Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

30 Des 2011

Indonesia masih membutuhkan banyak Insinyur (Sarjana Teknik)

Oleh : Nurdin Al-Azies

Dalam beberapa dekade ini, hampir setiap negara berkembang terus menggalakan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pasalnya mau tidak mau semua negara harus berkompetisi mempersiapkan diri menuju era perdagangan bebas dunia sesuai dengan General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) dan World Trade Organization (WTO), dimana era perdagangan bebas ini akan berdampak ganda, disatu sisi memberikan peluang kerja seluas-luasnya antar negara, namun disisi lain meberikan persaingan yang semakin ketat. Oleh karena itu tatangan dimasa mendatang adalah meningkatkan daya saing dan keunggulan kompetitif disemua sektor industri dan sektor jasal.

Melihat kenyataan inilah, menurut direktur ekskutif, persatuan Insinyur Indonesia (PII), Rudianto, Jumlah lulusan S1 Teknik masih minim di Indonesia, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Dalam kurun waktu 2011 ini jumlah lulusan S1 teknik hanya tercatat sekitar 37 ribu. Sedangkan kebutuhannya bisa mencapai dua kali lipatnya, artinya Indonesia harus meningkatkan sarjana tekniknya sekitar 50 persen dalam jangka waktu lima tahun kedepan.

Sementara ketika media mengkonfirmasi mengenai sejauh mana universitas meluluskan sarjana-sarjana tekniknya, tanggapannya sama, lulusan teknik dilihat lebih sedikit ketimbang lulusan-lulusan program-program keahlian yang lainnya. Contoh saja di Universitas Ibn Khaldun Bogor, tahun ini UIKA meluluskan 630 Mahasiswa, akan tetapi lulusan mahasiswa Fakultas teknik Universitas Ibn Khadun Bogor jauh lebih sedikit dari pada lulusan-lulusan fakultas lainnya di Universitas yang berkedudukan di Bogor ini.

Tahun ini Fakultas Teknik UIKA hanya meluluskan 19 Sarjana Teknik, dengan rincian 9 Sarjana dari Program studi Teknik Sipil, 4 Sarjana dari Program studi Teknik Mesin, 1 Sarjana dari Program studi Teknik Elekto dan 5 Sarjana dari Program studi Teknik Informatika.

Padahal Menurut Staff Ahli Mentri Bidang Teknologi Prof Kamalamullah Ramly sesuai di kutif dari Harian Republika (Jumat, 30/12/11) bahwasannya pendidikan sains dan technologi mampu meningkatkan daya saing bangsa, ia mengatakan insinyur itu tulang punggung kemajuan ekonomi sebuah bangsa. Apalagi, melihat fakta saat ini, Indonesia harus bergeser peran dari penghasil bahan baku, menjadi prdusen berbasis teknologi.

“Ketika kita masuk teknologi, kita butuh insinyur dalam jumlah yang sangat banyak Vital menurut saya, makanya kita harus produksi insinyur dalam arti sebenarnya, jangan S1 insinyur tapi S2 nya lain lagi”, Ujar ramly dalam seminar Nasional Meningkatkan Daya Saing Bangsa melalui Pendidikan Sains dan Teknologi, di Auditorium Institut Sains Teknology Nasional (ISTN) Bumi Srengseng Indah, Jakarta selatan penan lalu.
Baca Selengkapnya | Indonesia masih membutuhkan banyak Insinyur (Sarjana Teknik)

8 Okt 2011

SURAT CINTA UNTUK PEJUANG



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh…

Teruntuk saudaraku, pejuang kebenaran, Generasi Inspirasi yang tak kenal rasa gentar dan tak peduli lelah.
Generasi Intelektual Pembangun Peradaban Indonesia........

