23 Jul 2011

UIKA kirim Mahasiswanya untuk Penelitian dan KP ke Malaysia

Bapak. T Abd Majid ( Tengah ) saat mendampingi UUM melakukan MOU dengan UI

Universitas Ibn Khaldun Bogor saat ini tengan melakukan langkah-langkah panjang, pasalnya beberapa bulan kedepan UIKA bogor tengah mempersiapkan beberapa MOU dengan Universitas-universitas yang ada di asia, dan beberapa negara lainnya.

Ditemui redaksi Warta-UIKA selepas menghadiri pertemuan MOU antara Universias Utara malaysia dengan Universitas Indonesia di jakarta, bapa T Abd Majid selaku Pembantu Rektor bidang Akademik UIKA Bogor menjelaskan, "kita di undang untuk menghadiri MOU antara UI dengan UUM, bukan undangan dari UI, melainkan justru undangan ini datang dari UUM yang meminta kami untuk menemani pada saat penandatanganan MOU ini, karena sebelumnya UIKA dengan UUM telah terlebih dahulu melakukan MOU dibanding dengan UI yang baru dilaksanakan hari ini (23/07/11)".Beliau menambahkan, "selain ini Insya Allah pada tanggal 25 Kami rengrengan Pejabat UIKA bogor akan bertandang ke malaysia untuk melakukan MOU dengan Perguruan Tinggi Swasta Islam se Asia Tenggara yang akan dilaksanakan di penang malaysia nanti, selanjutnya kami langsung akan melaksanakan pertemuan dengan Unipersiti selangor malaysia guna menyerahkan 2 mahasiswa kami untuk melaksanakan penelitian dan Kerja Praktek di UNISEL selama kurang lebih satu Bulan di bulan agustus nanti.

pengiriman mahasiswa kami ke UNISEL ini adalah bentuk dari program kerjasama yang telah ditandatangani beberapa bulan sebelumnya, kami menyambut baik kerjasama tersebut dan kami memulai langkah cepat dengan mengirimkan 2 mahasiswa kami yaitu sodara Nurdin Alazies dengan Rian septiana, kedua mahasiswa ini merupakan mahasiswa pertama yang kami kirim untuk melakukan KP diluar negri dan kami telah memilih beberapa mahasiswa yang kompeten dan mereka dipilih untuk melaksanakan KP tersebut.

Baca Selengkapnya | UIKA kirim Mahasiswanya untuk Penelitian dan KP ke Malaysia

19 Jul 2011

Pengumuman Agenda kegiatan Penerimaan Mahasiwa Baru UIKA TA 2011 / 2012

Assalamualaikum

Wah sebentar lagi, akan ada wajah-wajah baru yang akan bergabung bersama-sama kita di UIKA, mudah-mudahan mahasiswa-mahasiwi uika, pada cakep-cakep ya...

heheh

Cakep Akhlaq dan kepribadiannya,,,...!

disini kami mau mengabarkan mengenai agenda kegiatan Penerimaan mahasiswa baru TA 2011-2012, Hasil dari surat edaran resmi yang diberikan Panitia penerimaan Mahasiswa baru 2011-2012 kepada tem Warta-UIKA. berikut infonya.


AGENDA KEGIATAN -UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR
PENERIMAAN MAHASISWA BARU GELOMBANG II & III


Pendaftaran Gelombang II :1 Mei - 30 Juni 201
Pendaftaran Gelombang III : Juli f 20 Agustus 2011


  • Batas Akhir Pengembalian Berkas : s.d. 5 September 2011
  • Tes Kompetensi Mahasiswa Baru terakhir : s.d. 6 September 2011
  • Daftar ulang (registrasi) dimulai : 1 Juli 2011
  • Penyelesaian administrasi keuangan dan daftar ulang (registrasi) paling lambat :9 September 201 1
  • Awal Perkuliahan semester ganjil 201 0/201 1 : 19 September 201 1
  • Bimbingan Akademik, Pengisian Formulir I-(RS, dan Pengambilan KI-IMD :19 s.d. 21 September 2010

  • CATATAN : Pengumuman yang berkaitan dengan (OPSPEK) akan diumumkan kemudian.
Baca Selengkapnya | Pengumuman Agenda kegiatan Penerimaan Mahasiwa Baru UIKA TA 2011 / 2012

KETIKA KUBUR MENASIHATI CALON PENGHUNINYA

KETIKA KUBUR MENASIHATI CALON PENGHUNINYA
M.Rais Ahmad

Setelah jenazah diletakkan di lubang sempit seukuran jazad, kemudian penggali kubur menutup dengan tanah bekas galian itu, nisan sementara berupa papan yang ditulisi nama, tanggal lahir dan tanggal wafat si mayit, gundukan tanah itu ditempeli potongan potongan rumput untuk menutupi tanah yang masih basah itu. Para pengantar jenazah masih menyempatkan berdoa terutama mendoakan almarhum, kadang kadang didahului dengan sambutan dari sohibul musibah dilanjutkan dengan wakil instansi bekas tempat almarhum bekerja semasa hidupnya atau ditambah lagi dari teman teman sejawatnya. Usai semua prosesi pemakaman , satu per satu mereka meninggalkan areal pemakaman dengan pikiran dan perasaannya masing-masing. Tinggallah sosok tubuh yang telah terpisah dengan ruhnya tergolek di lubang sempit yang telah ditutupi tanah yang ditaburi serpihan kembang aneka ragam warna warni di atas permukaannya. Kuburan, adalah terminal awal dalam perjalanan jauh anak manusia untuk kembali menuju ke kampung halaman asalnya yaitu kampung akhirat nun jauh disana.

Lamat-lamat ruh si mayit teringat untaian nasihat kubur yang pernah didengarnya dari salah seorang ustadz dalam pengajian yang ia hadiri semasa hidupnya. Memang betul apa yang dinyatakan oleh kubur bahwa ia tempat yang paling gelap. Ternyata ketika penggali kubur usai menimbun kuburannya, tak sedikitpun cahaya masuk ke dalam, semua dalam keadaan gelap gulita. Ketika kubur menyatakan bahwa ia adalah tempat yang paling sempit, ternyata tak ada celah tempat yang longgar bagi jasad yang terbaring di dalamnya. Kepala, ujung kaki dan tubuhnya yang diposisikan miring menghadap kiblat sangat pas dengan rongga tanah yang disisakan di bawah bambu yang tersusun di langit-langit sepanjang kuburan itu. Bila kubur menyatakan bahwa tempatnya paling sepi, maka ketika anak-anak, isteri/suami, saudara, kerabat, teman dan sahabatnya baru saja beramai-ramai mengantarkan jenazahnya semua telah kembali ke tempatnya masing-masing, tinggallah jazad dan ruhnya sendirian dalam kegelapan dan tempat yang teramat sempit. Bermunculan kemudian binatang-binatang penghuni tanah yang menjijikkan dan yang berbisa serta menyeramkan mengerubuti sosok mayat yang baru untuk dijadikan santapan lezat sebagai rezki untuk penyambung hidup mereka. Tidak berapa lama terdengar suara yang sangat mengagetkan diikuti kehadiran dua malaikat Munkar, Nakir dengan tegas melaksanakan perintah Allah menanyai ruh yang telah terpisah dari jazadnya.

Apa yang dinyatakan oleh kubur yang pernah ia dengar dari ustadz dulu sungguh kini menjadi kenyataan. Sebuah pengalaman baru yang tak pernah terbayang dan terpikirkan secara sungguh-sungguh semasa hidupnya, Cuma terlintas saja dalam pikiran, tak pernah direnungkan, apalagi dibayangkan bakal terjadi seperti pengalaman pertamanya hari ini. Berapa lama kiranya keadaan ini akan dialaminya, dia juga tak pernah ingin tahu selama ini. Yang jelas akan jauh lebih lama dari umurnya semasa hidup di dunia.

Jika di tempat ini merupakan terminal awal dari perjalanan jauh anak manusia kembali kehadirat Tuhannya, maka tahap berikutnya adalah hari kebangkitan setelah terjadinya kejadian yang teramat dahsyat menimpa dunia dan semua penghuninya yaitu hari kiamat kubro. Pada hari kebangkitan ini semua manusia di alam kubur dibangkitkan lagi untuk menghadapi hari perhitungan, semacam hari evaluasi diri pada masing-masing pribadi manusia. Seluruh umat manusia sejak zaman Nabi Adam A.S sampai umat Nabi Muhammad Saw yang terakhir menerima ajalnya di dunia. Semua bergerak menuju Pengadilan Allah SWT. untuk mempertanggungjawabkan segalanya, apapun yang diucapkan, yang dilakukan dan yang tidak dilakukan oleh masing-masing diri pribadi manusia. Pada waktu itu tak ada gunanya lagi anak laki-laki yang dibangga banggakan semasa di dunia, karena masing masing sibuk mempertanggungjawabkan amalnya sendiri-sendiri. Tak ada gunanya harta berlimpah yang dikumpulkan selama di dunia siang malam, begitupun pangkat dan jabatan serta kedudukan tinggi yang mati matian diperjuangkan selama di dunia, tak ada yang dapat menolong dirinya. Masing-masing diri hanya bertanggungjawab atas amalnya sendiri.

Bisakah kita mempertanggungjawabkan semua amal kita selama hidup yang singkat di dunia ini? Semua sangat tergantung atas kualitas amal itu sendiri! Jika yang kita lakukan melulu amal shaleh yang dilandasi aqidah dan iman yang lurus dan kokoh, insya Allah perjalanan berikutnya menuju hari pembalasan selamat dalam rahmat dan kasih sayangNya dan mendapatkan balasan karunia surga, sebaik-baik tempat dan kekal di dalamnya. Tetapi, apabila selama di dunia amal yang dilakukan tergolong perbuatan maksiyat, mendustakan ayat-ayatNya, melalaikan perintah dan melecehkan laranganNya, apa lagi berusaha menghalangi manusia berbuat baik dan mendorong berbuat maksiyat dan menyatakan bahwa kejadian pada hari akhirat itu sekedar cerita dongeng belaka, kemudian ketika sampai ajalnya tak pernah melakukan pertobatan yakni tobat nasuha, maka jangan katakan Allah itu mendzaliminya jika kelak ia menerima balasan yang terburuk yakni neraka jahannam dan tinggal di dalamnya selama-lamanya. Itulah hasil akhir yang diperoleh dari amal dan perbuatan nista, khianat dan pembangkangan terhadap perintah dan larangan Allah selama hidupnya di dunia yang fana.

