19 Jul 2011

Jawaban Ilmiah, Bentengi Alquran


Tahun 2007 lalu. Fahmi Salim Zubair MA, seorang sarjana Alquran lulusan Universitas al-Azhar Kairo, menorehkan prestasi penting dalam studi Alquran. Ia lulus sebagai master dalam bidang tafsir di Universitas al-Azhar Kairo dengan predikat Summa Cum Laude (Penghargaan Tingkat Pertama), setelah berhasil mempertahankan Tesis-nya yang berjudul KHITHABAT DAWA FALSAFAT AL-TAWIL AL-HERMENUTHIQI Ll AL-QURAN ARDL WA NAQD (Studi analitis-kritis diskursus filsafat Hermeneutika Alquran).

Fahmi menyelesaikan tesisnya di bawah bimbingan dua guru besar Tafsir dan Ilmu-ilmu Alquran, yaitu Prof Dr Abdul Hayyi Husein Al-Farmawi dan Prof Dr Abdul Badi Abu Hasyim. Adapun para penguji tesis Fahmi Salim adalah Prof Dr Salim Abdul Kholik Abdul Hamid (Guru besar Tafsir dan ilmu-ilmu Alquran) dan Prof Dr Ali Hasan Sulaiman (Guru besar dan Ketua Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu Alquran, Fakultas Dirasat Islamiyah. Univ Al-Azhar).

Tesis Fahmi Salim itu sekarang sudah terbit menjadi sebuah buku berjudul Kritik terhadap Studi Alquran kaum Liberal (2010). Buku ini membedah model pemahaman teks ala Barat yang menjadi "alat buldoser" paling efektif dalam upaya sekularisasi dan liberalisasi masyarakat Muslim. Di tangan para pemasok dan pengecer paham sekularisme dan liberalisme, penggunaan metode hermeneutika dalam menafsirkan Alquran digunakan untuk menggusur ajaran-ajaran Islam yang baku dan permanen {tsawabit). agar compatible dengan pandangan alam (worldview) dan nilai-nilai modernitas Barat sekuler yang ingin dise-maikan ke tengah-tengah umat Islam.

Menurut Fahmi, ia tertarik mengkaji masalah hermeneutika tersebut, semenjak digelindingkannya upaya sistematis untuk meliberalkan kurikulum Islamic Studies di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Sederet nama para penganjur dan pengap-likasi hermeneutika untuk studi Islam tiba-tiba menjadi super stars dalam kajian Islam di Perguruan Tinggi Islam Indonesia. Sebut saja misalnya Hassan Hanafi (hermeneutika-fenomenologi). Nasr Hamid Abu Zayd (hermeneutika sastra kritis). Mohammad Arkoun (hermeneutika-antropologi nalar Islam), Fazlur Rahman (hermeneutika double movement). Fatima Mernissi-Riffat Hassan-Amina A Wadud (hermeneutika gender). Muhammad Syahrur (hermeneutika linguistik flqih perempuan), dan lain-lain yang cukup sukses membius mahasiswa dan para dosen di lingkungan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia baik negeri maupun swasta, hingga kini.

Bahkan beberapa tahun silam, munculnya Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam yang merombak dan melucuti banyakaspek-aspek yang qathi dalam sistem hukum Islam - meski telah ditolak dan digagalkan - telah mengindikasikan suatu upaya serius untuk menjadikan produk tafsir hukum ala hermeneutika ini sebagai produk hukum Islam positif yang mengikat seluruh umat Islam di tanah air. Itulah salah satu dampak terburuk dari tafsir model hermeneutika ini yang berkaitan dengan hajat hidup umat Islam Indonesia dalam soal pernikahan, perceraian, pembagian harta waris, pengasuhan anak, dan lain-lain.