Tak terasa Dzat Yang Maha Kuasa masih mengizinkan kita menginjak waktu dalam dimensi yang sama, namun untuk tingkatan yang berbeda dalam sebuah perjalanan panjang, bernama kehidupan…
Masih segar dalam ingatan ketika pertama kali menginjakkan kaki di bumi kampus UIKA tercinta ini, ada banyak hal yang harus kita raih, ada banyak dinamika hidup yang telah menghiasi kehidupan kita, ada banyak kenangan indah bahkan kenangan pahit pun turut menjadi bumbu indahnya perjuangan ini.
Namun kini, ketika suatu medan perjuangan terhampar luas di hadapan kita, tak bisa dipungkiri bahwa keinginan hati kita untuk mundur dan meninggalkan medan perang…Manusiawi sekali jika kita terbesit pikiran seperti itu. Namun, pernahkah kita berfikir apakah diri ini hanya milik kita pribadi ???
Saudaraku, wahai Generasi Inspirasi,.. dalam jiwa ini terkandung banyak hak untuk orang tua, kakak, adik, saudara-saudara di sekeliling kita, masyarakat, bangsa, dan negara… Mereka mempunyai hak atas kita, mereka berhak menuntut kerja nyata dari kepedulian kita! !
Saudaraku,. Kita menyadari bahwa jalan yang kita tempuh ini adalah jalan yang penuh dengan berbagai macam rintangan, godaan, dan gangguan. Kita sadar bahwa perjuangan ini sangat membutuhkan banyak pengorbanan, baik waktu, harta, bahkan jiwa kita. Namun demikian, perjuangan ini tak akan berhenti sampai disini, perjuangan kita masih sangat panjang.
Berbahagialah saudaraku,karena kita masih diberikan kesempatan dan kekuatan untuk bisa bermanfaat bagi manusia yang lain, karena kita sadar bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling besar kontribusinya dan paling bermanfaat bagi orang lain.
Saudaraku, sekarang inilah saatnya kita memberi bukan selalu saja ingin menerima, saling berbagilah dengan saudara-saudara yang lain..berikanlah kontribusi terbaik kita untuk UIKA, dan Bangsa Indonesia untuk kemudian kita persembahkan dengan ikhlas hanya kepada Allah pemilik segala urusan kita. Kita menyadari bahwa diri ini banyak kekurangan, tapi berusahalah untuk terus memberikan kontribusi terbaik sejauh yang kita mampu. Dan tentunya dengan saling menguatkan satu sama lain sebagaimana berada dalam barisan yang teratur seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Bersyukurlah karena masih tertancap kuat dalam hati kita dan mengalir deras bersama darah kita sebuah ideologi kebaikan. Apapun itu simbol nya, untuk kemudian kita terjemahkan dalam amal-amal besar perjuangan yang dibungkus dengan rasa keikhlasan dan ikatan persaudaraan sehingga kita bersedia berjuang dan masuk dalam barisan pejuang-pejuang yang rela hidup mulia atau mati sebagai syuhada yang tergabung dalam Almamater Mahasiswa UIKA Bogor. Yakinlah ketika kita telah membulatkan tekad dan mengikhlaskan niat kita untuk berkontribusi kebaikan bagi UIKA, dan bangsa ini, maka kita pun telah siap untuk menjadi Generasi Intelektual Pembangun Peradaban Indonesia, kita telah siap menjadi Pahlawan-pahlawan Indonesia,..seorang pahlawan yang tidak peduli apakah namanya akan dicatat dalam sejarah atau setelah mati akan dimakamkan di taman makam pahlawan, tetapi yang menjadi motivasinya adalah bagaimana meraih posisi terhormat di hadapan Allah SWT.
Bergegaslah saudaraku, genderang perjuangan akan segera ditabuh, bukan perang melawan kawan satu Almamater, Bukan Perang melawan Kawan Seagama, tetapi perang untuk mencapai kemenangan itu..bersama mengukir sejarah membangun peradaban menuju kejayaan Indonesia.
Apapun Ideologi yang kita Usung, Apapun bendera Organisasi yang kita kibarkan, Kita harus mengatur strategi perjuangan yang terbaik. Hanya orang-orang ikhlaslah yang sudi untuk menambatkan hatinya dalam medan perjuangan di Kampus yang kita cintai Kampus Universitas Ibn Khaldun Bogor.
“Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang memiliki naluri kepahlawanan. Para pahlawan muncul pada situasi dan kondisi yang sulit atau sengaja dilahirkan dalam situasi dan kondisi yang sulit. Sejarah kepahlawanan muncul pada saat mereka mampu merespon tantangan-tantangan kehidupan yang berat. Pada setiap tantangan pasti ada jawaban. Dari respon itu akan lahir amal-amal besar...

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh..

Terimakasin Untuk kawan ku yang pernah saya kenal dan yang selalu saya kenang. Dari kalian lah inspirasi besar hidup ini.

dari sahabat mu :
Nurdin Al-Azies (Redakur Warta UIKA)
Baca Selengkapnya | SURAT CINTA UNTUK PEJUANG

Kedewasaan adalah karakter.


Sering kita mencari-cari definisi dari sebuah kedewasaan, akan tetapi sering kali pula kita terbentur dengan jawaban-jawaban yang memusingkan dahi kita, berkata kedewasaan terkadang berhubungan dengan faktor usia, sudah berapa lama kita hidup didunia, atau bertanya berapa usia kita saat ini, jika angka nya tinggi, angka itulah yang akan mewakili nilai dari sebuah kedewasaan yang kita miliki.

Akan tetapi ketika kita melihat realitas yang ada saat ini yang terjadi didalam kehidupan kita, mungkin teori diatas bisa terbantahkan, bahwasannya faktor usia bukan merupakan satu-satunya faktor penghitung nilai kedewasaan seseorang. Lantas sesungguhnya apa arti kedewasaan itu? Dan bagaimana cara mengukur tingkat kedewasaan seseorang ?
Nah, inilah yang akan coba saya bahas dalam tulisan pada kesempatan ini, yang merupakan salah satu ringkasan dari mentoring bisnis rutinan yang saya ikuti.

Satu ungkapan awal yang saya catat pertama kali dari pertemuan pada kesempatan itu adalah :
“Kedewasaan itu bagaikan melihat kubus dari 6 sisi” apa artinya, artinya adalah orang bisa di katakan dewasa apa bila dia mampu melihat suatu permasalahan yang dihadapinya dari berbagai sudut, tidak hanya dari sudut pandang dirinya sendiri. Dia bisa memiliki sifat netral dan menjadi penengah terhadap berbagai konflik yang ada, dia mampu mengendalikan emosionalnya dari berbagai interpensi dengan tujuan agar bisa menyelesaikan suatu permasalahannya dengan lebih elegan dan dan intelek.

Mampu mengatasi masalah dengan pengendalian emosi yang baik, cepatan, tepatan dan akuratan adalah salahsatu tanda bahwasanya seseorang bisa dikategorikan memiliki sifat kedewasaan yang tinggi, ketika otot tidak mendominasi otaknya, maka inilah sifat dari kedewasaan itu.

Tolak ukur nya ada pada bagaimana dia bersikap terhadap permasalahan yang dihadapi, usia bukanlah tolak ukur yang tepat untuk menilai orang itu dewasa atau tidak.
Intinya kedewasaan adalah “ karakter”.

Semakin seseorang di hadapkan pada masalah-masalah yang memuntut untuk diselesaikan, maka akan semakin cepat dia mencapai kedewasaannya, artinya untuk mengakselerasi kedewasaan yang kita miliki, hendaknya kita hidup berada pada lingkungan dinamis, yang ketika orang-orang standar hanya sibuk memikirkan masalah hatinya, seseorang yang hebat, dia justru pada kesempatan yang sama sedang sibuk mencari solusi besar yang dampaknya tidak hanya berguna bagi dirinya sendiri, akan tetapi jauh dari pada itu dampaknya berpengaruh terhadap umat.