Sebagai penutup, nasihat yang amat berharga dari kubur adalah bagaimana manusia dapat mengatasi gelapnya dalam kubur adalah dengan cara membiasakan shalat tahajut. Mendawamkan bangun pada dua per tiga malam untuk menunaikan ibadah tambahan menegakkan shalat tahajut dengan khusyu’, di saat orang lain tidur nyenyak. Insya Allah dengan membiasakan mengikuti ibadah sunnah para Nabi dan orang orang shaleh itu, kelak kuburan kita menjadi terang benderang atas karunia Allah. Setelah kuburan kita dipenuhi cahaya surga, nasihat kubur berikutnya adalah keluar dari kesempitan yang mencekik dengan banyak melaksanakan silaturrahim, mengembangkan hubungan baik dengan sesama manusia, hablum minan nas secara horizontal yang dilandasi hubungan yang telah terjalin baik dengan Allah Swt. hablum minallah. Menyambung silaturrahmi diikuti dengan berbuat baik sesamanya, paling sedikit bermuka cerah dan memberikan senyum dengan tulus. Untuk dapat meramaikan kesepian kubur, dinasihatkannya agar seringlah membaca Al Qur’an. Jadikan ia bacaan harian. Tak ada hari tanpa baca dan mendalami Al Qur’an. Pendalaman disertai penghayatan dan diam-diam kita laksanakan perintahnya dan kita jauhi perbuatan yang dilarangannya. Langkah lanjutannya, kita mulai menghafalnya sedikit demi sedikit menurut kemampuan dan mencoba menerapkan semboyan : one day one ayat. Untuk meracuni binatang-binatang berbisa yang berusaha mendekati jasad yang telah ditinggal ruhnya itu, kubur telah menasihatkan agar kita banyak berinfaq dan bersodaqoh setelah zakat kita tunaikan. Di sekitar kita masih banyak saudara kita yang memerlukan bantuan dan pertolongan. Kemauan menolong dan peduli sesamanya perlu ditumbuhkan dalam tiap diri kita dan sedapat-dapatnya keinginan menolong sesamanya itu ditularkan kepada anak dan keturunan kita.

Ketika tujuh langkah para pengantar jenazah telah berlalu dari kuburan, konon malaikat Munkar Nakir datang menghampiri ruh yang telah berpisah dari jasadnya dan menanyakan sekitar aqidah dan keimanan kita. Nasihat kubur adalah, agar kita membaca kalimat tauhid: Laa ilaha illallah terus menerus selama hidup. Usahakan agar ucapan terakhir, ketika ruh kita keluar secara bersamaan kitapun mengucapkan kalimat itu. Agar tercapai akhir yang baik, husnul khatimah maka kesempatan kita yang masih hidup ini harus kita gunakan sebaik-baiknya untuk membiasakan mengucapkan kalimat tauhid itu baik dalam keramaian maupun dalam keadaan sendiri, di kala senang maupun susah, di kala sehat maupun sakit, pagi dan petang sehingga menjadi kebiasaan selama hidup ini. Insya Allah menjelang sakratul maut, kalimat itu pula yang akan terucap. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Baca Selengkapnya | KETIKA KUBUR MENASIHATI CALON PENGHUNINYA

Jiwa Enterpreneurship dan leadership dari Sang Teladan

Jiwa Enterpreneurship dan leadership dari Sang Teladan


Hal yang patut menjadi renungan kita sebagai Umat Islam saat ini adalah, kita dilahirkan sebagai umat yang mayoritas di negri ini, akan tetapi kerkadang kita malah bagaikan budak dari para kaum musrikin yang menjadi penguasa yang tak ada upaya serta kekuatan melainkan kita hanya bisa mengangguk-anggukan kepala saja dan menurut kepada semua perintah atasan.
Atas dasar kebutuhan, kita rela menunda nunda ibadah hanya karena lebih mementingkan sebuah kredibilitas diri sebagai karawan yang teladan dimata bos. Sesungguhnya hal inilah yang menjadi ironi, dan jika berkelanjutan bukan saja umat Islam akan jadi budak kaum jahil, akan tetapi Islam akan terus terkerdilkan oleh keadaan seperti ini.

Apakah yang menjadikan kita seperti ini, tak lain karena kita kurang respek untuk mempelajari pelajaran mengenai leadership dan manajerial. Kita lebih fokus pada life skill atau kemampuhan bagai mana cara bekerja dengan baik, kita lebih senang jika dibilang sebagai staff ahli ketimbang disebut sebagai seorang seorang manajer.

Kelemahan leadership dan manajerial ini ternyata dapat kita telusuri dengan mengamati bagaimana pemahaman umat tentang sifat Rasulullah SAW. Diantara titik-titik yang kurang tersentuh secara maksimal adalah bagaimana umat Islam mempelajari masa muda Rasulullah SAW sebelum menjadi nabi.

Dari beberapa literatur yang didapat, betapa jiwa entrepreneurship Rasulullah di bidang wirausaha begitu mendominasi, sehingga beliau berkembang menjadi seorang pemimpin yang memiliki jiwa entrepreneur, dan keterampilan manajemen yang baik untuk mengelola sebuah dakwah, sebuah sistem yang bertata nilai kemuliaan Islam.
Pada waktu Rasulullah masih kecil, beliau sudah mempunyai sebuah proyek untuk menjaga kehormatan harga dirinya agar tidak menjadi beban bagi kehidupan ekonomi pamannya, Abu Thalib, yang memang tidak tergolong kaya. Beliau mendapat upah dari menggembalakan beberapa ekor kambing miliki orang lain, yang secara otomatis mengurangi biaya hidup yang harus ditanggung oleh pamannya ini.

Pada usia 12 tahuan, sebuah usia yang relatif muda, beliau melakukan perjalanan dagang ke Syiria bersama Abu Thalib. Beliau tumbuh dewasa di bawah asuhan pamannya ini dan belajar mengenai bisnis perdagangan darinya. Bahkan ketika menjelang dewasa dan menyadari bahwa pamannya bukanlah orang berada serta memiliki keluarga besar yang harus diberi nafkah, Rasulullah mulai berdagang sendiri di kota Mekkah.

Bisnisnya diawalai dengan sebuah perdagangan taraf kecil dan pribadi, yaitu dengan membeli barang dari satu pasar dan menjualnya kepada orang lain. Aktivitas bisnis lainnya dengan sejumlah orang di kota Mekkah pun dilakukan. Dengan demikian ternyata Rasulullah telah melakukan aktivitas bisnis jauh sebelum beliau bermitra dengan Khadijah. Dan inilah yang membuahkan pengalaman yang tak ternilai harganya dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan pada diri Rasulullah.

Ciri yang sangat khas dari aktivitas bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah waktu itu adalah beliau sangat terkenal karena kejujurannya dan sangat amanah dalam memegang janji. Sehingga tidak ada satupun orang yang berinteraksi dengan beliau kecuali mndapat kepuasan yang luar biasa. Dan ini merupakan sebuah nuansa dengan pesona tersendiri bagi warga Jazirah Arab. apalagi kemuliaan akhlaknya seakan menebarkan pesona indah kepribadiannya.
Pun ketika beliau tidak memiliki uang untuk berbisnis sendiri, ternyata beliau banyak menerima modal dari orang-orang kaya Mekkah yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana mereka, dan menyambut baik seseorang yang jujur untuk menjalankan bisnis dengan uang yang mereka miliki berdasarkan kerjasama. Tiada lain karena sejak kecil Rasulullah telah dikenal oleh penduduk Mekkah sangat rajin dan penuh percaya diri. Dikenal pula oleh kejujuran dan integritasnya dibidang apapun yang dilakukannya. Tak berlebihan bila penduduk Mekkah memanggilnya dengan sebutan Shiddiq (jujur) dan Amin (terpercaya).

Salah seorang pemiliki modal itu adalah Khadijah, yang kelak menjadi istri beliau, yang menawarkan suatu kemitraan berdasarkan sistem bagi hasil (profit sharing). Dan, subhanallaah, kecakapan Rasulullah dalam berbisnis telah mendatangkan keuntungan, dan tidak satupun jenis bisnis yang ditanganinya mendapat kerugian. Selama bermita dengan Khadijah inilah Rasulullah telah melakukan perjalanan dagang ke pusat bisnis di Habasyah (Ethiopia) dan Yaman. Beliau pun empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syria dan Jorash.
Diantara hal yang terus menerus harus kita teladani dari Rasulullah dalam interaksi bisnisnya adalah beliau sangat menjaga nilai-nilai harga diri, kehormatan, dan kemuliannya dalam proses interaksi bisnisnya ini. Bisnis bagi Rasulullah SAW tidak hanya sebatas perputaran uang dan barang, tapi ada yang lebih tinggi dari semua itu, yaitu mejaga kehormatan diri. Sehingga keuntungan apapun dari setiap transaksi yang beliau dapatkan, maka kemuliaannya justru semakin menjulang tinggi. Semakin dihormati, semakin disegani dan ini menjadi aset tak ternilai harganya yang mendatangkan kepercayaan dari para pemilik modal.

Dengan kata lain, modal terbesar dari seorang yang menjadi pengusaha sukses, pemimpin sukses, atau ilmuwan sukses dalam disiplin ilmu apapun, ternyata jiwa entrepreneur ini harus dikembangkan sejak awal. Pembangunan harga diri, pembangunan etos kerja, pembangunan karir kehormatan sebagai seorang jujur yang terbukti teruji dan sangat amanah terhadap janji-janji, jikalau hal ini ditanamkan, dilatih sejak awal maka akan membuahkan kepribadian yang sangat bermutu tinggi dan ini menjadi bekal kesuksesan bekerja dimanapun atau kesuksesan mengemban amanah jenis apapun.