Dewasa ini, gagasan dan tuntutan untuk melakukan pembacaan sekaligus pemaknaan ulang teks-teks primer agama Islam disuarakan dengan lantang. Tujuannya adalah agar teks-teks primer Islam, yang telah menjadi pedoman dan panduan lebih dari satu miliar umat Islam, dapat ditundukkan untuk mengikuti irama nilai-nilai modernitas sekuler yang didiktekan dalam berbagai bidang.

Seruan itu disuarakan serempak oleh parapemikir liberal baik di Timur-Tengah maupun di belahan lain dunia Islam, termasuk Indonesia. Berbagai seminar, workshop dan penerbitan buku hasil kajian dan penelitian digiatkan secara efektif untuk mengkampanyekan betapa mendesaknya pembacaan kritis" dan "pemaknaan baru" teks-teks Al-Quran dan Sunnah Rasul. Berbagai produk olahan isu-isu pemikiran yang diimpor dari Barat seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme agama, dan pengarusutamaan gender telah menjadi menu sajian yang menggoda untuk dihidang-kan kepada komunitas muslim.

"Kita patut curiga dan bertanya apakah tidak sebaiknya upaya pembacaan dan pemaknaan utang wacana agama itu diarahkan sebagai pembaruan metode dakwah Islam dan revitalisasi sarana-sarana pendukungnya di era kontemporer ini, sesuai dengan perkembangan zaman? Kita sangat memerlukan pemikiran segar dan cemerlang untuk mendak-wahkan prinsip-prinsip dan pandangan hidup Islam dengan metode yang cocok dengan kemajuan zaman. Jika ini yang terjadi, maka kita dengan senang hati menyambut seruan itu." ujarnya.

Namun, menurut Fahmi, kadangkala yang terjadi bukan seperti itu. Di lapangan, yang terjadi adalah adanya upaya untuk mengkaji ulang bahkan sampai pada taraf mengubah prinsip dan pokok-pokok agama dengan dalih keluar dari kungkungan ideologis nash-nash Alquran dan Sunnah, membatalkan keabsolu-tan nash Alquran dengan analisa historisitas teks atau relativisme teks. Juga, dibagian lain mereka ingin melakukan studi kritik literatur dan sejarah seperti yang dipraktekkan kalangan liberal Yahudi dan Kristen atas Bible sejak tiga abad silam. Bahkan, ada yang terang-terangan memunculkan pandangan bahwa nash Alquran dan Sunnah telah out of date dan hanya menghalangi proses integrasi umat Islam dengan nilai-nilai globalisasi kontemporer. Jika seperti ini yang terjadi di lapangan pemikiran, maka logika semacam ini harus ditolak mentah-mentah, baik keseluruhan maupun rinciannya," kata Fahmi.

Melihat fakta semacam itu, Fahmi mengaku berusaha serius untuk mengkaji dasar-dasar hermeneutika, menelusuri akar sejarahnya, sampai penerapannya sebagai pengganti metodologi tafsir dan takwil Alquran yang khas dalam tradisi keilmuan Islam.

Kajian Fahmi Salim tentang hermeneutika ini semakin membuka cakrawala baru dalam upaya membendung arus besar liberalisasi Alquran melalui penggunaan hermeneutika dalam studi Alquran. Semoga, upaya membentengi Alquran dari berbagai serangan yang berbungkus "studi ilmiah" seperti ini dapat terus dilanjutkan. Sebab, upaya untuk menyerang Alquran juga tidak akan pernah berhenti, meskipun senantiasa serangan itu berujung kepada kesia-siaan.


Oleh : Adian Husaini

Adian Husaini, M.A., (lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 17 Desember 1965; umur 45 tahun) adalah Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, sekretaris jenderal Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) dan Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina-Majelis Ulama Indonesia (KISP-MUI), Anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan anggota pengurus Majlis Tabligh Muhammadiyah.

Baca Selengkapnya | Jawaban Ilmiah, Bentengi Alquran

LIMA KONSEP ISLAMISASI SAINS

LIMA KONSEP ISLAMISASI SAINS

Istilah “Islamisasi sains” sudah pernah nyaring bergema di Indonesia pada era 1980-an. Tapi, kemudian redup, sejalan dengan ketidakjelasan konsep dan pengembangannya. Bahkan, sering timbul kesalahpahaman.