Maka ada satu pepatah mengatakan, “ berbahagialah orang-orang yang setiap harinya menghadapi masalah, karena dengan masalah itulah kita mendapatkan berbagai solusi”.
Dari solusi yang kita hadapi inilah kita belajar mengenai kedewasaan, semakin stabil dalam menghadapi masalah maka akan semakin kita terlihat dewasa, walau dalam kenyataannya usia yang kita miliki masih terhitung belasan tahun. Akan tetapi kembali kepada faktor-faktor kedewasaan diatas, faktor usia bukanlah faktor yang paling dominan dalam menentukan seberapa tinggi kedewasaan kita. Olak
Karakter kita lah nantinya yang akan menjadi tolak ukur apakah kia sudah dewasa atau tidak dalam segala hal.
Baca Selengkapnya | Kedewasaan adalah karakter.

19 Jul 2011

KETIKA KUBUR MENASIHATI CALON PENGHUNINYA

KETIKA KUBUR MENASIHATI CALON PENGHUNINYA
M.Rais Ahmad

Setelah jenazah diletakkan di lubang sempit seukuran jazad, kemudian penggali kubur menutup dengan tanah bekas galian itu, nisan sementara berupa papan yang ditulisi nama, tanggal lahir dan tanggal wafat si mayit, gundukan tanah itu ditempeli potongan potongan rumput untuk menutupi tanah yang masih basah itu. Para pengantar jenazah masih menyempatkan berdoa terutama mendoakan almarhum, kadang kadang didahului dengan sambutan dari sohibul musibah dilanjutkan dengan wakil instansi bekas tempat almarhum bekerja semasa hidupnya atau ditambah lagi dari teman teman sejawatnya. Usai semua prosesi pemakaman , satu per satu mereka meninggalkan areal pemakaman dengan pikiran dan perasaannya masing-masing. Tinggallah sosok tubuh yang telah terpisah dengan ruhnya tergolek di lubang sempit yang telah ditutupi tanah yang ditaburi serpihan kembang aneka ragam warna warni di atas permukaannya. Kuburan, adalah terminal awal dalam perjalanan jauh anak manusia untuk kembali menuju ke kampung halaman asalnya yaitu kampung akhirat nun jauh disana.

Lamat-lamat ruh si mayit teringat untaian nasihat kubur yang pernah didengarnya dari salah seorang ustadz dalam pengajian yang ia hadiri semasa hidupnya. Memang betul apa yang dinyatakan oleh kubur bahwa ia tempat yang paling gelap. Ternyata ketika penggali kubur usai menimbun kuburannya, tak sedikitpun cahaya masuk ke dalam, semua dalam keadaan gelap gulita. Ketika kubur menyatakan bahwa ia adalah tempat yang paling sempit, ternyata tak ada celah tempat yang longgar bagi jasad yang terbaring di dalamnya. Kepala, ujung kaki dan tubuhnya yang diposisikan miring menghadap kiblat sangat pas dengan rongga tanah yang disisakan di bawah bambu yang tersusun di langit-langit sepanjang kuburan itu. Bila kubur menyatakan bahwa tempatnya paling sepi, maka ketika anak-anak, isteri/suami, saudara, kerabat, teman dan sahabatnya baru saja beramai-ramai mengantarkan jenazahnya semua telah kembali ke tempatnya masing-masing, tinggallah jazad dan ruhnya sendirian dalam kegelapan dan tempat yang teramat sempit. Bermunculan kemudian binatang-binatang penghuni tanah yang menjijikkan dan yang berbisa serta menyeramkan mengerubuti sosok mayat yang baru untuk dijadikan santapan lezat sebagai rezki untuk penyambung hidup mereka. Tidak berapa lama terdengar suara yang sangat mengagetkan diikuti kehadiran dua malaikat Munkar, Nakir dengan tegas melaksanakan perintah Allah menanyai ruh yang telah terpisah dari jazadnya.

Apa yang dinyatakan oleh kubur yang pernah ia dengar dari ustadz dulu sungguh kini menjadi kenyataan. Sebuah pengalaman baru yang tak pernah terbayang dan terpikirkan secara sungguh-sungguh semasa hidupnya, Cuma terlintas saja dalam pikiran, tak pernah direnungkan, apalagi dibayangkan bakal terjadi seperti pengalaman pertamanya hari ini. Berapa lama kiranya keadaan ini akan dialaminya, dia juga tak pernah ingin tahu selama ini. Yang jelas akan jauh lebih lama dari umurnya semasa hidup di dunia.

Jika di tempat ini merupakan terminal awal dari perjalanan jauh anak manusia kembali kehadirat Tuhannya, maka tahap berikutnya adalah hari kebangkitan setelah terjadinya kejadian yang teramat dahsyat menimpa dunia dan semua penghuninya yaitu hari kiamat kubro. Pada hari kebangkitan ini semua manusia di alam kubur dibangkitkan lagi untuk menghadapi hari perhitungan, semacam hari evaluasi diri pada masing-masing pribadi manusia. Seluruh umat manusia sejak zaman Nabi Adam A.S sampai umat Nabi Muhammad Saw yang terakhir menerima ajalnya di dunia. Semua bergerak menuju Pengadilan Allah SWT. untuk mempertanggungjawabkan segalanya, apapun yang diucapkan, yang dilakukan dan yang tidak dilakukan oleh masing-masing diri pribadi manusia. Pada waktu itu tak ada gunanya lagi anak laki-laki yang dibangga banggakan semasa di dunia, karena masing masing sibuk mempertanggungjawabkan amalnya sendiri-sendiri. Tak ada gunanya harta berlimpah yang dikumpulkan selama di dunia siang malam, begitupun pangkat dan jabatan serta kedudukan tinggi yang mati matian diperjuangkan selama di dunia, tak ada yang dapat menolong dirinya. Masing-masing diri hanya bertanggungjawab atas amalnya sendiri.