Dan yang paling perlu digaris bawahi, Rasulullah SAW mengadakan transaksi bisnis sama sekali tidak untuk memupuk kekayaan pribadi, tetapi justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnisnya dengan etika yang tinggi dan hasil yang didapat justru untuk didistribusikan ke sebanyak umat. Sehingga kesuksesannya mampu membawa banyak dampak positif, yaitu kesuksesan dan kesejahteraan bagi umat yang lainnya. Dan inilah yang menyebabkan kepribadian junjungan kita, Rasullah SAW begitu monumenatal, baik dalam mencari nafkah maupun dalam menafkahkan karunia rizki yang diperolehnya.

Semoga kita semua mampu merenungi kejujuran diri, amanah, dan kegigihan dalam menjaga kehormatan harga diri kita selaku umat Islam.***

Oleh : Nurdin Al Azies
CEO Centra Kreatifitas Mahasiswa
Referensi : Tausiyah AA GYM
Baca Selengkapnya | Jiwa Enterpreneurship dan leadership dari Sang Teladan

Jawaban Ilmiah, Bentengi Alquran


Tahun 2007 lalu. Fahmi Salim Zubair MA, seorang sarjana Alquran lulusan Universitas al-Azhar Kairo, menorehkan prestasi penting dalam studi Alquran. Ia lulus sebagai master dalam bidang tafsir di Universitas al-Azhar Kairo dengan predikat Summa Cum Laude (Penghargaan Tingkat Pertama), setelah berhasil mempertahankan Tesis-nya yang berjudul KHITHABAT DAWA FALSAFAT AL-TAWIL AL-HERMENUTHIQI Ll AL-QURAN ARDL WA NAQD (Studi analitis-kritis diskursus filsafat Hermeneutika Alquran).

Fahmi menyelesaikan tesisnya di bawah bimbingan dua guru besar Tafsir dan Ilmu-ilmu Alquran, yaitu Prof Dr Abdul Hayyi Husein Al-Farmawi dan Prof Dr Abdul Badi Abu Hasyim. Adapun para penguji tesis Fahmi Salim adalah Prof Dr Salim Abdul Kholik Abdul Hamid (Guru besar Tafsir dan ilmu-ilmu Alquran) dan Prof Dr Ali Hasan Sulaiman (Guru besar dan Ketua Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu Alquran, Fakultas Dirasat Islamiyah. Univ Al-Azhar).

Tesis Fahmi Salim itu sekarang sudah terbit menjadi sebuah buku berjudul Kritik terhadap Studi Alquran kaum Liberal (2010). Buku ini membedah model pemahaman teks ala Barat yang menjadi "alat buldoser" paling efektif dalam upaya sekularisasi dan liberalisasi masyarakat Muslim. Di tangan para pemasok dan pengecer paham sekularisme dan liberalisme, penggunaan metode hermeneutika dalam menafsirkan Alquran digunakan untuk menggusur ajaran-ajaran Islam yang baku dan permanen {tsawabit). agar compatible dengan pandangan alam (worldview) dan nilai-nilai modernitas Barat sekuler yang ingin dise-maikan ke tengah-tengah umat Islam.

Menurut Fahmi, ia tertarik mengkaji masalah hermeneutika tersebut, semenjak digelindingkannya upaya sistematis untuk meliberalkan kurikulum Islamic Studies di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Sederet nama para penganjur dan pengap-likasi hermeneutika untuk studi Islam tiba-tiba menjadi super stars dalam kajian Islam di Perguruan Tinggi Islam Indonesia. Sebut saja misalnya Hassan Hanafi (hermeneutika-fenomenologi). Nasr Hamid Abu Zayd (hermeneutika sastra kritis). Mohammad Arkoun (hermeneutika-antropologi nalar Islam), Fazlur Rahman (hermeneutika double movement). Fatima Mernissi-Riffat Hassan-Amina A Wadud (hermeneutika gender). Muhammad Syahrur (hermeneutika linguistik flqih perempuan), dan lain-lain yang cukup sukses membius mahasiswa dan para dosen di lingkungan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia baik negeri maupun swasta, hingga kini.

Bahkan beberapa tahun silam, munculnya Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam yang merombak dan melucuti banyakaspek-aspek yang qathi dalam sistem hukum Islam - meski telah ditolak dan digagalkan - telah mengindikasikan suatu upaya serius untuk menjadikan produk tafsir hukum ala hermeneutika ini sebagai produk hukum Islam positif yang mengikat seluruh umat Islam di tanah air. Itulah salah satu dampak terburuk dari tafsir model hermeneutika ini yang berkaitan dengan hajat hidup umat Islam Indonesia dalam soal pernikahan, perceraian, pembagian harta waris, pengasuhan anak, dan lain-lain.

Dewasa ini, gagasan dan tuntutan untuk melakukan pembacaan sekaligus pemaknaan ulang teks-teks primer agama Islam disuarakan dengan lantang. Tujuannya adalah agar teks-teks primer Islam, yang telah menjadi pedoman dan panduan lebih dari satu miliar umat Islam, dapat ditundukkan untuk mengikuti irama nilai-nilai modernitas sekuler yang didiktekan dalam berbagai bidang.

Seruan itu disuarakan serempak oleh parapemikir liberal baik di Timur-Tengah maupun di belahan lain dunia Islam, termasuk Indonesia. Berbagai seminar, workshop dan penerbitan buku hasil kajian dan penelitian digiatkan secara efektif untuk mengkampanyekan betapa mendesaknya pembacaan kritis" dan "pemaknaan baru" teks-teks Al-Quran dan Sunnah Rasul. Berbagai produk olahan isu-isu pemikiran yang diimpor dari Barat seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme agama, dan pengarusutamaan gender telah menjadi menu sajian yang menggoda untuk dihidang-kan kepada komunitas muslim.

"Kita patut curiga dan bertanya apakah tidak sebaiknya upaya pembacaan dan pemaknaan utang wacana agama itu diarahkan sebagai pembaruan metode dakwah Islam dan revitalisasi sarana-sarana pendukungnya di era kontemporer ini, sesuai dengan perkembangan zaman? Kita sangat memerlukan pemikiran segar dan cemerlang untuk mendak-wahkan prinsip-prinsip dan pandangan hidup Islam dengan metode yang cocok dengan kemajuan zaman. Jika ini yang terjadi, maka kita dengan senang hati menyambut seruan itu." ujarnya.

Namun, menurut Fahmi, kadangkala yang terjadi bukan seperti itu. Di lapangan, yang terjadi adalah adanya upaya untuk mengkaji ulang bahkan sampai pada taraf mengubah prinsip dan pokok-pokok agama dengan dalih keluar dari kungkungan ideologis nash-nash Alquran dan Sunnah, membatalkan keabsolu-tan nash Alquran dengan analisa historisitas teks atau relativisme teks. Juga, dibagian lain mereka ingin melakukan studi kritik literatur dan sejarah seperti yang dipraktekkan kalangan liberal Yahudi dan Kristen atas Bible sejak tiga abad silam. Bahkan, ada yang terang-terangan memunculkan pandangan bahwa nash Alquran dan Sunnah telah out of date dan hanya menghalangi proses integrasi umat Islam dengan nilai-nilai globalisasi kontemporer. Jika seperti ini yang terjadi di lapangan pemikiran, maka logika semacam ini harus ditolak mentah-mentah, baik keseluruhan maupun rinciannya," kata Fahmi.

Melihat fakta semacam itu, Fahmi mengaku berusaha serius untuk mengkaji dasar-dasar hermeneutika, menelusuri akar sejarahnya, sampai penerapannya sebagai pengganti metodologi tafsir dan takwil Alquran yang khas dalam tradisi keilmuan Islam.

Kajian Fahmi Salim tentang hermeneutika ini semakin membuka cakrawala baru dalam upaya membendung arus besar liberalisasi Alquran melalui penggunaan hermeneutika dalam studi Alquran. Semoga, upaya membentengi Alquran dari berbagai serangan yang berbungkus "studi ilmiah" seperti ini dapat terus dilanjutkan. Sebab, upaya untuk menyerang Alquran juga tidak akan pernah berhenti, meskipun senantiasa serangan itu berujung kepada kesia-siaan.


Oleh : Adian Husaini

Adian Husaini, M.A., (lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 17 Desember 1965; umur 45 tahun) adalah Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, sekretaris jenderal Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) dan Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina-Majelis Ulama Indonesia (KISP-MUI), Anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan anggota pengurus Majlis Tabligh Muhammadiyah.

Baca Selengkapnya | Jawaban Ilmiah, Bentengi Alquran

LIMA KONSEP ISLAMISASI SAINS

LIMA KONSEP ISLAMISASI SAINS

Istilah “Islamisasi sains” sudah pernah nyaring bergema di Indonesia pada era 1980-an. Tapi, kemudian redup, sejalan dengan ketidakjelasan konsep dan pengembangannya. Bahkan, sering timbul kesalahpahaman.

Apa sebenarnya “Islamisasi sains?”

Secara umum, ada lima arus utama wacana Islamisasi sains. Pertama, Islamisasi sains dengan pendekatan instrumentalistik, yaitu pandangan yang menganggap ilmu atau sains hanya sebagai alat (instrumen). Artinya, sains terutama teknologi sekedar alat untuk mencapai tujuan, tidak memperdulikan sifat dari sains itu sendiri selama ia bermanfaat bagi pemakainya.

Pendekatan ini muncul dengan asumsi bahwa Barat maju dan berhasil menguasai dunia Islam dengan kekuatan sains dan teknologinya. Karena itu, untuk mengimbangi Barat, kaum Muslim harus juga menguasai sains dan teknologi. Jadi, Islamisasi di sini adalah bagaimana umat Islam menguasai kemajuan yang telah dikuasai Barat.

Islamisasi sains dengan pendekatan ini sebenarnya tidak termasuk dalam islamisasi sains yang hakiki. Banyak muslim yang ahli sains, bahkan meraih penghargaan dunia, namun tidak jarang dia makin jauh dari Islam. Meski demikian, pendekatan ini menyadarkan umat untuk bangkit melawan ketertinggalan dan mengambil langkah mengembangkan sains dan teknologi.

Kedua, Islamisasi sains yang paling menarik bagi sebagian ilmuwan dan kebanyakan kalangan awam adalah konsep justifikasi. Maksud justifikasi adalah penemuan ilmiah modern, terutama di bidang ilmu-ilmu alam diberikan justifikasi (pembenaran) melalui ayat Al-Quran maupun Al-Hadits. Metodologinya adalah dengan cara mengukur kebenaran al-Qur’an dengan fakta-fakta objektif dalam sains modern.

