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Apakah itu mitos atau realitas, hanya waktu yang akan menjawabnya.
Baca Selengkapnya | ISLAM DI INDONESIA MASA ORDE LAMA, ORDE BARU DAN REFORMASI

FILOSOFI HAJI DAN QURBAN


FILOSOFI HAJI DAN QURBAN
Oleh : Didin Saefuddin Buchori


Satu pekan Idul Adha sudah kita lalui. Makna apa yang dapat engkau ambil dari Idul Adha? Pertama, idul adha berkaitan dengan prosesi ibadah haji yang dilakukan oleh jutaan saudara-saudara kita di tanah suci Mekah. Pelajaran apakah yang dapat dipetik dari pengalaman menunaikan haji?

Prosesi ibadah haji diawali dari miqat. Miqat artinya batas tempat dan waktu memulai haji. Titik berangkat bertempat di Birr Ali atau Zulhulaifah. Di sini engkau berganti pakaian. Seluruhnya berwarna putih. Laki-laki hanya menggunakan 2 helai kain yang dililitkan ke tubuhnya tanpa sedikitpun ada jahitan. Wanita sekujur tubuhnya tertutup rapat kecuali muka dan telapak tangannya. Di sini engkau berniat Ihram artinya siap mengharamkan yang menjadi larangan Ihram.
Ketahuilah bahwa pakaian sering menjadi simbol keangkuhan seseorang. Banyak orang mendemonstrasikan status sosial dengan mengenakan pakaian mahal, rancangan disainer bertarif puluhan juta, dengan menggunakan bahan yang harganya tidak dapat dijangkau orang lain. Lalu pakaian pun bisa menjadi batas palsu yang menyebakan garis demarkasi. Muncullah egosentrisme ”inilah aku” dan bukan ”inilah kita”. Dengan pakaian Ihram keangkuhan itu dikubur dalam-dalam. Status kita sama di hadapan sang Maha Pencipta. Bedanya hanya pada ketakwaan. ”Inna Akramakum Indallahi Atqaakum

Sesampai di Mekah kita menuju pusat Kiblat dunia bernama Ka’bah. Kabah laksana matahari sebagai pusat tata surya yang dikelilingi planet-planet. Engkau saksikan jutaan manusia mengelilinginya bak bintang-bintang yang beredar dalam orbitnya. Kabah melambangkan keabadian Allah, sedang manusia-manusia yang bergerak mengelilinginya melambangkan kefanaan ciptaan-Nya. Itulah simbol bahwa posisi manusia akan berpindah dari alam satu ke alam lainnya, sedang Allah tetap dalam keabadian-Nya.

Selesai 7 kali thawaf, engkau menuju tempat sa’i. Sa’i adalah berjalan cepat antara Shafa dan Marwa sebanyak 7 kali. Sa’i artinya usaha/ikhtiar. Sa’i melambangkan bahwa manusia tidak boleh berdiam diri, ia harus gesit, cekatan, terus bergerak sampai kita mendapatkan capaian yang kita tuju. Dalam hidup tidak ada yang tidak bisa dicapai kalau kita bergerak, berusaha, bekerja keras. Seekor burung terbang jauh di pagi hari dalam keadaan perut kosong tidak pernah ia pulang dengan perut kosong pula. Ia telah menjalankan sa’i, berusaha, berikhtiar untuk mempertahankan hidupnya. Itu pula yang dilakukan siti Hajar ketika harus berlari-lari mencari seteguk air demi mempertahankan hidup sang putra tercintanya, Ismail a.s. Bacalah biografi orang-orang sukses di sekitarmu, pasti engkau akan dapatkan pelajaran berharga bahwa kesuksesan mereka tidak diperoleh secara gratis melainkan dengan kerja keras, tak kenal lelah. Seorang bijak mengatakan ”kesuksesasan bukan diperoleh dengan kekuatan tetapi berkat ketekunan.”