Bisakah kita mempertanggungjawabkan semua amal kita selama hidup yang singkat di dunia ini? Semua sangat tergantung atas kualitas amal itu sendiri! Jika yang kita lakukan melulu amal shaleh yang dilandasi aqidah dan iman yang lurus dan kokoh, insya Allah perjalanan berikutnya menuju hari pembalasan selamat dalam rahmat dan kasih sayangNya dan mendapatkan balasan karunia surga, sebaik-baik tempat dan kekal di dalamnya. Tetapi, apabila selama di dunia amal yang dilakukan tergolong perbuatan maksiyat, mendustakan ayat-ayatNya, melalaikan perintah dan melecehkan laranganNya, apa lagi berusaha menghalangi manusia berbuat baik dan mendorong berbuat maksiyat dan menyatakan bahwa kejadian pada hari akhirat itu sekedar cerita dongeng belaka, kemudian ketika sampai ajalnya tak pernah melakukan pertobatan yakni tobat nasuha, maka jangan katakan Allah itu mendzaliminya jika kelak ia menerima balasan yang terburuk yakni neraka jahannam dan tinggal di dalamnya selama-lamanya. Itulah hasil akhir yang diperoleh dari amal dan perbuatan nista, khianat dan pembangkangan terhadap perintah dan larangan Allah selama hidupnya di dunia yang fana.

Sebagai penutup, nasihat yang amat berharga dari kubur adalah bagaimana manusia dapat mengatasi gelapnya dalam kubur adalah dengan cara membiasakan shalat tahajut. Mendawamkan bangun pada dua per tiga malam untuk menunaikan ibadah tambahan menegakkan shalat tahajut dengan khusyu’, di saat orang lain tidur nyenyak. Insya Allah dengan membiasakan mengikuti ibadah sunnah para Nabi dan orang orang shaleh itu, kelak kuburan kita menjadi terang benderang atas karunia Allah. Setelah kuburan kita dipenuhi cahaya surga, nasihat kubur berikutnya adalah keluar dari kesempitan yang mencekik dengan banyak melaksanakan silaturrahim, mengembangkan hubungan baik dengan sesama manusia, hablum minan nas secara horizontal yang dilandasi hubungan yang telah terjalin baik dengan Allah Swt. hablum minallah. Menyambung silaturrahmi diikuti dengan berbuat baik sesamanya, paling sedikit bermuka cerah dan memberikan senyum dengan tulus. Untuk dapat meramaikan kesepian kubur, dinasihatkannya agar seringlah membaca Al Qur’an. Jadikan ia bacaan harian. Tak ada hari tanpa baca dan mendalami Al Qur’an. Pendalaman disertai penghayatan dan diam-diam kita laksanakan perintahnya dan kita jauhi perbuatan yang dilarangannya. Langkah lanjutannya, kita mulai menghafalnya sedikit demi sedikit menurut kemampuan dan mencoba menerapkan semboyan : one day one ayat. Untuk meracuni binatang-binatang berbisa yang berusaha mendekati jasad yang telah ditinggal ruhnya itu, kubur telah menasihatkan agar kita banyak berinfaq dan bersodaqoh setelah zakat kita tunaikan. Di sekitar kita masih banyak saudara kita yang memerlukan bantuan dan pertolongan. Kemauan menolong dan peduli sesamanya perlu ditumbuhkan dalam tiap diri kita dan sedapat-dapatnya keinginan menolong sesamanya itu ditularkan kepada anak dan keturunan kita.

Ketika tujuh langkah para pengantar jenazah telah berlalu dari kuburan, konon malaikat Munkar Nakir datang menghampiri ruh yang telah berpisah dari jasadnya dan menanyakan sekitar aqidah dan keimanan kita. Nasihat kubur adalah, agar kita membaca kalimat tauhid: Laa ilaha illallah terus menerus selama hidup. Usahakan agar ucapan terakhir, ketika ruh kita keluar secara bersamaan kitapun mengucapkan kalimat itu. Agar tercapai akhir yang baik, husnul khatimah maka kesempatan kita yang masih hidup ini harus kita gunakan sebaik-baiknya untuk membiasakan mengucapkan kalimat tauhid itu baik dalam keramaian maupun dalam keadaan sendiri, di kala senang maupun susah, di kala sehat maupun sakit, pagi dan petang sehingga menjadi kebiasaan selama hidup ini. Insya Allah menjelang sakratul maut, kalimat itu pula yang akan terucap. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Baca Selengkapnya | KETIKA KUBUR MENASIHATI CALON PENGHUNINYA

Jiwa Enterpreneurship dan leadership dari Sang Teladan

Jiwa Enterpreneurship dan leadership dari Sang Teladan


Hal yang patut menjadi renungan kita sebagai Umat Islam saat ini adalah, kita dilahirkan sebagai umat yang mayoritas di negri ini, akan tetapi kerkadang kita malah bagaikan budak dari para kaum musrikin yang menjadi penguasa yang tak ada upaya serta kekuatan melainkan kita hanya bisa mengangguk-anggukan kepala saja dan menurut kepada semua perintah atasan.
Atas dasar kebutuhan, kita rela menunda nunda ibadah hanya karena lebih mementingkan sebuah kredibilitas diri sebagai karawan yang teladan dimata bos. Sesungguhnya hal inilah yang menjadi ironi, dan jika berkelanjutan bukan saja umat Islam akan jadi budak kaum jahil, akan tetapi Islam akan terus terkerdilkan oleh keadaan seperti ini.

Apakah yang menjadikan kita seperti ini, tak lain karena kita kurang respek untuk mempelajari pelajaran mengenai leadership dan manajerial. Kita lebih fokus pada life skill atau kemampuhan bagai mana cara bekerja dengan baik, kita lebih senang jika dibilang sebagai staff ahli ketimbang disebut sebagai seorang seorang manajer.

Kelemahan leadership dan manajerial ini ternyata dapat kita telusuri dengan mengamati bagaimana pemahaman umat tentang sifat Rasulullah SAW. Diantara titik-titik yang kurang tersentuh secara maksimal adalah bagaimana umat Islam mempelajari masa muda Rasulullah SAW sebelum menjadi nabi.