Tokoh paling populer dalam hal ini adalah Maurice Bucaille. Menurut dokter asal Perancis ini, penemuan sains modern sesuai dengan al-Qur’an. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an, kitab yang tertulis 14 abad yang lalu, adalah wahyu Tuhan, bukan karangan Muhammad. Ilmuwan lain yang mengembangkan Islamisasi dengan pendekatan justifikasi ini adalah Harun Yahya, Zaghlul An-Najjar, Afzalur Rahman dll. Namun, konsep ini menuai banyak kritik, misalnya dari Ziauddin Sardar yang mengatakan bahwa legitimasi kepada al-Quran dalam kerangka sains modern tidak diperlukan oleh Kitab suci.

Meskipun bukan termasuk dalam kategori Islamisasi sains yang hakiki, pendekatan konsep ini sangat efektif mudah diterima oleh banyak Muslim serta meningkatkan kebanggaan mereka terhadap Islam. Namun demikian proses tersebut tidak cukup dan harus dikembangkan ke dalam konsep yang lebih mendasar dan menyentuh akar masalah kemunduran umat.

Ketiga, konsep Islamisasi sains berikutnya menggunakan pendekatan sakralisasi. Ide ini dikembangkan pertama kali oleh Seyyed Hossein Nasr. Baginya, sains modern yang sekarang ini bersifat sekular dan jauh dari nilai-nilai spiritualitas sehingga perlu dilakukan sakralisasi. Nasr mengritik sains modern yang menghapus jejak Tuhan di dalam keteraturan alam. Alam bukan lagi dianggap sebagai ayat-ayat Allah tetapi entitas yang berdiri sendiri. Ia bagaikan mesin jam yang bekerja sendiri.

Ide sakralisasi sains mempunyai persamaan dengan proses islamisasi sains yang lain dalam hal mengkritisi sains sekular modern. Namun perbedaannya cukup menyolok karena menurut Nasr, sains sakral (sacred science) dibangun di atas konsep semua agama sama pada level esoteris (batin). Padahal Islamisasi sains seharusnya dibangun di atas kebenaran Islam. Sains sakral menafikan keunikan Islam karena menurutnya keunikan adalah milik semua agama. Sedangkan islamisasi sains menegaskan keunikan ajaran Islam sebagai agama yang benar. Oleh karena itu, sakralisasi ini akan tepat sebagai konsep Islamisasi jika nilai dan unsur kesakralan yang dimaksud di sana adalah nilai-nilai Islam.

Keempat, Islamisasi sains melalui proses integrasi, yaitu mengintegrasikan sains Barat dengan ilmu-ilmu Islam. Ide ini dikemukakan oleh Ismail Al-Faruqi. Menurutnya, akar dari kemunduran umat Islam di berbagai dimensi karena dualisme sistem pendidikan. Di satu sisi, sistem pendidikan Islam mengalami penyempitan makna dalam berbagai dimensi, sedangkan di sisi yang lain, pendidikan sekular sangat mewarnai pemikiran kaum Muslimin. Mengatasi dualisme sistem pendidikan ini merupakan tugas terbesar kaum Muslimin pada abad ke-15 H.

Al-Faruqi menyimpulkan solusi dualisme dalam pendidikan dengan islamisasi ilmu sains. Sistem pendidikan harus dibenahi dan dualisme sistem pendidikan harus dihapuskan dan disatukan dengan jiwa Islam dan berfungsi sebagai bagian yang integral dari paradigmanya. Al-Faruqi menjelaskan pengertian Islamisasi sains sebagai usaha yaitu memberikan definisi baru, mengatur data-data, memikirkan lagi jalan pemikiran dan menghubungkan data-data, mengevaluasi kembali kesimpulan-kesimpulan, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan dan melakukan semua itu sehingga disiplin-disiplin itu memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cita-cita Islam.

Kelima, konsep Islamisasi sains yang paling mendasar dan menyentuh akar permasalahan sains adalah Islamisasi yang berlandaskan paradigma Islam. Ide ini yang disampaikan pertama kali secara sistematis oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Menurut al-Attas, tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslim adalah ilmu pengetahuan modern yang tidak netral telah merasuk ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis yang berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat. Oleh karena itu islamisasi sains dimulai dengan membongkar sumber kerusakan ilmu. Ilmu-ilmu modern harus diperiksa ulang dengan teliti.

Itu sebabnya al-Attas mengartikan Islamisasi sebagai, ”Pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belenggu paham sekular terhadap pemikiran dan bahasa. Juga pembebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekular dan tidak adil terhadap hakikat diri atau jiwanya…Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asalnya…” (Islam dan Sekularisme, 2010).

Oleh karena dalam hal ini ada dua cara metode Islamisasi yang saling berhubungan dan sesuai urutan. Pertama ialah melakukan proses pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat. Kedua, memasukkan elemen-elemen Islam dan konsep-konsep kunci ke dalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan.

Dengan demikian Islamisasi sains akan membuat umat Islam terbebaskan dari belenggu hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Tujuannya adalah wujudnya keharmonisan dan kedamaian dalam dirinya (fitrah). Islamisasi melindungi umat Islam dari sains yang menimbulkan kekeliruan dan mengembangkan kepribadian muslim yang sebenarnya. Oleh karena itu islamisasi sains tidak bisa tercapai hanya dengan menempeli (melabelisasi) sains dengan prinsip Islam. Hal ini hanya akan memperburuk keadaan selama “virus”nya masih berada dalam tubuh sains itu sendiri.

Jadi, Islamisasi sains tidak sesederhana, misalnya, tidak sekedar menyalakan lampu dengan terlebih dahulu membaca basmalah. Islamisasi sains adalah sebuah konsep dasar yang berkaitan dengan worldview seorang muslim untuk mengembalikan Islam menuju peradaban dunia yang berjaya. (***)


Oleh : Budi Handrianto

Mahasiswa S-3

Pendidikan Islam Univ Ibn Khaldun Bogor

Penulis buku “50 Tokoh Islam Liberal di Indonesia” dan “Islamisasi Sains”

Baca Selengkapnya | LIMA KONSEP ISLAMISASI SAINS

Nilai dari sebuah proses

Nilai dari sebuah proses
Oleh : Nurdin Al Azies


Banyak orang yang selalu mengeluh ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan yang menimpa dia, terkadang jalan keluar terakhir adalah menyerah, karena tidak mendapatkan keadaan sesuai dengan apa yang dia harapkan sebelumnya.
Terlalu fokus pada hasil yang ingin dicapai, akan berdampak keburukan bagi siapapun yang melaluinya. Contohnya, ketika seorang mahasiswa kuliah, dan apa yang dipikirkannya adalah nilai semata, maka apa yang akan dilakukannya adalah bagaimana caranya mendapatkan nilai yang bagus dengan cara yang instan tanpa memakan banyak waktu dan proses panjang yang melelahkan, maka jalan yang dipilihnya adalah dengan berlaku curang atau mencontek.

Inilah mengapa saya ingin mencoba membuat sebuah artikel yang akan membahas mengenai nilai dari sebuah proses, karena jika kita tela’ah ternyata yang bernilai dari hidup ini adalah sebuah proses, dan bukan hasil seperti apa yang kita damba-dambakan.
Bisa kita ambil pelajaran dari apa yang disampaikan Nabi Muhamad SAW atau apa yang terdapat dalam Al-Quran, bahwasannya manusia hanya wajib berusaha, sementara hasilnya hendaklah kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Kita semua yakin, Allah tidak akan pernah berbuat Dzolim terhadap hambanya, jikalau prosesnya benar, bersungguh-sungguh berusaha, melalui proses tersebut dengan menikmatinya dan bersabar terhadap hambatan, maka pastilah Allah akan memberikan hasil sesuai dengan apa yang kita harapkan. “Man Jadda Wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh maka berhasillah dia!.

Yang harus menjadi catatan untuk kita pada saat ini adalah selalu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar , selebihnya terserah ALLAH SWT.
Seperti para mujahidin yang berjuang membela bangsa dan agamanya, sebetulnya bukan kemenangan yang terpenting bagi mereka, karena menang-kalah itu akan selalu dipergilirkan kepada siapapun. Tapi yang paling penting baginya adalah bagaimana selama berjuang itu niatnya benar karena ALLAH dan selama berjuang itu akhlaknya juga tetap terjaga. Tidak akan rugi orang yang mampu seperti ini, sebab ketika dapat mengalahkan lawan berarti dapat pahala, kalaupun terbunuh berarti bisa jadi syuhada.


Bagi kita kuliah adalah suatu ikhtiar agar nilai kemanfaatan hidup kita meningkat. Kita menuntut ilmu supaya tambah luas ilmu hingga akhirnya hidup kita bisa lebih meningkat manfaatnya. Kita tingkatkan kemampuan salah satu tujuannya adalah agar dapat meningkatkan kemampuan orang lain. Kita cari nafkah sebanyak mungkin supaya bisa mensejahterakan orang lain.


Dalam mencari rizki ada dua perkara yang perlu selalu kita jaga, ketika sedang mencari kita sangat jaga nilai-nilainya, dan ketika dapat kita distribusikan sekuat-kuatnya. Inilah yang sangat penting. Dalam perkuliahan, niat kita mau apa nih? Kalau mau sekolah, mau kuliah, mau kursus, selalu tanyakan mau apa nih? Karena belum tentu kita masih hidup ketika diwisuda, karena belum tentu kita masih hidup ketika kursus selesai.

Sahabat. Kalau kita selama kuliah, selama sekolah, selama kursus kita jaga sekuat-kuatnya mutu kehormatan, nilai kejujuran, etika, dan tidak mau nyontek lalu kita meninggal sebelum diwisuda? Tidak ada masalah, karena apa yang kita lakukan sudah jadi amal kebaikan. Karenanya jangan terlalu terpukau dengan hasil.