Setelah putaran ke 7, di bukit Marwah, guntinglah rambutmu, seberapa helai saja. Bercukur adalah simbol membuang pikiran-pikiran buruk yang ada dalam otakmu, pikiran serakah, pola pikir sesat, khayalan kotor, otak mesum, ide-ide jahat, senang melihat penderitaan orang lain atau menderita melihat kesenangan orang lain.

Ketika hari mulai menapaki tanggal 8 Zulhijjah bersiap-siaplah engkau menuju padang Arafah. Engkau akan menjalani wukuf. Wukuf artinya berhenti. Setelah bergerak saat Thawaf dan Sa’i saatnya engkau kini berhenti sejenak.

Hidup adalah gerak. Gerak akan berakhir dengan penghentian. Dan penghentian terakhir kita adalah kematian. Semua makhluk tidak satupun yang mampu menghindarinya. ”Qul Innal mawtal ladzii tafirruuna minhu fainnahuu mulaqiikum” Katakanlah bahwa kematian yang kamu lari daripadanya sesungguhnya ia akan menjemputmu ( al-Jumua’ah: 11).
Arafah adalah miniatur padang Mahsyar. Kita semua akan dikumpulkan di padang Mahsyar akhirat dan medan pertanggungjawaban segala perbuatan kita. Engkau punya mulut, tapi hari itu terkatup rapat, karena mulut adalah lubang tempat keluarnya kebohongan dan kepalsuan-kepalsuan. Engkau punya mata saat itulah ia bersaksi, engkau punya telinga saat itu ia mengungkapkan pernyataannya, engkau punya kaki di padang Mahsyar itu ia akan berterus terang kemana ia pernah melangkah, engkau punya tangan saat itulah ia terbuka mengeluarkan testimoninya.

Tangkaplah makna wukuf di Arafah sedalam-dalamnya sebagai refleksi bahwa engkau kelak akan memanen hasil perbuatanmu ketika menjalankan perananmu di panggung dunia. Perilaku buruk sekecil atom sekalipun pasti akan ada balasannya demikian sebaliknya dengan amal saleh. Menangislah engkau di padang Arafah sejadi-jadinya untuk menyatakan pertobatan abadi dan kesiapan total untuk menjadi manusia mulia di hadapan Allah.

Sesampai di Mina, engkau berangkat untuk melempar jumratul ula, jumratul wushtha dan jumratul aqabah. Melempar jumrah adalah simbol permusuhan abadi kepada syetan laknatullah. Syetan bisa menggoda kapan saja sehingga iman kita bisa berguncang karenanya. Banyak orang yang baik dan terhormat tiba-tiba jatuh menjadi hina dan berlumuran dosa akibat bisikan jahat syetan. Karena itu lemparlah syetan yang ada dalam diri kita sekeras-kerasnya seperti jamaah haji melempar jumrah.

Usai haji pulanglah engkau ke tanah air membawa oleh-oleh berupa kemuliaan akhlak, ketinggian martabat, kesucian kalbu dan gelar haji mabrur. Lalu engkau bangkitkan negerimu menjadi negeri baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, negeri yang bersih, suci sesuci hatimu ketika menangis di Padang Arafah.

Dan kita yang tinggal di negeri sendiri alhamdulillah sudah melaksanakan penyembelihan hewan qurban. Berqurban adalah simbol ketaatan kita kepada perintah Allah dan kepatuhan kita menjauhi larangan-Nya. Berqurban juga adalah simbol rasa syukur karena Allah telah menganugerahkan banyak kenikmatan yang tak terhingga sehingga kita wujudkan syukur itu dengan menyembelih hewan qurban. Berqurban juga adalah simbol kesiapan kita menyembelih nafsu kebinatangan yang ada dalam diri kita seperti keserakahan, kebuasan, ketiadaan rasa malu, dan ketiadaan rasa terimaksih.

Semoga saudara-saudara kita di tanah suci pulang membawa haji mabrur. Semoga qurban yang telah kita lakukan menjadi peneguh ketakwaan kita.