Dari beberapa literatur yang didapat, betapa jiwa entrepreneurship Rasulullah di bidang wirausaha begitu mendominasi, sehingga beliau berkembang menjadi seorang pemimpin yang memiliki jiwa entrepreneur, dan keterampilan manajemen yang baik untuk mengelola sebuah dakwah, sebuah sistem yang bertata nilai kemuliaan Islam.
Pada waktu Rasulullah masih kecil, beliau sudah mempunyai sebuah proyek untuk menjaga kehormatan harga dirinya agar tidak menjadi beban bagi kehidupan ekonomi pamannya, Abu Thalib, yang memang tidak tergolong kaya. Beliau mendapat upah dari menggembalakan beberapa ekor kambing miliki orang lain, yang secara otomatis mengurangi biaya hidup yang harus ditanggung oleh pamannya ini.

Pada usia 12 tahuan, sebuah usia yang relatif muda, beliau melakukan perjalanan dagang ke Syiria bersama Abu Thalib. Beliau tumbuh dewasa di bawah asuhan pamannya ini dan belajar mengenai bisnis perdagangan darinya. Bahkan ketika menjelang dewasa dan menyadari bahwa pamannya bukanlah orang berada serta memiliki keluarga besar yang harus diberi nafkah, Rasulullah mulai berdagang sendiri di kota Mekkah.

Bisnisnya diawalai dengan sebuah perdagangan taraf kecil dan pribadi, yaitu dengan membeli barang dari satu pasar dan menjualnya kepada orang lain. Aktivitas bisnis lainnya dengan sejumlah orang di kota Mekkah pun dilakukan. Dengan demikian ternyata Rasulullah telah melakukan aktivitas bisnis jauh sebelum beliau bermitra dengan Khadijah. Dan inilah yang membuahkan pengalaman yang tak ternilai harganya dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan pada diri Rasulullah.

Ciri yang sangat khas dari aktivitas bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah waktu itu adalah beliau sangat terkenal karena kejujurannya dan sangat amanah dalam memegang janji. Sehingga tidak ada satupun orang yang berinteraksi dengan beliau kecuali mndapat kepuasan yang luar biasa. Dan ini merupakan sebuah nuansa dengan pesona tersendiri bagi warga Jazirah Arab. apalagi kemuliaan akhlaknya seakan menebarkan pesona indah kepribadiannya.
Pun ketika beliau tidak memiliki uang untuk berbisnis sendiri, ternyata beliau banyak menerima modal dari orang-orang kaya Mekkah yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana mereka, dan menyambut baik seseorang yang jujur untuk menjalankan bisnis dengan uang yang mereka miliki berdasarkan kerjasama. Tiada lain karena sejak kecil Rasulullah telah dikenal oleh penduduk Mekkah sangat rajin dan penuh percaya diri. Dikenal pula oleh kejujuran dan integritasnya dibidang apapun yang dilakukannya. Tak berlebihan bila penduduk Mekkah memanggilnya dengan sebutan Shiddiq (jujur) dan Amin (terpercaya).

Salah seorang pemiliki modal itu adalah Khadijah, yang kelak menjadi istri beliau, yang menawarkan suatu kemitraan berdasarkan sistem bagi hasil (profit sharing). Dan, subhanallaah, kecakapan Rasulullah dalam berbisnis telah mendatangkan keuntungan, dan tidak satupun jenis bisnis yang ditanganinya mendapat kerugian. Selama bermita dengan Khadijah inilah Rasulullah telah melakukan perjalanan dagang ke pusat bisnis di Habasyah (Ethiopia) dan Yaman. Beliau pun empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syria dan Jorash.
Diantara hal yang terus menerus harus kita teladani dari Rasulullah dalam interaksi bisnisnya adalah beliau sangat menjaga nilai-nilai harga diri, kehormatan, dan kemuliannya dalam proses interaksi bisnisnya ini. Bisnis bagi Rasulullah SAW tidak hanya sebatas perputaran uang dan barang, tapi ada yang lebih tinggi dari semua itu, yaitu mejaga kehormatan diri. Sehingga keuntungan apapun dari setiap transaksi yang beliau dapatkan, maka kemuliaannya justru semakin menjulang tinggi. Semakin dihormati, semakin disegani dan ini menjadi aset tak ternilai harganya yang mendatangkan kepercayaan dari para pemilik modal.

Dengan kata lain, modal terbesar dari seorang yang menjadi pengusaha sukses, pemimpin sukses, atau ilmuwan sukses dalam disiplin ilmu apapun, ternyata jiwa entrepreneur ini harus dikembangkan sejak awal. Pembangunan harga diri, pembangunan etos kerja, pembangunan karir kehormatan sebagai seorang jujur yang terbukti teruji dan sangat amanah terhadap janji-janji, jikalau hal ini ditanamkan, dilatih sejak awal maka akan membuahkan kepribadian yang sangat bermutu tinggi dan ini menjadi bekal kesuksesan bekerja dimanapun atau kesuksesan mengemban amanah jenis apapun.

Dan yang paling perlu digaris bawahi, Rasulullah SAW mengadakan transaksi bisnis sama sekali tidak untuk memupuk kekayaan pribadi, tetapi justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnisnya dengan etika yang tinggi dan hasil yang didapat justru untuk didistribusikan ke sebanyak umat. Sehingga kesuksesannya mampu membawa banyak dampak positif, yaitu kesuksesan dan kesejahteraan bagi umat yang lainnya. Dan inilah yang menyebabkan kepribadian junjungan kita, Rasullah SAW begitu monumenatal, baik dalam mencari nafkah maupun dalam menafkahkan karunia rizki yang diperolehnya.