Oleh sebab itu, sekali lagi jangan terpukau oleh hasil, karena hasil yang bagus menurut kita belum tentu bagus menurut perhitungan ALLAH. Kalau misalnya kualifikasi mental kita hanya uang 50 juta yang mampu kita kelola. Suatu saat ALLAH memberikan untung satu milyar, nah untung ini justru bisa jadi musibah buat kita. Karena setiap datangnya rizki akan efektif kalau iman kitanya bagus dan kalau ilmu kitanya bagus. Kalau tidak, datangnya uang, datangnya gelar, datangnya pangkat, datangnya kedudukan, yang tidak dibarengi kualitas pribadi kita yang bermutu sama dengan datangnya musibah. Ada orang yang hina gara-gara dia punya kedudukan, karena kedudukannya tidak dibarengi dengan kemampuan mental yang bagus, jadi petantang-petenteng, jadi sombong, jadi sok tahu, maka dia jadi nista dan hina karena kedudukannya.

Ada orang yang terjerumus, bergelimang maksiat gara-gara dapat untung. Hal ini karena ketika belum dapat untung akan susah ke tempat maksiat karena uangnya juga tidak ada, tapi ketika punya untung sehingga uang melimpah-ruah tiba-tiba dia begitu mudahnya mengakses tempat-tempat maksiat.

Nah, Sahabat. Selalulah kita nikmati proses. Seperti saat seorang ibu membuat kue lebaran, ternyata kue lebaran yang hasilnya begitu enak itu telah melewati proses yang begitu panjang dan lama. Mulai dari mencari bahan-bahannya, memilah-milahnya, menyediakan peralatan yang pas, hingga memadukannya dengan takaran yang tepat, dan sampai menungguinya di open. Dan lihatlah ketika sudah jadi kue, baru dihidangkan beberapa menit saja, sudah habis. Apalagi biasanya tidak dimakan sendirian oleh yang membuatnya. Bayangkan kalau orang membuat kue tadi tidak menikmati proses membuatnya, dia akan rugi karena dapat capeknya saja, karena hasil proses membuat kuenya pun habis dengan seketika oleh orang lain. Artinya, ternyata yang kita nikmati itu bukan sekedar hasil, tapi proses.

Begitu pula ketika ibu-ibu punya anak, lihatlah prosesnya. Hamilnya sembilan bulan, sungguh begitu berat, tidur susah, berbaring sulit, berdiri berat, jalan juga limbung, masya ALLAH. Kemudian saat melahirkannya pun berat dan sakitnya juga setengah mati. Padahal setelah si anak lahir belum tentu balas budi. Sudah perjuangan sekuat tenaga melahirkan, sewaktu kecil ngencingin, ngeberakin, sekolah ditungguin, cengengnya luar biasa, di SD tidak mau belajar (bahkan yang belajar, yang mengerjakan PR justru malah ibunya) dan si anak malah jajan saja, saat masuk SMP mulai kumincir, masuk SMU mulai coba-coba jatuh cinta. Bayangkanlah kalau semua proses mendidik dan mengurus anak itu tidak pakai keikhlasan, maka akan sangat tidak sebanding antara balas budi anak dengan pengorbanan ibu bapaknya. Bayangkan pula kalau menunggu anaknya berhasil, sedangkan prosesnya sudah capek setengah mati seperti itu, tiba-tiba anak meninggal, naudzhubillah, apa yang kita dapatkan?

Inilah yang akan menjadi pelajaran kita saat ini. Sekali lagi yang bernilai dari hidup ini adalah proses yang kita hadapi, jika didalam melalui proses ini terdapat sebuah kejujuran, keteladanan, dan kesabaran maka tak ayal hasil yang akan kita dapatkan adalah hasil yang baik pula. Bukannya apapun yang kita dapatkan didunia ini baik itu kekayaan, ilmu, takhta tak lain adalah kita ingin hidup terhormat baik dihadapan sesama makhluk maupun di hadapan Allah. Maka sudah pasti jawabannya adalah satu luruskan niat dan nikmati proses kehidupan ini dengan sebaik-baiknya proses.

Wallahua’lam..
Baca Selengkapnya | Nilai dari sebuah proses

RUNTUHNYA SENDI-SENDI ORIENTALISME DALAM KAJIAN ISLAM

RUNTUHNYA SENDI-SENDI ORIENTALISME DALAM KAJIAN ISLAM
Didin Saefuddin Buchori

A. Pengertian

Orientalisme adalah studi islam yang dilakukan oleh orang-orang Barat. Kritikus orientalisme bernama Edward W Said menyataka bahwa orientalisme adalah suatu cara untuk memahami dunia Timur berdasarka tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat Eropa[1].
Secara bahasa orientalisme berasal dari kata “orient” yang artinya “timur”. Secara etnologis orientalisme bermakna “bangsa-bangsa ditimur”, dan secara geografis bermakna “hal-hal yang bersifat timur, yang sangat luas ruang lingkupnya.” Orang yang menekuni dunia ketimuran ini disebut orientalis. Menurut Grand Larousse Encylopedique seperti dikutip Amin Rais[2], orientalis adalah sarjana yang menguasai maalah-maalah ketimuran, bahasa-bahsanya, kesusastraannya, dan sebagainya. Karena itu orientalisme dapat dikataka merupakan semacam prinsip-prinsip tertentu yang menjadi ideology ilmiah kaum orientalis.
Kata “isme” menunjukan pengertian tentang suatu pfaham. Jadi, orientalisme bermakna suatu faham atau aliran yang berkringinan menyelidiki hal0hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa ditimur beserta linkungannya.

B Latar Belakang Munculnya Orientalisme

Munculnya orientalisme tidak terlepas dari bberapa factor yang melatarbelakanginya, antara lain akibat perang Salib atau ketika dimulainya pergesekan politik da agama antara islam dan Kristen Barat di Oalestina. Argumentasi mereka menyatakan bahwa permusuhan politik berkecamuk antara umat islam dan Kristen Selama pemerinta Naruddin Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi. Karena kekalahan demi kekalahan yang dialami pasukan Kristen maka semangat membalas dendam tetap membara selama berabad-abad.

Fakto lainya adalah bahwa orientalisme muncul untuk kepentingan penjajahan Eropa terhadap Negara-negara Arab dan Islam di Timur, Afrika Utara dan Asia Tenggara, serta kepentingan mereka dalam memahami adat istiadat dan agama bangsa-bangsa jajahan iyu demi memperkokoh kekuaaan an dominasi ekonomi mereka pada bangsa-bangsa jajahan.
Factor-factor tersebut mendorong mereka menggalakan studi orientalisme dalam berbagai bentuknya di perguruan-perguruan tinggi dengan perhatian dan bantuan dari pemerintah mereka.

C Dogma Orientalisme
Menurut pengamatan Amien Rais [3] sekurang-kurangnya terdapat enam dogma orientalisme, yaitu pertama, ada perbedaan mutlak dan perbedaan sistematik antara Barat yang rasional, maju, manusiawi dan superior, dengan Timur yang sesat, irrasional, terbelakang dan inferior. Menurut anggapan mereka, hanya orang Eropa dan Amerika yang merupakan manusia-penuh, sedangkan orang Asia-Afrika hanya bertaraf setangah-manusia.

Edward W Said menyatakan orientalisme memandang Timur sebagai sesuatu yang kebaradaannya tidak hanya disuguhkan melainkan juga tetap tinggal pasti dalam waktu dan tempat bagi Barat. Seluruh periode sejarah budaya, politik dan sosial timur hanyalah dianggap sebagai tanggapan semata-mata terhadap Barat. Barat adalah pelaku (actor),sedangkan Timur hanyalah penanggap (reactor) yang fasif. Barat adalah penonton, penilai dan juri bagi setiapsegi tingkah laku Timur[4].

Sikap-sikap orientalis kontemporer, lanjut Said, telah menguasai pers dan pikiran masyarakat. Orang-orang Arab, umpamanya, dianggap si hidung belang yang senang menerima suap yang kekayaannya merupakan penghinaan terang-terangan terhadap peradaban sejati. Selalu ada asumsi bahwa meskipun konsumen Barat tergolong mitoritas dari penduduk dunia, mereka berhak untuk memiliki atau membelanjakan sebagian besar sumber daya dunia. Mengapa? Karena mereka manusia-manusia sejati yang berlainan dengan dunia Timur[5].

Kedua, abstraksi dan teorisasi tentang Timur lebih banyak didasarkan pada teks-teks klasik, dan hal ini lebih diutamakan dari peda bukti-bukti nyata dari mayarakat Timur yang konkret dan riil. Dalam masalah ini, para orientalis tidak bias mengelakan tuduhan Edward W Said baha mereka tidak mau menyelidiki perubahaan yang terjadi dalam masyarakat Timur, tetapi lebih mengutamakan isi teks-tek kuno sehingga orientalisme berputar-putar di sekitar studi tekstual, tidak realistis. Philiph K Hitti, umpanya, mengatakan bahwa untuk mempelajari islam dan umatnya tidak diperlukan kerangka teori baru karena, menuutnya, masyarakat Islam yang sekarang Sembilan abad yang lalu.

Keempat, pada dasarnya Timut itu merupakan sesuatu yang perlu ditakuti, atau sesuatu yang perlu ditaklukkan. Apabila seseorang orientalis mempelajari Islam dan umatnya, keempat dogma itu perlu ditambah dengan dua dogma pokok lainnya.
Kelima, al-Quran bukanlah wahyu Ilahi, melainkan buku karangan Muhammad yang merupakan gabungan unsur-unsur agama Yahudi, Kristen, dan tradisi Arab pra-Islam. Seorang orientalis bernama Chateaubriand, misalnya, mengindoktrinasi murid-muridnya bahwa al-Quran itu sekedar buku karangan Muhammad. Al-Quran tidak memuat prinsip-prinsip peradaban maupun ajaran yang memperluhur watak manusia. Ia bahkan mengatakan, al-Quran tidak mengutuk tirani dan iak mengajurkan cinta pada keerdekaan.
Keenam, kesahihan atau orientisitas semua hadis harus diragukan. Malah ada yang mengeritik syarat-syarat sehihnya hadist seperti yang dilakukan Joseph Schacht. Amien Rais menyindir bahwa disamping ada hadis riwayat Bukhari dan Muslim ada juga “hadis riwayat Josep Schacht”.