Wahlahua'lam
Baca Selengkapnya | FILOSOFI HAJI DAN QURBAN

15 Jul 2011

SEMINAR SEHARI TEKNOLOGI INFORMASI PENDIDIKAN

( Zainal Abidin ( Batik), Budi Susetyo (Hitam), Foni Agus Setiawan (Coklat)
sedang memberikan materi pada seminar yang Teknologi Pendidikan di UIKA Bogor


berlatar belakang pendirian program studi baru pada program pascasarjana UIKA Bogor, Seminar yang bertajuk Teknologi pendidikan yang diselenggarakan oleh Jurusan Teknik informatika Fakultas Teknik UIKA Bogor ini, mendatangkan 3 pembicara anatara lain Bapak Foni Agus Setiawan S. Kom M.Kom ( Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ), Dr. Zainal Abidin Arif M.Sc (Ketua Prodi S2 Teknologi Pendidikan UIKA) Victor Terinate ( Direktur Telematika BNSP).

Ketiga pembicara ini memaparkan tentang pentingnya implementasi Teknologi bagi pendidikan, dalam sambutannya dekan FT UIKA Bapak Arief Goeritno mengungkapkan, seminar ini bertujuan selain mempromosikan Prodi baru di Program pascasarjana UIKA Bogor, seminimar ini pula dihadirkan agar para civitas akademika yang bergerak khususnya dibidang IT bisa menyadari bagaimana pentingnya implementasi ilmu yang diajarkan di bangku kuliah utuk pendidikan, sehingga perlu adanya suatu semangat baru dalam menjalani perkuliahan. Tambahnya, dalam seminar inipula akan dipaparkan mengenai sertifikasi propesi sebagai penunjang dan bukti tambahan lain bahwa lulusan fakultas teknik khususnya teknik Informatika adalah para propesional yang mempuni dibidangnya.


Seminar yang dimula pukul 9.00 Wib ini diikuti oleh sekitar 100 Peserta dengan latarbelakang dan profesi yang berbeda-beda, dengan antusias para peserta mendengarkan para pembicara yang dihadirkan
Baca Selengkapnya | SEMINAR SEHARI TEKNOLOGI INFORMASI PENDIDIKAN

27 Jun 2011

Kunjungan Duta Besar Tunisia Ke UIKA

Kunjungan Duta besar Tunisia ke UIKA Bogor pagi tadi ( red: 27/06/11) Universitas Ibn khaldun Bogor (UIKA) kedatangan tamu spesial. UIKA kedatangan tamu dari kedutaan tunisia, Mohamed Hassairi. duta besar tunisia ini berkunjung ke UIKA dengan maksud ingin membicarakan kembali MOU atau nota kerjasama yang pernah ditandatangani UIKA beberapa tahun silam degengan tunisia.

dalam sambutannya Mohamed Hassairi, mengungkapkan kekagumannya kepada Universitas Ibn Khladun Bogor atas kemajuan pesat yang diraih dari tahun-ketahun hingga bisa eksis dan menjadi salah-satu kampus Islam terbesar di kota bogor. selain itu beliau mengungkapkan rasa terimakasih kepada UIKA yang bersedia mengabadikan salah-satu tokoh besar yang dilahirkan ditunisia ini menjadi nama universitas, " ini merupakan rasa kebanggaan kami sebagai warga negara tunisia" dalam kunjungannya ke UIKA ini, beliau berkesempatan untuk sedikit menjabarkan mengenai kondisi yang dialamu oleh negaranya mengenai pasca revolusi yang telah terjadi beberapa bulan lalu.

beliau mengungkapkan revolusi yang terjadi di belahan dunia Arab termasuk di gerinya adalah hal lumrah dan biasa saja. “Sama seperti di negara manapun, yang namanya revolusi itu adalah lazim dan tidak perlu dikhawatirkan, ujarnya kepada azies-site disela-sela kunjungan ke UIKA kemarin.

Menurut Hassairi, saat ini kondisi negerinya sudah stabil dan tidak terjadi gejolak lagi. Pemerintahan transisi juga melaksanakan tugasnya dengan baik dalam mengawal perubahan di
negerinya. “Kita berharap hingga proses pemilihan nanti, semoga situasinya tetap aman dan damai,” katanya.