Semoga kita semua mampu merenungi kejujuran diri, amanah, dan kegigihan dalam menjaga kehormatan harga diri kita selaku umat Islam.***

Oleh : Nurdin Al Azies
CEO Centra Kreatifitas Mahasiswa
Referensi : Tausiyah AA GYM
Baca Selengkapnya | Jiwa Enterpreneurship dan leadership dari Sang Teladan

1 Jun 2011

GENERASI QURANI

GENERASI QURANI

M.Rais Ahmad


“ Sesungguhnya Kami telah menurunkan al Quran pada malam qadar (QS.97 :1)

“ Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya petunjuk bagi mereka
bertaqwa (QS.2:2)

Kita sudah sangat mengenal Kitab al Quran, mushaf, terjemahan dan tafsiran, kita dapat peroleh dengan mudah. Malahan cukup dengan VCD yang memuat 30 juz dengan suara dan terjemahannya. Sebagai orang yang beriman kita juga tak meragukan lagi kebenaran al Quran, apalagi dijelaskan pada QS.15:9 (al-Hijr): “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al Quran dan pasti kami pula yang memeliharanya”.

Persoalannya; sudahkan al-Quran itu menjadi petunjuk orang Islam? Petunjuk al-Quran bukan semata dibidang ibadah mahdloh dalam arti menjalin hubungan dengan Allah SWT secara vertikal semata, tetapi juga sekaligus petunjuk dalam amal sosial, bermuamalah dengan sesama manusia, bahkan dengan lingkungan alam meliputi hewan, tumbuh-tumbuhan dan segenap makhluk Nya di dunia ini. Petunjuk dalam semua aspek hidup dan kehidupan menuju rahmatan lilalamin, damai dan sejahtera lahir bathin, dunia akhirat! Sebagai petunjuk dalam hidup, seyogianya tiap langkah dan kegiatan kita disesuaikan dengan Quran dan berikut Sunnah Nabi sebagai juklak dan juknis.

Cara beribadah kita seperti shalat, puasa, zakat dan haji sudahkah sesuai dengan Quran dan Sunnah?. Jika sudah klop, maka pelaksanaan ibadah-ibadah itu akan berdampak positif dalam kehidupan umat dan bangsa ini. Sebagai contoh; shalat, QS 29:45 (al-Ankabut) ; “sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Sebanyak orang yang shalatnya sudah benar, berarti sebanyak itu pula perbuatan-perbuatan maksiyat dapat dihindari. Namun dalam kenyataan masih banyak kemaksiyatan terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Demikian pula kesadaran berzakat, berinfaq, bersodaqoh dan sebagainya. Sesungguhnya dapat menyelaraskan hubungan orang berpunya dengan orang yang tidak berpunya sehingga menghilangkan jurang perbedaan antara dua kelompok masyarakat itu. Demikian juga dampak positif berpuasa dan berhaji, semua akan membuat harmonis sesamanya dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Jika aspek ibadah vertikal beres, ditambah pula beresnya aspek muamalah (horizontal) maka kita yakin Rahmatan lil alamin, kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan hidup di masyarakat, bangsa dan pergaulan dunia akan dapat terwujud.

Bagaimana Al Quran menjadi petunjuk.

Mengetahui Al Quran sebagai petunjuk, baru sebatas pengetahuan yang dihasilkan akal pikiran. Untuk mendalami lebih lanjut diperlukan pemahaman dan penghayatan yang menjadi wilayah qalbu. Proses berikutnya barulah sampai ke wilayah amal, perbuatan dan perilaku. Proses tersebut diatas ternyata telah diajarkan pula oleh Al Quran melalui QS 96: 1-5 (Al Alaq) yang intinya pada perintah Allah untuk membaca! Membaca atas nama Tuhan; membaca tentang penciptaan diri manusia.

Dengan membaca maka Allah akan memberitahukan sesuatu yang belum diketahui menusia sebelumnya. Karena itu membaca adalah kuncinya ilmu. Sementara itu Nabi Muhammad Saw mewajibkan muslim laki laki dan wanita untuk menuntut ilmu sejak dari ayunan hingga menuju liang lahat! Jadi langkah awal untuk mengetahui Al Quran sebagai petunjuk dimulai dengan membacanya. Membaca Al Quran terus menerus tanpa henti. Tak ada hari tanpa membaca Al Quran. Dari situlah akan muncul keingin tahuan atas bacaan itu, kemudian datanglah kefahaman makna dan pengertian dari bacaan itu. Proses berikutnya menimbulkan keinginan untuk mengamalkannya dalam tingkah laku keseharian yang dinamakan akhlaq Qurani yang didambakan itu. Ketika belum berapa lama Muhammad Saw wafat, Aisyah r.a ditanya oleh para sahabat, bagaiman akhlaq Rasullah semasa hidup beliau, Aisyah r.a terdiam agak lama, lalu menjawab dengan tegas bahwa beliau berakhlaq Quran!
Inilah barangkali yang kita bayangkan mengenai Generasi Qurani itu?

( Alumni Ulil Albab, Dewan Penasehat ICMI, Mantan Rektor UIKA,Dll )
Baca Selengkapnya | GENERASI QURANI

26 Mei 2011

Bahkan mata saja bisa membohongimu..!

Suatu ketika ada seorang gadis, yang selalu menangis dan membenci semua orang yang selalu melihat kekurangan dia. hampir setiap hari diamengeluh.. karena kekurangan yang ada pada dirinya.

Dia buta semenjak usia 6 tahun karena kecelakaan, selama itu lah hingga kini usianya menginjak 20 tahun dirinya tak mau berinteraksi dengan orang lain, alasanya karena dia takut di ejek. Ia beranggapan semua orang yang ada adalah orang yang jahat, kecuali seseorang yang selalu setia menemaninya dengan penuh kasih-sayang dan penuh perhatian. hanya teman pria satu-satunyalah yang menurut dia orang yang bisa mengerti keadaan pisik nya.


hingga suatu ketika dia bersumpah:
"andai saja saya diberikan KESEMPATAN untuk bisa melihat semua isi dunia ini, yang pertama kali yang akan saya lihat adalah pria yang selalu setia menemani saya"

Suatu saat apa yang ia inginkannya terkabul, ada seseorang yang rela menyumbangkan sepasang matanya kepada gadis itu, dan gadis itupun bisa melihat kembali dengan normal.