D Tujuan Orientalisme

Edward W Said melakukan kritik yang keras terhadap orientalisme. Menurutnya. Menurutnya, orientalisme tidak terletak dalam suatu ruangan hampa budaya[6]. Barat, tulis Said, betanggung jawab membentuk persepsi yang keliru tentang dunia yang ingin mereka “jalaskan”.
Merupakan suatu kenyataan baha para orientalis munyajikan karya tulisnya yang didasarkan pada tujuan tertentu. Secara garis tijuan itu terbagi tiga yaitu :
(1) untuk kepentingan penjajahan
(2) untuk kepentingan agama mereka
(3) untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Untuk kepentinagn penjajahan jalas tergambar dari penelitian-penelitian yang serius yang dilakukan para orientalis. Dalam kasus Indonesia, Snouck Hurgronye begitu jelas. Nama ini oleh pemerintah Belanda diberi kepercayaan untuk mangkaji Islam sedalam-dalamnya sehingga sempat menetap di Mekkah bertahun-tahun. Namun tujuan pengkajiannya tidak lain kecuali untuk melemahkan perlawanan umat islam terhadap Belanda serta mengobrak-abrik pertahanan persatuan dan pertahanan kaum muslim dengan politik belah bambunya[7].

Untuk kepentingan agama juga jelas karena semua penjajah yang menguasai Negara-negara muslim adalah berlatar belakang agama Kristen. Sekalipun ada teori bahwa para kolonialis tidak berambisi mengkristenkan penduduk, namun setidak-tidaknya para penginjil telah menemukan momentumnya untuk membonceng pihak kolonialis untuk menyebarkan Kristen ke tengah penduduk.

Untuk kepentingan ilmu pengetahuan; memang para orientalis beraal dari para intelek dan sarjana yang serius mengkaji masalah-masalah ketimuran. Hampir di tiap universitas di Amerika selalau ada pusat-pusat kajian ketimuran separti pusat kajian timur Tengah, Asia Tenggara, Asia Tengah dan Asia Selatan.

Tujuan yang ketiga dapat menghasilkan yang netral atau fair tentang islam sekalipun demi kenetralan imu mereka juga dapat member kesimpilan yang kurang fair tentang Islam. Namun tujuan pertama dan kedua sudah pasti akan menghasilkan penelitian yang miring, bias dan tidak fair tentang Islam demi kepentingan colonial dan ekspansi agama mereka.

E Pro Kontra terhadap Orientalisme

Berbagai macam tanggapan kaum Muslimin terhadap orientalisme. Sebagian mereka ada yang menganggap seluruh orientalis sebagai musuh Islam. Mereka bersikap ekstrim dan menolak seluruh karya orientalis. Bahkan di antara mereka ada yang secra emosional menyatakan bahwa orang Islam yang mempelajaritulisan orientalis termasuk antek Zions[8].
Mereka mempunyai argument bahwa orientalisme bersumber pad aide-ide Kristenisasi yang menurut islam sangat merusak dan bertujuan menyerang banteng pertahanan islam dari dalam. Karena pada Faktanya tidak sdikit karya-karya orientalis yang bertolak belakang dengan islam. H.A.R.Gibb, misalnya, dalam karyanya Mohammedanism berpendapat bahwa al-Quran hanyalah karangan nabi Muhammad; juga dengan menanamkan islam sebagai Mohammedanism, Gibb mencoba menurunkan derajat kesucian agama wahyu ini, padahal ia tahu persis tak ada seorang manusia Muslim pun berpendapat bahwa Islam adalah ciptaan Muhammad SAW[9].

Pandangan yang sepenuhnya negatife dikemukakan oleh Ahmad Abdul Hamid Ghurab mengenai karakter Orientalisme yaitu: pertama, orientalisme adalah suatu kajian yang mempunyai ikatan yang sangat erat dengan kolonialisme Barat; kedua, gerakan yang mempunyai ikatan yang sangat kuat dengan kristeniasi; ketiga, orientalisme merupakan kajian gabungan yang kuat antara kolonialisme dengan gerakan Kristenisasi yang validitas ilmiah dan obyektivitasnya tidak dapat dipertanggung jawabkan secara mutlak khususnya dalam mengutarakan kajian tentang islam; keempat, orientalisme merupakam bentuk kjian yang dianggap paling potensial dalam politik Barat untuk malawan islam[10].

Sebagian lagi bersikap lebih toleran dan mereka terbagi dalam dua kelompok, bersikap sangat berlebihan, artimya semua karya tulis kaum orientalis samgat obyektif dan dapat dipercaya.
Kelompok lain bersikap hati-hati dan kritis; mereka selalu berusaha berpijak pada landasan keilmuan. Menurut mereka, cukup banyak karya tulis kaum orientalis obyektif tentang Islam dan umatnya, karena memang tidak semua karya orientalis bertolak belakang dengan islam melainkan hanya sebagian kecilnya saja.

Maryam Jamilah menyatakan bahwa orientalisme tidak sama sekali buruk. Sejumlah pemikir besar di barat, kata Jamilah, telah menghabiskan umurnya untuk mengkaji Islam lantaran mereka ecara jujur tertarik terhadap kajian-kajian itu. Tanpa usaha mereka, banyak diantara pengethuan berharga dalam buku-buku Islam kuno akan hilang tanpa bekas atau tidak terjamah orang[11]. Para orientalis dari inggris seperti mendiang Reynold Nicholson dan Arthur J. Arberry brhasil menulis karya penting beripa penerjemah karya-karya islam klasik sehingga terjemahan-terjemahan itu untuk pertama kalinya dapat dikaji oleh para pembaca di Eropa.
Pada umumnya para orientalis itu bener-bener menekuni pekerjaan penerjemahan ini. Mereka yang cenderung manbatasi cukupan pengkajiannya hanya pada deskripsi, kadang-kadang berhasil menulis buku-buku yang sangat bermanfaat, informative dan membuka cakrawala pemikiran baru. Persoalan timbul pada saat mereka melangkah terlalu jauh dari batas-batas yang bener dan berusaha menafsirkan Islam dan pristiwa –pristiwa yang terjadi di Dunia Islam berdasarkan pendangan-pandangan pribadi yang tidak cocok.

Yang paling jelek diantara mereka adalah para orientalis yang mencoba memberikan saran kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita memecahkan persoalan-persoalan kita dan apa yang seharusnya kita lakukan terhadap agama kita[12]. Kritik tajam, ilmiah dan berdampak pada dunia orientalisme dating dari Edward W Said dalam karyanya Orientalisme. Karya Guru besar Universitas Columbia, New York, ini telah menimbulkan kehebohan da kontroversi di lingkungan dunia akademis Barat yang biasa disebut kaum orientalis.
Menurut Said, orientalisme bukna sekedar wacana akademis tetapi juga memiliki akar-akarpolitis, ekonomis, dan bahkan relijius. Secara politis, penelitian, kajian dan pandangan Barat tentang dunia “oriental” brtujuan umtuk kepentingan politik kolonialisme Eropa untuk menguasai wilayah-wilayah muslim[13]. Dan kolonialisme Eropa tak bias lain berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan sekaligus juga kepentingan keagamaan; tegasnya penyebaran Kristen.
Ketiga kepentingan yang saling terkait satu sama lain ini tersimpul dalam slogan yang sangat terkenal tentang ekspansi Eropa ke kaasan dunia Islam, yang mencangkup 3G yakni Glory, Goldand Gospel: “kejayaan, kekayaan ekonomi dan penginjilan.”
Semua motif dan kepentingan orientalisme ini secara implicit juga bersifat rasis. Dan ini tercermin dalam slogan missi “pembudayaan” terhadap duinia timur”yang terbelakang”,jika tidak”primitive”.

Kritik keras Said yang sangat menusuk itu mau tak mau sangat mengguncangkan sendi-sendi kajian Barat terhadap dunia timur. Hasilnya, di kalangan banyak sarjana barat yang biasa disebut orientalis, istilah “orientalisme” menjadi sesuatu yang pejorotif, jika tidak dasgisting[14].
F Beberapa contoh Orientalis

1. H.A.R Gibb

ia meninggal tahun 1971. Duu mengajar di Oxford dan Hardvard. Pendapat-pendapat Gibb mengenai Islam sering diamggap simpatik oleh kalangan sarjana Islam sendiri. Salah satunya pendapatnya yang simpatik adalah ia menyatakan bahwa “islam is indeed much more than a system of theology, it is complete civilization” (islam sesungguhnya lebih dari satu sistem teologi, ia adalah peradaban yang sempurna.
Tetapai menurut pengamatan Amien Rais, Kalau diteliti dalam salah satu bukunya ia mengarahkan pembacaannya supaya yakin baha pad azaman modern prana Islam dalam kehidupan social pasti akan sirna. Secara ringkas argumennya adalah:
Sebagai agama dalam arti sempit, islam hanya kehilangan sedikit kekuatannya. Namun sebagai penentu dalam kehidupan social di zaman modern, islam sedang dicopot dari singgasannya. Dalam kehidupan modern terlalau banyak masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan islam. Dalam hal ini, islam tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menyerah pada keadaan, dan islam akan ditelan oleh perkembangan zaman[15]. Orang islam yang tertarik pada Gibb ini tentu akan berfikir bahwa sekularisme memang tapat untuk kemajuan Islam.
2. Wilfred Cantwell Smith

Orientalis ini sering juga dianggap simpatik pada Islam. Bukunya Islam in Modern History sangat masyhur termasuk di Negara kita. Setelah kita selesai membaca buku ini penilaian aneh segera timbul karena menurut Smith perkembangan yang paling menggembirakan dalam dunia islam sedang dialami oleh lslam di Dunia dan Turki.
Tatapi bagaimana mungkin bisa mengambil kesimpulan yang begitu achistorical? Islam sedang berbentur-bentur di samudera India, dan sampai sekarang pun tetap jadi minoritas yang keadaannya sangat memprihatinkan, sedangkan ketika buku Smith itu terbit (1957), Islam di Turki sdang bergulat dengan sisa-sisa Sekularisme Attaturk yang mengakibatkan luka-lika terlalu dalam.