Ia juga menampik jika proses revolusi dan reformasi di Tunisia muncul karena adanya faktor-faktor eksternal, terutama intervensi asing. “Namanya perubahan itu pasti terjadi. Jadi kita tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang terjadi di Tunisia maupun negara-negara Arab lainnya merupakan akibat intervensi asing,” ia menegaskan.

Sebagai seorang duta besar yang bertugas di negara dengan penduduk Muslim terbesar di Indonesia, Hassairi mengaku bangga dan merasa terhormat. “Walaupun jauh secara geografis, namun hubungan Indonesia dengan Tunisia sangat dekat. Semoga hubungan dan kerjasama antara kedua negara yang bersaudara ini kian erat dan maju di masa yang akan datang,” tutupnya.
Baca Selengkapnya | Kunjungan Duta Besar Tunisia Ke UIKA

14 Jun 2011

IKAFAI rencanakan adakan Reuni Akbar

Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Agama Islam (IKAFAI) Universitas Ibn Khaldun (UIKA) terus menunjukkan dirinya sebagai lembaga pemersatu alumni Fakultas Agama Islam UIKA. Mereka ingin eksis membesarkan almamaternya dan turun mencerdaskan masyarakat. Namun sebelum mimpi itu diraih, mereka mengagendakan reuni akbar sekaligus launching organisasi di Masjid Al-Hijri, Kampus UIKA, Sabtu (18/6) mendatang.

Menurut Ketua IKAFAI UIKA, Memed Jalaluddin, reuni akbar ini merupakan implementasi dari peluncuran program pertemuan rutin bulanan berupa stadium general. Tujuannya, mengajak para alumni berbagai angkatan untuk bergabung dengan organisasi ini. “Kami datang untuk mengabdi dan memberi. Itu prinsip yang kami pegang agar bisa eksis di tengah masyarakat.
Kami ingin memberikan manfaat besar bagi alumni, almamater dan masyarakat luas,” ujar Memed yang memimpin pengurus IKAFAI dalam kunjungannya ke redaksi Radar Bogor, Minggu (12/6). Ia mengatakan, hingga kini ada ribuan alumni FAI UIKA yang telah mengabdi di masyarakat. Nah, organisasi ini hadir untuk membantu profesi alumnus itu. “Rekan-rekan kami ada yang menjadi guru, dosen, bahkan pimpinan kantor urusan agama. Kami ingin keberadaan mereka benar-benar bisa dirasakan masyarakat,” ujar pimpinan Yayasan Birul Walidain itu. Sekretaris IKAFAI UIKA, Ahmad Fahir, mengatakan, organisasi siap bekerjasama dengan pihak lain dalam upaya menyejahterakan masyarakat.
Atas dasar itu, mereka menggandeng media agar program yang telah disusun bisa berjalan efektif. “Kami paham, IKAFAI dan Radar Bogor punya visi yang sama, yaitu membantu menyejahterakan masyarakat. Kami juga siap bekerjasama dengan pihak lain,” ujar mantan aktivis dan wartawan itu.
Baca Selengkapnya | IKAFAI rencanakan adakan Reuni Akbar

7 Jun 2011

Karya Civitas Akademika UIKA

Karya Civitas Akademika UIKA


Warta-UIKA : Prestasi gemilang ditorehkan civitas akademika Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Hendri Tanjung dan Irfan Azizi. Dua dosen ini berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penulis novel ekonomi syariah pertama.

MURI mencatatkan novel berjudul Econom sebagai novel ekonomi syariah pertama dengan urutan rekor MURI ke- 4923. Penyerahan piagam diserahkan langsung Manajer Senior MURI, Paulus Pangka kepada penulis novel Hendri Tanjung di kantor MURI, Jalan Perintis Kemerdekaan No 275, Semarang, Jawa Tengah.
“Novel Econom terbitan Azam ini adalah novel pertama yang berbasis syariah di Indonesia. Diperkuat dengan rekomendasi Direktur Kepatuhan BNI Syariah tanggal 23 Mei 2011dan Perum LKBN Antara,” ungkap Paulus. Ia menjelaskan, Econom merupakan novel pertama yang mengangkat pengenalan ekonomi syariah sebagai tematik dari substansi dalam cerita.