Setelah menjalani operasi dan kini dia mampu melihat lagi, dia teringat akan janjinya yang pernah diucapkan, orang yang pertama yang ingin dia lihat di dunia ini adalah satu-atunya laki-laki yang selalu ada disampingnya penuh perhatian.

Akan tetapi betapa kaget dan shoknya dia, ketika dia melihat orang yang selama ini ada disisinya, ternyata keadaannya sama dengan dia, matanya buta dan tidak bisa melihat.

ketika sang pria tersebut bicara, bagaimana...! kini kamu sudah bisa melihat isi dunia ini, dan kini kamu bisa melihat saya.. apa kah kita bisa menikah..! tanya pria yang selama ini selalu setia menemani gadis itu.

apa yang menjadi jawaban gadis itu !

dia menolak,denagn nada bicara yang menyakitkan " kini saya sudah bisa melihat, apa mungkin saya bisa menikahi orang yang buta sperti anda ?

pria itupun pergi dengan rasa hati yang begitu sakit, ia hanya bisa meneteskan air mata.

hingga kemudian dia mengirimkan surat kepada gadis itu yang berisi

  • " Tolong, jaga sepasang mata yang saya berikan untuk mu..!

_____________________________________________________________________________

( Kisah ini, menggambarkan bagaimana sifat dari seseorang yang tidak pernah berterimakasih kepada apa pun yang ia miliki, karena terlalu fokus pada kekurangan yang dia punya. manusia bisa berubah, baik sifat dan prilaku apalagi dalam keadaan dia jaya. hanya sedikit manusia yang mampu mengingat bagaimana keadaan dia sebelummnya, dimana dia ada dalam kesulitan dan kenistaan )

Semoga Kita mendapatkan pelajaran dari kisah yang satu ini.

Semoga Bermanfaat...!

Nurdin Al Azies

Baca Selengkapnya | Bahkan mata saja bisa membohongimu..!

24 Mei 2011

Dibalik cerita Ustadz Sabun Mandi , dari papua

Sahabat, satu lagi kisah inspirasi yang saya temukan dari sosok da’i yang luar biasa dari papua.

Dibalik cerita yang dia kemukakan, terkandung sebuah insfirasi dan motifasi besar untuk diri ini.

Ternyata perjuangan yang kita lakukan demi dakwah ini, tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan perjuangan mensyiarkan Islam dari orang yang ada disamping saya ini.

Betapa tidak, untuk sebatas wilayah kampus saja, terkadang terasa begitu berat, banyak sekali kata-kata mengeluh terlontar dari mulut ini, hanya karena setitik rintangan yang dihadapi. Ya Raab terimakasih kau telah memberikan insfirasi ini untuk hamba.

Sahabat, kini saya akan membagi cerita insfirasi ini untuk anda, agar andapun bisa merasakan motivasi dan insfirasi dari pengalaman saya bertemu Ustadz yang sering dijuluki ustadz sabun mandi ini, sehingga beliau di nobatkan sebagai salah-satu tokoh perubahan untuk indonesia versi Republika Tahun 2010.

Inilah sedikit kisah yang saya dapatkan dari beliau.

Papua, dikenal sebagai salah satu penghasil emas terbesar di dunia. Tak hanya emas, sumber daya alam lainnya pun melimpah. Bumi cenderawasih begitu kaya. Tapi ternyata, kekayaan itu tidak mengangkat derajat hidup masyarakat di sana. Mayoritas masyarakat masih hidup miskin, bahkan sebagaian besar penduduk asli masih tinggal di pedalaman.

Julukan sebagai salah satu provinsi yang tertinggal lantas kerap disematkan pada wilayah paling timur di Indonesia ini. Jika ada orang Papua yang punya keistimewaan, mereka kerap dijuluki sebagai mutiara hitam. Dan salah satu yang layak memperoleh ‘gelar’ itu adalah Muhammad Zaaf Ustaz Fadhlan Rabbani Al-Garamatan.

Pria kelahiran Patipi, Fak-Fak, 17 Mei 1969 itu, adalah putra dari pasangan Machmud Ibnu Abu Bakar Ibnu Husein Ibnu Suar Al-Garamatan dan Siti Rukiah binti Ismail Ibnu Muhammad Iribaram. Sejak tahun 1985, ia memulai dakwahnya di bumi Papua. Ustaz Fadhlan , lebih senang menyebut Papua dengan Nuu Waar.

Nuu Waar adalah nama pertama untuk Papua, sebelum berubah menjadi Irian Jaya, dan Papua saat ini. Nuu Waar, dalam bahasa orang Papua, berarti cahaya yang menyimpan rahasia alam. “Papua dalam bahasa setempat berarti keriting. Karena itu, komunitas Muslim lebih senang menyebutnya dengan Nuu Waar dibandingkan Irian atau Papua,” ujar Ustaz Fadhlan kepada kami, di sela-sela kunjungannya pada peresmian pesantren HILAL Bogor 22 mei lalu.

Ustaz Fadhlan menegaskan, berdasarkan catatan sejarah, Islam adalah agama yang lebih dulu masuk ke Nuu Waar, terutama di Fak-Fak, dibandingkan dengan Kristen. Namun, karena misionaris lebih gencar menyebarkan paham agamanya, maka jadilah agama ini tampak dominan. “Padahal, saat ini jumlah umat Islam bisa lebih banyak dari orang Kristen di sana,” ujarnya.

Karena itulah, ustad yang selalu memakai gamis itu terpanggil untuk mengembalikan kejayaan Islam ke bumi Nuu Waar. Di Fak-Fak khususnya, terdapat kerajaan Islam pertama di Papua, dan Ustaz Fadhlan adalah salah seorang generasi kesekian dari kerajaan Islam itu. Nenek moyangnya dulu adalah penguasa kerajaan Islam disana.