3. Montgomery Watt

Selain di pandang lembut dan simpatik pada islam, Wtt dinilai juga sebagai sangat teliti dan hati-hati dalam mempelajari sumber-sumber Islam. Walaupun demikian kita memperoleh sebuah “nasehat” yang “bagus” dalam bab terakhir bukunya Islam and the Integration of Society. Setelah memaparkan analisisnya, Watt cukup bebrbesar jiwa mau mengakui bahwa Islam bisa memiliki peranan besar didunia ini pada masa mendatang. Namun cepat ia menambahkan bahwa Islam “harus bersdia mengakui asal-usulnya”. Apa yang ia maksud? Tidak lebih dari pada pencampurbauran unsure-unsur perjanjian Lama, Logika selanjutnya adalah umat islam supaya mau melepaskan al-Qur’an kalau ingin memiliki di masa mandating.
Karya-karya Watt tentang Islam terhitun banyak. Kebanyakan kijiannya adalah tentang sejarah Islam. Karya-karyanya antara lain adalah: Muhammad at Mecca, Muhammad at Medina, The Majesty That Was Islam, History of Islamic Spains, The Influence of Islam in Medieval Europe. Dalam karya yang disebut terakhir, ia dengan meyakinkan menegaskan jasa besar Islam di biang ilmu pengetahuan yang kemudian diadopsi oleh orang-orang Eropa.

4. Gustave von Grunebaum
Menurut Amien Rais, tokoh ini tidak pernah menyembunyikan kebenciannya terhadap Islam. Di antara buku-bukunya yang mancaci-maki Islam adalah Modern Islam : The Search For Cultural Identity. Dalam buku ini antara lain ia menyataka bahwa peredaban islam tidak memiliki aspirasi-aspirasi primer seperi peradaban lainnya. Cirri peradaban Islam adalah antikemanusiaan. Selai itu, Islam tidak punya etik formatif dan kekurangan kesegaraan ontelektual. Kaun muslim tidak bisa maju, tidak ilmiah, tidak bisa obyektif, tidak kreatif, dan otorier. Islam ditangan von Grunebaum adalah islam yang direduksi dan ditempeli sifat-sifat negative yang bisa dikhayalkan oleh Grunebaum. Kebencinnya juga dituangkan dalam bukunya Medieval Islam.

G. Studi Islam para Orientalis
Studi yang dilakukan para orientalis berangkat dari pradigma berfikir bahwa islam agama islam yang bisa siteliti deri sudut mana saja dan dengan kebebasan sedemikian rupa. Tidak mengherankan kalau mereka begitu bebasnya menilai, mengritik bahkan melucuti ajaran-ajaran dasar islam yang bagi kaum Muslim tabu unuk dopermasalahkan.
Studi yang meeka lakukan meliputi seluruh aspek ajaran islam seperti sejarah, hukum, teologi, quran, hadist, tasauf, bahasa, politik, kebuyaan dan pemikiran. Di antara mereka ada yang mengkaji islam meliputi seluruh aspek tadi, ada juga yang hanya meneliti satu aspek saja. Philiph K Hiti, HAR Gibb, dan Montgomery Joseph Schact pada kajian hukum Islm, David Power pada kajian Quran, dan A J Arberry pada aspek tasauf.
Sebagai contoh Dvid Power pernah meneliti sedalam-dalamnya ayat-ayat al-Qur’an sehingga memunculkan kesimpulan Quran tidak sempurna antara lain karena tidak adil membagi waris antara laki-laki dan perempuan. Josep Schacht kesimpulan bahwa hadis tidak layak menjadi sumber hukum Islam.

H. Orientalis dan Islamisis

Akhir-akhir ini pengkajian islam oleh oaring-orang bukan islam terus dilakukan bahkan makin intensif. Pengkajian itu masih didominasi oleh para pemikir barat. Hanya kalau dahulu para peneliti islam disebut orientalis maka sekarang mereka tidak suka disebut orintalis. Sebutan yang mereka lebih sukai adalah Islamis
Menurut Azyumardi Azra kecenderungan mereka tidak ingin disebut orientalis muncul setelah kritik tajam Edward W. Said dalam bukunya Orientalisme[16]. Dalam buku ini Said mengungkapkan secara tajam bias intelektual Barat terhadap dunia Timur (oriental) umumnya, dan islam serta dunia Muslim khususnya. Dengan tegar dia mengemukakan gugatan bahwa Barat bertanggung jawab membentuk persepsi yang keliru tentang dunia yang ingin mereka “jelaskan”.

Perbandingan paradigm Orientalis dan Islamisis
Memang terdapat perbedaan antara keduanya. Orientalis lebih kental nuansa politis dan tendensi kecurigaannya terhadap Islam. Islamisis tampak lebih bersahabat. Kajiannya bersifat ilmiah, dari pada penyelidikan demi kepentingan imperealisme. Nama-nama Islamisis yang produktif saat ini adalah John L. Esposito, karena Armstrong, Martin Lings, Annemarie, John O. Voll, Ira M. Lpidus, Mrshal GS Hodgson, Leonard BINDER DAN Charles Kurtzman. Di antara mereka ada yang kemudian masuk Islam seperti Annemarie Svhimmel

Esposito amat produktif menulis kajian Islam. Di antara bukunya adalah: Voices of Resurgent Islam, Ensiklopedi Dunia Islam Modern, sejarah peradaban Islam, Islam politik, dan Ancaman islam Mitos atau Realitas. Kjiannya berusaha mengungkapkan fakta seobyaktif mungkin, nyaris tanpa komentar yang miring kecenderung mencari kelemahan-kelemahan islam dan umatnya seperti yang dilakukan para orientalis tampaknya tidak menonjol. Bahkan kekayaan data fakta menjadi cirri mereka dalam mengkaji islam. Marshal Hodgson baru peradaban islam lewat analisis-analisinya yang meltiaspek.

Azyumardi Azra memuji karya Hodgson sebagai “contoh yang sangat baik tentang penulisan sejarah islam setelah perang dunia II”[17] dan karya Lpidus sebagai “karya paling lengkap dan kompehensif tentang sejarah masyarakat-masyarakat Muslim”[18]

Catatan

  1. Edward W Said, Orientalisme, Trej. Asep Hikmat, Bandung: pustaka Slman,1996
  2. M. Amien Rais, Cakrawala Islam, Bandung: Mizan, 1986, hlm.
  3. Ibid., hlm. 234.
  4. Said, orientalisme, hlm.143-144.
  5. Ibid., hlm. 143.
  6. Ibid.,hlm. 16.
  7. Untuk melihat lebih jelas peran Hurgronje lihat Hamid Algadri, Snouck Hurgronye, polotik Belanda terhadap islam dan keurunan Belanda, Jakarta: penerbit Sinar Harapan, 1984. Dan Aqib Sumino, politik Islam Snouck Hurgronye, Jakarta: LP3ES.
  8. Qasim Al-samurai, bukti-bikti kebohongan Orientalis, Jakarta: Gema Insani Press, 1996, hlm. 1.
  9. Rais, Cakrawala,hlm. 241.
  10. Ahmad Abdul Hamid Ghurab, menyingkap Tabur Orientalisme, Jakarta: pustaka al-Kautsar, 1993, hlm. 21.
  11. Maryam Jamilah, islam dan Orientaisme, sebuah Kjian Analitik. Terj. Mchnum Husein, Jakarta: Rajawalipers, 1994.hlm. 11.
  12. Ibid
  13. Said, Orientalisme, hlm. 16.
  14. Azra, Historiografi, hlm. 187.
  15. HAR Gibb, Whiter Islam, hlm. 335 sebagaimana dikutup Amien Rais dalam Cakrawala, hlm. 240.
  16. Azra, Historigrafi, hlm. 187.
  17. Ibid., hlm. 68.
  18. Ibid., hlm 65.
Baca Selengkapnya | RUNTUHNYA SENDI-SENDI ORIENTALISME DALAM KAJIAN ISLAM

Menjadi Manusia terbaik

Menjadi Manusia terbaik
Oleh :Nurdin Al-Azies


Sahabat, Sungguh beruntung bagi siapapun yang dikaruniai ALLOH kepekaan untuk mengamalkan aneka peluang kebaikan yang diperlihatkan ALLOH kepadanya. Beruntung pula orang yang dititipi ALLOH aneka potensi kelebihan oleh-Nya, dan dikaruniakan pula kesanggupan memanfaatkannya untuk sebanyak-banyaknya umat manusia.

Karena ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauhmana dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain" (H.R. Bukhari).

Seakan hadis ini mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauhmana derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah sejauhmana nilai manfaat diri ini? Kalau menurut Emha Ainun Nadjib, harusnya tanyakan pada diri ini apakah kita ini manusia wajib, sunat, mubah, makhruh, atau malah manusia haram? Apa itu manusia wajib? Manusia wajib ditandai jikalau adanya sangat dirindukan, sangat bermanfaat, bahkan perilakunya membuat hati orang disekitarnya tercuri.

Akhi wa Ukhtifillah. Tanda-tanda yang nampak dari seorang 'manusia wajib', diantaranya dia seorang pemalu yang jarang mengganggu orang lain, sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku kesehariannya lebih banyak kebaikannya. Ucapannya senantiasa terpelihara, ia hemat betul kata-katanya, sehingga lebih banyak berbuat daripada hanya berbicara. Sedikit kesalahannya, tidak suka mencampuri yang bukan urusannya, dan sangat nikmat kalau ia berbuat kebaikan. Hari-harinya tidak lepas dari menjaga silaturahmi, sikapnya penuh wibawa, penyabar, selalu berterima kasih, penyantun, lemah lembut, bisa menahan dan mengendalikan diri, serta penuh kasihsayang.

Sama sekali bukan kebiasaan bagi yang akhlaknya baik perilaku melaknat, memaki-maki, memfitnah, menggunjing, bersikap tergesa-gesa, dengki, bakhil, ataupun menghasut. Justru ia selalu berwajah cerah, ramah tamah, mencintai karena ALLOH, membenci karena ALLOH, dan marahnya pun karena ALLOH SWT, subhanallah demikian indah hidupnya.
Karenanya, siapapun di dekatnya pastilah akan tercuri hatinya. Kata-katanya akan senantiasa terngiang-ngiang. Keramahannya pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yang sedang membara. Jikalau saja orang berakhlak mulia ini tidak ada, maka siapapun akan merasa kehilangan, akan terasa ada sesuatu yang kosong di rongga kalbu ini. Orang yang wajib, adanya pasti penuh manfaat dan kalau tidak ada, siapapun akan merasa kehilangan. Begitulah kurang lebih perwujudan akhlak yang baik, dan ternyata ia hanya akan lahir dari kepribadian yang baik pula.