“Jadi berdasar dari dua rekomendasi tersebut, kami menilai novel ini layak dicatatkan di museum untuk kriteria pertama,” katanya. Ditemui di UIKA, Henri Tanjung mengatakan, sebuah kebanggaan jika karyanya dicatat di MURI. Selama ini, terang dia, novel selalu diidentikkan sebagai karya tentang cinta dan problematikanya. Melalui Econom, ia berusaha menuangkan dunia ekonomi syariah, khususnya bank syariah, ke dalam novel.

“Saya sengaja mengemas buku dalam bentuk novel agar pembaca tidak bosan. Karena itu, pesan tentang ekonomi syariah lebih mengena di benak pembaca,” katanya. Dengan bahasa populer, imbuhnya, tentu masyarakat awam akan lebih mengerti dan memahami tentang ekonomi syariah.

Dia juga menilai, kini masyarakat Indonesia hanya sebagai penonton bank syariah, dan bukan sebagai pemain. Artinya, publik lebih banyak mengamati bank syariah daripada menyimpan uang di bank syariah. “Kalau jadi pemain, tentu menyimpan uang di bank syariah. Di situ jauh lebih menguntungkan,” kata penulis kelahiran 30 Mei 1972 ini.

Hendri Tanjung ( Batik Kuning ) sesaat mendapatkan Piagam Penghargaan Peraih REKOR MURI
(Musium Rekor Dunia Indonesia)

Baca Selengkapnya | Karya Civitas Akademika UIKA

6 Jun 2011

Teknik Informatika UIKA Bogor, menjadi tempat Sertifikasi Badan Sertifikasi Nasional

Teknik Informatika UIKA Bogor, menjadi tempat Sertifikasi Badan Sertifikasi Nasional

dengan meningkatnya standar mutu yang diterapkan di Fakultas Teknik UIKA Bogor, maka dengan Itu pula Program Studi Teknik Informatika, mulai membrlakukan kebijakan baru yang tentunya menjadi satu standar khusus untuk para mahasiswanya. dimana mahasiswa yang akan menempuh sidang skrifsi di wajibkan untuk memiliki 2 sertivikasi propesi minimal di akui dan berstandar nasional. Dengan itu pada tanggal 27 Mei 2011, Program studi Teknik Informatika resmi membuka program sertivikasi CCNA, MULTIMEDIA, dan berbagai sertifikasi profesi lainnya.

dengan menggandeng LSP Telematika yang berada dibawah BNSP, UIKA didaulat menjadi tempat Assesment Kompetensi ( TAK ), dimana nantinya Bagi siapapun yang ingin melakukan sertifikasi profesi bisa langsung mendatangi Teknik Informatika, dan hingga saat ini ternyata hanya satu tempat asssesment yang ada di kota bogor.

Saat di temui redaksi, Budi Susetyo selaku Kepala jurusan Teknik Infirmatika UIKA, menjelaskan "nantinya lulusan UIKA, akan memiliki standar mutu tersendiri, untuk awal-awal memang terlihat meribetkan, akan tetapi ketika semua lulusan Teknik Informatika sudah memiliki sertivikasi profesi berstandar nasional bahkan Internasional seperti CCNA, saya kira justru bisa membantu para mahasiswa dalam menentukan langkah masa depannya.hal ini tambah beliau merupakan sebuah bentuk tanggungjawab dari nya sebagai kajur TI untuk menerapkan standar mutu bagi para lulusannya supaia diakui di dunia kerja.