Sebagai penanggung jawab meneruskan kerajaan Islam, Ustaz Fadhlan berkewajiban untuk membangkitkan kembali kejayaan Islam di Nuu Waar. Ia masuk keluar masuk pedalaman, turun dan naik gunung menyebarkan Islam. Bahkan harus berjalan kaki untuk mengenalkan dakwah Islam kepada penduduk setempat. “Alhamdulillah, sudah banyak yang mengenal Islam.”

Lalu mengapa dirinya tetap mau berdakwah ditengah sulitnya kondisi alam dan luasnya wilayah dakwah? Bagi Ustaz Fadhlan , disitulah tantangannya. “Kami berkewajiban untuk menyampaikan risalah Islam. Jika di akhirat kelak malaikat bertanya; “Mengapa ada saudaramu di pedalaman yang belum memeluk Islam?” Itu berarti tanggung jawab kita semua, umat Muslim di Indonesia, yang belum mampu mendakwahkan ajaran Islam dengan baik,” terangnya.

Dalam mengenalkan Islam kepada penduduk setempat tidaklah mudah. Banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi. Mulai dari soal luas wilayah, kondisi alam yang sulit karena terjal, bebatuan, ada pegunungan, dan lainnya. Namun, semua itu tidak membuat Ustaz Fadhlan dan rekan-rekannya berhenti dalam berdakwah.

“Dulu, sebelum ada kapal Al Fatih Kafilah Nusantara (AFKN) 1 dan 2, untuk mencapai tempat yang dituju, kami harus berjalan kaki, dan itu bisa membutuhkan waktu hingga tiga bulan. Terkadang ada binatang buas juga. Tapi itu semua adalah tantangan untuk ditaklukkan,” ujarnya.

Rintangan bukan hanya soal kondisi alam saja, tetapi respon penduduk setempat. “Terkadang ada juga yang melemparkan tombak bahkan panah. Ya, itu sudah biasa kami alami. Itu belum seberapa dibandingkan perjuangan Rasulullah. Beliau bahkan diusir dari negerinya (Makkah), karena ketidaksukaan penduduknya menerima dakwah Rasul. Namun beliau tetap sabar. Karena itu pula, kami pun harus sabar,” terangnya.

Begitu beratnya tantangan dakwah, tak sedikit beberapa anggota dai yang dibawa Ustaz Fadhlan memilih kembali pulang. Mereka ngeri mendengar berbagai ancaman yang ada. “Saya katakan, apakah mereka siap mati syahid? Dari 20 orang yang bertahan hanya tujuh orang.”

Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, serta tawakal kepada Allah, berbagai usaha dan upayanya, kini membuahkan hasil. Sudah banyak penduduk Papua yang menjadi Muslim. Ia menyebutkan sekitar 221 suku yang sudah memeluk Islam. Subhanallah..! Jumlah warga tiap suku bervariasi, mulai dari ratusan sampai ribuan. Jika dipukul rata tiap suku seribu orang, maka kerja keras Ustad Fadlan sudah mengislamkan 220 ribu orang Papua pedalaman.

Ini belum termasuk jumlah tempat ibadah yang dibangun. Mungkin ratusan jumlahnya.
Inovasi dakwah yang dilakukan Ustadz Fadzlan telah menyentuh masyarakat Papua yang sebelumnya jahiliyah menjadi masyarakat yang menjunjung tinggi peradaban. Sederhana saja, ia kenalkan Islam pada masyarakat Papua melalui sabun mandi. Perlu diketahui, sebelum mengenal Islam, orang Irian terbiasa mandi dengan melulurkan minyak babi ke tubuh mereka. Katanya untuk menghindari nyamuk dan udara dingin. Sejak “berkenalan” dengan sabun mandi, masyarakat Papua itu kini tak lagi menggunakan lemak babi.

“Kami berdakwah tentang kebersihan secara bertahap. Suatu ketika pernah ada seorang kepala suku yang begitu menikmati sabun mandi. Kemudian tanpa dibilas lagi, kepala suku itu langsung keliling kampung karena merasa senang dengan bau wangi sabun ditubunya,” kenang Fadzlan seraya tersenyum lebar.

Bukan hanya sabun mandi, Ustadz Fadzlan juga mengajarkan masyarakat Nuuwar yang selama ini hanya mengenakan koteka (bagi yang pria) lalu secara bertahap mulai mengenakan pakaian.
“Awalnya kami kenalkan celana kolor, mereka tertawa. Namun, ketika mereka memakainya dan lama-lama enjoy, malah akhirnya malu melepasnya. Lalu kami bawakan cermin. Ketika masih telanjang, mereka takut melihat bayangannya sendiri. Setelah memakai celana dan baju, mereka merasakan perubahan dalam dirinya. Ternyata lebih bagus,” kata Fadzlan yang juga menjembatani generasi Nuuwar untuk mendapatkan beasiswa pendidikan.

  • “Awalnya kami kenalkan celana kolor, mereka tertawa. Namun, ketika mereka memakainya dan lama-lama enjoy, malah akhirnya malu melepasnya. Lalu kami bawakan cermin. Ketika masih telanjang, mereka takut melihat bayangannya sendiri. Setelah memakai celana dan baju, mereka merasakan perubahan dalam dirinya.

Sahabat, semoga kisah yang saya kemukakan ini mampu memberikan motivasi baru, baik bagi para kader dakwah, maupun pagi para pembaca pada umumnya. Semoga kita bisa tetap istiqomah dalam menjalankan amanah dakwah ini, karena kita telah diberikan medan yang lebih ringan dari pada perjuangan Ustadz padlan ini. Maka harusnya dakwah kita harus lebih optimal.
Baca Selengkapnya | Dibalik cerita Ustadz Sabun Mandi , dari papua