Kalau orang yang sunah, keberadaannya bermanfaat, tapi kalaupun tidak ada tidak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amalnya belum dari lubuk hati yang paling dalam. Karena hati akan tersentuh oleh hati lagi. Seperti halnya, kalau kita berjumpa dengan orang yang berhati tulus, perilakunya benar-benar akan meresap masuk ke rongga kalbu siapapun.
Sedangkan orang yang mubah ada dan tidak adanya tidak berpengaruh. Sering kesekretariat LDK aau Tidak, ikut suro atau tidak, sama saja. Seorang yang ketika ada di rumah keadaan menjadi berantakan, dan kalau tidak adapun tetap berantakan. Inilah orang yang mubah. Ada dan tiadanya tidak membawa manfaat, dan tidak juga membawa mudharat.
Adapun orang yang makruh, keberadaannya justru membawa mudharat dan kalau dia tidak ada tidak berpengaruh. Artinya, kalau dia datang ke suatu tempat maka orang merasa bosan atau tidak senang. Misalnya, ada seorang mahasiswa, sebelum dia daang masuk kekelas waktu kuliah, suasana kuliah sangatlah tenang, tetapi seketika dia mengetuk pintu, mengucapkan salam, peranda dia akan mengikuti kuliah pada kesempatan itu, teman-teman yang lain menjadi gelisah malah perpindah tempat duduk, dosen pengajarnya risih, karena keberadaannya selalu menimbulkan masalah.

Seorang anak yang makruh, kalau pulang kuliah justru masalah pada bermunculan, dan kalau tidak pulang suasana malah menjadi aman tentram. Sedangkan karyawan yang makruh, kehadirannya di tempat kerja hanya melakukan hal yang sia-sia daripada bersungguh-sungguh menunaikan tugas kerja.
Lain lagi dengan orang bertipe haram, keberadaannya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Jikasaja dia pergi kuliah, justru perlengkapan kuliah pada hilang, maka ketika orang ini dipecat semua mahasiswa dan staf yang ada malah mensyukurinya.

Masya ALLOH, tidak ada salahnya kita merenung sejenak, tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan orang tua atau malah hanya jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat manfaat tidak dengan kehadiran kita? Adanya kita di masyarakat sebagai manusia apa, wajib, sunah, mubah, makhruh, atau haram? Kenapa tiap kita masuk ruangan teman-teman malah pada menjauhi, apakah karena perilaku sombong kita?

Kepada para sahabat, hendaknya tanyakan pada diri masing-masing, apakah sahabat-sahabat kita sudah merasa bangga punya kawan seperti kita? Punya manfaat tidak kita ini? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat? Kepada para kader dakwah, harus bertanya nih, benarkah kita menyampaikan kebenaran atau hanya mencari penghargaan dan popularitas saja?
Nampaknya, saat bercermin seyogyanya tidak hanya memperhatikan wajah saja, tapi pandanglah akhlak dan perbuatan yang telah kita lakukan. Sayangnya, jarang orang berani jujur dengan tidak membohongi diri, seringnya malah merasa pinter padahal bodoh, merasa kaya padahal miskin, merasa terhormat padahal hina. Padahal untuk berakhlak baik kepada manusia, awalnya dengan berlaku jujur kepada diri sendiri.

Kalaupun mendapati orang tua kita berakhlak buruk. Sadarilah bahwa darah dagingnya melekat pada diri kita, karenanya kita harus berada di barisan paling depan untuk membelanya demi keselamatan dunia dan akhiratnya. Bagi orang tua yang belum Islam, kewajiban seorang anaklah yang bertanggung jawab mengikhtiarkannya jalan hidayah. Apabila orang tua berlumur dosa dan belum mau melakukan shalat, maka seorang anaklah yang berada pada barisan pertama membantu orang tua kita menjadi seorang ahli ibadah dan ahli taubat.

Ingatlah, walau bagaimanapun kita punya hutang budi pada orang tua kita. Keburukan yang ada pada mereka, jangan menjadikan kebencian, jangan pula menyalahkan dan menyesali diri, "kenapa saya lahir dari orang tua yang sudah cerai?" misalnya. Atau adapula anak yang sibuk menyalahkan diri, karena tidak pernah tahu keberadaan orang tuanya. Sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah jika hanya menyalahkan keadaan. Lebih baik kita tanyakan pada diri ini, apakah sudah punya manfaat tidak kita ini? Makin banyak manfaat yang kita lakukan dengan ikhlas, insya ALLOH itulah rizki kita.

Begitu pula terhadap lingkungan, kita harus punya akhlak tersendiri. Seperti pada binatang, kalau tidak perlu tidak usah kita menyakitinya. Ada riwayat seorang ibu ahli ibadah, tapi ALLOH malah mencapnya sebagai ahli neraka. Mengapa? Ternyata karena si ibu ahli ibadah ini pernah mengurung kucing dalam sebuah tempat, sehingga si kucing tidak mendapatkan jalan keluar untuk mencari makan, padahal oleh si ibu tidak pula diberi makan, sampai akhirnya kucing itu mati. Karenanya, walau si ibu ini ahli ibadah, tapi ALLOH melaknatnya karena akhlak pada makhluknya jelek.

Kadang aneh kita ini, ketika duduk di taman nan hijau, entah sadar atau tidak kita cabuti rumput atau daun-daunan yang ada tanpa alasan yang jelas. Padahal rumput, daun, dan tumbuh-tumbuhan yang ada di alam semesta ini semuanya sedang bertasbih kepada-Nya. Yang paling baik adalah jangan sampai ada makhluk apapun di lingkungan kita yang tersakiti. Termasuk ketika menyiram atau memetik bunga, tanaman, atau tumbuhan lainnya, hendaklah dengan hati-hati, karena tanaman juga mengerti apa yang dilakukan kita kepadanya. Dikisahkan ketika Nabi SAW pindah mimbar, yang asalnya menyandar pada sebuah pohon kurma, maka pohon kurma itu diriwayatkan sangat sedih dan menangis, karena ia telah ditinggalkan sebagai alat bantu Rasulullah SAW dalam menyampaikan ilmu kepada para sahabatnya.

Kejadian lain adalah ketika seorang hamba yang shalih dihampiri seekor singa yang mengaum-ngaum seakan hendak menerkamnya. Tentu saja semua orang yang melihat kejadian ini berlari ketakutan. Anehnya, hamba yang shalih ini sama sekali tidak kelihatan merasa takut, kenapa? Karena dia yakin bahwa singa juga makhluk dalam genggaman ALLOH dan sama-sama sedang bertasbih kepada-Nya. Seraya mengajak berbicara layaknya pada makhluk yang bisa diajak bicara, "Mau apa kesini? Kalau tidak ada kewajiban dari ALLOH dan hanya untuk mengganggu masyarakat, alangkah baiknya engkau pergi", maka pergilah singa itu, subhanallah. Demikianlah, orang yang takutnya hanya kepada ALLOH, makhluk pun tunduk kepadanya.

Seperti halnya ketika ada ular di halaman rumah, maka bagi orang yang akhlaknya baik dan dia merasa tidak terganggu, sama sekali dia tidak akan membunuhnya, malah ditolongnya si ular ini untuk bisa kembali ke habitatnya, itu yang lebih baik. Kalaupun dirasa mengganggu sehingga tidak ada jalan lain kecuali harus dibunuh, maka ia akan membunuhnya dengan cara terbaik, dan tidak lupa disebutnya asma ALLOH. Jadilah proses membunuh ular ini sebagai ladang amal.

Betapa indah pribadi yang penuh pancaran manfaat, ia bagai cahaya matahari yang menyinari kegelapan, menjadikannya tumbuh benih-benih, bermekarannya tunas-tunas, merekahnya bunga-bunga di taman, hingga menggerakkan berputarnya roda kehidupan. Demikianlah, cahaya pribadi kita hendaknya mampu menyemangati siapapun, bukan hanya diri kita, tetapi juga orang lain dalam berbuat kebaikan dengan full limpahan energi karunia ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah energi-Nya, subhanallah. Ingatlah, hidup hanya sekali dan sebentar saja, sudah sepantasnya kita senantiasa memaksimalkan nilai manfaat diri ini, yakni menjadi seperti yang disabdakan Nabi SAW, sebagai khairunnas. Sebaik-baik manusia!
Semga kita mampu engamakan amal-amal kebajikan kita Insya ALLOH. ***

Wallahu’alam...
**Dikutif dan ditulis ulang dari kumpulan tausiyah AA GYM
Baca Selengkapnya | Menjadi Manusia terbaik

Hakikat Cinta

Hakikat Cinta
oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar


Cinta adalah bagian dari fitrah, orang yang kehilangan cinta dia tidak normal tetapi banyak juga orang yang menderita karena cinta. Bersyukurlah orang-orang yang diberi cinta dan bisa menyikapi rasa cinta dengan tepat.

Hikam:
"Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik." (Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14)

"Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Cinta memang sudah ada didalam diri kita, diantaranya terhadap lawan jenis. Tapi kalau tidak hati-hati cinta bisa menulikan dan membutakan kita. Cinta yang paling tinggi adalah cinta karena Allah cirinya adalah orang yang tidak memaksakan kehendaknya. Tapi ada juga cinta yang menjadi cobaan buat kita yaitu cinta yang lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yang semakin bergelora hawa nafsu, makin berkurang rasa malu. Dan, inilah yang paling berbahaya dari cinta yang tidak terkendali.

Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seperti minum air laut semakin diminum semakin haus. Cinta yang sejati adalah cinta yang setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja.
Cara untuk bisa mengendalikan rasa cinta adalah jaga pandangan, jangan berkhalwat berdua-duaan, jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan. Bagi orang tua yang membolehkan anaknya berpacaran, harus siap-siap menanggung resiko. Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, istighfar dan sholat sehingga kita tidak diperdaya oleh nafsu, karena nafsu yang akan memperdayakan kita. Sepertinya cinta padahal nafsu belaka.
Baca Selengkapnya | Hakikat Cinta