Apa sebenarnya “Islamisasi sains?”

Secara umum, ada lima arus utama wacana Islamisasi sains. Pertama, Islamisasi sains dengan pendekatan instrumentalistik, yaitu pandangan yang menganggap ilmu atau sains hanya sebagai alat (instrumen). Artinya, sains terutama teknologi sekedar alat untuk mencapai tujuan, tidak memperdulikan sifat dari sains itu sendiri selama ia bermanfaat bagi pemakainya.

Pendekatan ini muncul dengan asumsi bahwa Barat maju dan berhasil menguasai dunia Islam dengan kekuatan sains dan teknologinya. Karena itu, untuk mengimbangi Barat, kaum Muslim harus juga menguasai sains dan teknologi. Jadi, Islamisasi di sini adalah bagaimana umat Islam menguasai kemajuan yang telah dikuasai Barat.

Islamisasi sains dengan pendekatan ini sebenarnya tidak termasuk dalam islamisasi sains yang hakiki. Banyak muslim yang ahli sains, bahkan meraih penghargaan dunia, namun tidak jarang dia makin jauh dari Islam. Meski demikian, pendekatan ini menyadarkan umat untuk bangkit melawan ketertinggalan dan mengambil langkah mengembangkan sains dan teknologi.

Kedua, Islamisasi sains yang paling menarik bagi sebagian ilmuwan dan kebanyakan kalangan awam adalah konsep justifikasi. Maksud justifikasi adalah penemuan ilmiah modern, terutama di bidang ilmu-ilmu alam diberikan justifikasi (pembenaran) melalui ayat Al-Quran maupun Al-Hadits. Metodologinya adalah dengan cara mengukur kebenaran al-Qur’an dengan fakta-fakta objektif dalam sains modern.

Tokoh paling populer dalam hal ini adalah Maurice Bucaille. Menurut dokter asal Perancis ini, penemuan sains modern sesuai dengan al-Qur’an. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an, kitab yang tertulis 14 abad yang lalu, adalah wahyu Tuhan, bukan karangan Muhammad. Ilmuwan lain yang mengembangkan Islamisasi dengan pendekatan justifikasi ini adalah Harun Yahya, Zaghlul An-Najjar, Afzalur Rahman dll. Namun, konsep ini menuai banyak kritik, misalnya dari Ziauddin Sardar yang mengatakan bahwa legitimasi kepada al-Quran dalam kerangka sains modern tidak diperlukan oleh Kitab suci.

Meskipun bukan termasuk dalam kategori Islamisasi sains yang hakiki, pendekatan konsep ini sangat efektif mudah diterima oleh banyak Muslim serta meningkatkan kebanggaan mereka terhadap Islam. Namun demikian proses tersebut tidak cukup dan harus dikembangkan ke dalam konsep yang lebih mendasar dan menyentuh akar masalah kemunduran umat.

Ketiga, konsep Islamisasi sains berikutnya menggunakan pendekatan sakralisasi. Ide ini dikembangkan pertama kali oleh Seyyed Hossein Nasr. Baginya, sains modern yang sekarang ini bersifat sekular dan jauh dari nilai-nilai spiritualitas sehingga perlu dilakukan sakralisasi. Nasr mengritik sains modern yang menghapus jejak Tuhan di dalam keteraturan alam. Alam bukan lagi dianggap sebagai ayat-ayat Allah tetapi entitas yang berdiri sendiri. Ia bagaikan mesin jam yang bekerja sendiri.