Baca Selengkapnya | Teknik Informatika UIKA Bogor, menjadi tempat Sertifikasi Badan Sertifikasi Nasional

Info Pendaftaran Mahasiswa Baru 2011: UIKA Bogor

Info Pendaftaran Mahasiswa Baru 2011: UIKA Bogor

Warta-UIKA : Pada bulan Juni 2011, ini UIKA membuka pendaftaran Bagi mahasiswa baru, melanjutkan dan pindahan. Gelombang ke-3.sebuah kesempatan yang cukup bagus bagi anda yang ingin mencari perguruan tinggi yang dekat, murah dan berkualitas, di daerah bogor, hal demikian di tuturkan oleh ketua tim promosi Ibu Endang, SH kepada azies-site, dia menambahkan pembukaan pendaftaran akan dilaksanakan pada hari senin, 1 Maret 2011 dan tutup pada 31 Angustus 2011, dengan pilihan fakultas yang beragam di UIKA , mahasiswa akan lebih leluasa untuk menentukan sendiri mana program yang cocok dan diminati untuk memlih Fakultas yang akan di tempati.


Adapun Fakultas yang tersedia di uika saat ini ada 5 Fakultas

Fakultas Teknik (4 Kejuruan)
(S1- Teknik Informatika, S1 -Teknik Mesin, S1-Teknik Sipil , S1 -Teknik Elektro)

Fakultas Agama Islam (5 Kejuruan)
(S1- Akhwal Al-Syahsiyah, S1 -Pendidikan Agama Islam, S1-Komunikasi Penyiaran Islam, S1 -Ekonomi Islam , S1-Pendidikan Guru Madrasah Iftidaiyah)

Fakultas Ekonomi ( 2 Jurusan S1 dan 1 Jurusan D3)
(S1 Managemen, S1 Akuntansi, D3 Keuangan dan Perbankkan)

Fakultas Keguruan dan ilmu pendidikan ( 2 Kejuruan)
(S1- Pendidikan Luar Sekolah, S1 Pendidikan Bahasa Inggris)

Fakultas Hukum ( 1 Kejuruan)
(S1- Ilmu Hukum)

Persaratan Pendaftaran
  • Membeli Formulir Pendaftaran
  • Foto copy Ijazah dan STNK
  • Transkip Nilai SMU, SMK, atau Sederajat
  • Fotocopy Ijazah dan transkip nilai Diploma yang telah di legalisasi ( 2 Rangkap dengan memperlihatkan Aslinya ( khusus untuk mahasiswa pindahan dan melanjutkan )
  • Pas Foto tebaru ukuran 3X4 (4 Lembar) dan 2X3 ( 2 Lembar)

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan kunjungi stand pendaftaran di:
Jl. KH. Sholeh Iskandar km.2 Bogor 16162
nformasi lebih lanjut hubungi Telp.0251-8356884, Fax.0251-8356884

Informasi Umum:

- FKIP (0251) 8336325 - FT (0251) 8380993
- FH (0251) 8316452 - Pascasrjana Magister Agama Islam (0251) 8373765
- FE (0251) 8357804 - LPPM (0251) 8354202
- FAI (0251) 8381437 - Pesantren Ulil Al Baab (0251) 8335894
Baca Selengkapnya | Info Pendaftaran Mahasiswa Baru 2011: UIKA Bogor

1 Jun 2011

GENERASI QURANI

GENERASI QURANI

M.Rais Ahmad


“ Sesungguhnya Kami telah menurunkan al Quran pada malam qadar (QS.97 :1)

“ Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya petunjuk bagi mereka
bertaqwa (QS.2:2)

Kita sudah sangat mengenal Kitab al Quran, mushaf, terjemahan dan tafsiran, kita dapat peroleh dengan mudah. Malahan cukup dengan VCD yang memuat 30 juz dengan suara dan terjemahannya. Sebagai orang yang beriman kita juga tak meragukan lagi kebenaran al Quran, apalagi dijelaskan pada QS.15:9 (al-Hijr): “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al Quran dan pasti kami pula yang memeliharanya”.

Persoalannya; sudahkan al-Quran itu menjadi petunjuk orang Islam? Petunjuk al-Quran bukan semata dibidang ibadah mahdloh dalam arti menjalin hubungan dengan Allah SWT secara vertikal semata, tetapi juga sekaligus petunjuk dalam amal sosial, bermuamalah dengan sesama manusia, bahkan dengan lingkungan alam meliputi hewan, tumbuh-tumbuhan dan segenap makhluk Nya di dunia ini. Petunjuk dalam semua aspek hidup dan kehidupan menuju rahmatan lilalamin, damai dan sejahtera lahir bathin, dunia akhirat! Sebagai petunjuk dalam hidup, seyogianya tiap langkah dan kegiatan kita disesuaikan dengan Quran dan berikut Sunnah Nabi sebagai juklak dan juknis.

Cara beribadah kita seperti shalat, puasa, zakat dan haji sudahkah sesuai dengan Quran dan Sunnah?. Jika sudah klop, maka pelaksanaan ibadah-ibadah itu akan berdampak positif dalam kehidupan umat dan bangsa ini. Sebagai contoh; shalat, QS 29:45 (al-Ankabut) ; “sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Sebanyak orang yang shalatnya sudah benar, berarti sebanyak itu pula perbuatan-perbuatan maksiyat dapat dihindari. Namun dalam kenyataan masih banyak kemaksiyatan terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Demikian pula kesadaran berzakat, berinfaq, bersodaqoh dan sebagainya. Sesungguhnya dapat menyelaraskan hubungan orang berpunya dengan orang yang tidak berpunya sehingga menghilangkan jurang perbedaan antara dua kelompok masyarakat itu. Demikian juga dampak positif berpuasa dan berhaji, semua akan membuat harmonis sesamanya dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Jika aspek ibadah vertikal beres, ditambah pula beresnya aspek muamalah (horizontal) maka kita yakin Rahmatan lil alamin, kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan hidup di masyarakat, bangsa dan pergaulan dunia akan dapat terwujud.

Bagaimana Al Quran menjadi petunjuk.

Mengetahui Al Quran sebagai petunjuk, baru sebatas pengetahuan yang dihasilkan akal pikiran. Untuk mendalami lebih lanjut diperlukan pemahaman dan penghayatan yang menjadi wilayah qalbu. Proses berikutnya barulah sampai ke wilayah amal, perbuatan dan perilaku. Proses tersebut diatas ternyata telah diajarkan pula oleh Al Quran melalui QS 96: 1-5 (Al Alaq) yang intinya pada perintah Allah untuk membaca! Membaca atas nama Tuhan; membaca tentang penciptaan diri manusia.

Dengan membaca maka Allah akan memberitahukan sesuatu yang belum diketahui menusia sebelumnya. Karena itu membaca adalah kuncinya ilmu. Sementara itu Nabi Muhammad Saw mewajibkan muslim laki laki dan wanita untuk menuntut ilmu sejak dari ayunan hingga menuju liang lahat! Jadi langkah awal untuk mengetahui Al Quran sebagai petunjuk dimulai dengan membacanya. Membaca Al Quran terus menerus tanpa henti. Tak ada hari tanpa membaca Al Quran. Dari situlah akan muncul keingin tahuan atas bacaan itu, kemudian datanglah kefahaman makna dan pengertian dari bacaan itu. Proses berikutnya menimbulkan keinginan untuk mengamalkannya dalam tingkah laku keseharian yang dinamakan akhlaq Qurani yang didambakan itu. Ketika belum berapa lama Muhammad Saw wafat, Aisyah r.a ditanya oleh para sahabat, bagaiman akhlaq Rasullah semasa hidup beliau, Aisyah r.a terdiam agak lama, lalu menjawab dengan tegas bahwa beliau berakhlaq Quran!
Inilah barangkali yang kita bayangkan mengenai Generasi Qurani itu?

( Alumni Ulil Albab, Dewan Penasehat ICMI, Mantan Rektor UIKA,Dll )
Baca Selengkapnya | GENERASI QURANI