Ide sakralisasi sains mempunyai persamaan dengan proses islamisasi sains yang lain dalam hal mengkritisi sains sekular modern. Namun perbedaannya cukup menyolok karena menurut Nasr, sains sakral (sacred science) dibangun di atas konsep semua agama sama pada level esoteris (batin). Padahal Islamisasi sains seharusnya dibangun di atas kebenaran Islam. Sains sakral menafikan keunikan Islam karena menurutnya keunikan adalah milik semua agama. Sedangkan islamisasi sains menegaskan keunikan ajaran Islam sebagai agama yang benar. Oleh karena itu, sakralisasi ini akan tepat sebagai konsep Islamisasi jika nilai dan unsur kesakralan yang dimaksud di sana adalah nilai-nilai Islam.

Keempat, Islamisasi sains melalui proses integrasi, yaitu mengintegrasikan sains Barat dengan ilmu-ilmu Islam. Ide ini dikemukakan oleh Ismail Al-Faruqi. Menurutnya, akar dari kemunduran umat Islam di berbagai dimensi karena dualisme sistem pendidikan. Di satu sisi, sistem pendidikan Islam mengalami penyempitan makna dalam berbagai dimensi, sedangkan di sisi yang lain, pendidikan sekular sangat mewarnai pemikiran kaum Muslimin. Mengatasi dualisme sistem pendidikan ini merupakan tugas terbesar kaum Muslimin pada abad ke-15 H.

Al-Faruqi menyimpulkan solusi dualisme dalam pendidikan dengan islamisasi ilmu sains. Sistem pendidikan harus dibenahi dan dualisme sistem pendidikan harus dihapuskan dan disatukan dengan jiwa Islam dan berfungsi sebagai bagian yang integral dari paradigmanya. Al-Faruqi menjelaskan pengertian Islamisasi sains sebagai usaha yaitu memberikan definisi baru, mengatur data-data, memikirkan lagi jalan pemikiran dan menghubungkan data-data, mengevaluasi kembali kesimpulan-kesimpulan, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan dan melakukan semua itu sehingga disiplin-disiplin itu memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cita-cita Islam.

Kelima, konsep Islamisasi sains yang paling mendasar dan menyentuh akar permasalahan sains adalah Islamisasi yang berlandaskan paradigma Islam. Ide ini yang disampaikan pertama kali secara sistematis oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Menurut al-Attas, tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslim adalah ilmu pengetahuan modern yang tidak netral telah merasuk ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis yang berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat. Oleh karena itu islamisasi sains dimulai dengan membongkar sumber kerusakan ilmu. Ilmu-ilmu modern harus diperiksa ulang dengan teliti.

Itu sebabnya al-Attas mengartikan Islamisasi sebagai, ”Pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belenggu paham sekular terhadap pemikiran dan bahasa. Juga pembebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekular dan tidak adil terhadap hakikat diri atau jiwanya…Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asalnya…” (Islam dan Sekularisme, 2010).

Oleh karena dalam hal ini ada dua cara metode Islamisasi yang saling berhubungan dan sesuai urutan. Pertama ialah melakukan proses pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat. Kedua, memasukkan elemen-elemen Islam dan konsep-konsep kunci ke dalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan.

Dengan demikian Islamisasi sains akan membuat umat Islam terbebaskan dari belenggu hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Tujuannya adalah wujudnya keharmonisan dan kedamaian dalam dirinya (fitrah). Islamisasi melindungi umat Islam dari sains yang menimbulkan kekeliruan dan mengembangkan kepribadian muslim yang sebenarnya. Oleh karena itu islamisasi sains tidak bisa tercapai hanya dengan menempeli (melabelisasi) sains dengan prinsip Islam. Hal ini hanya akan memperburuk keadaan selama “virus”nya masih berada dalam tubuh sains itu sendiri.

Jadi, Islamisasi sains tidak sesederhana, misalnya, tidak sekedar menyalakan lampu dengan terlebih dahulu membaca basmalah. Islamisasi sains adalah sebuah konsep dasar yang berkaitan dengan worldview seorang muslim untuk mengembalikan Islam menuju peradaban dunia yang berjaya. (***)


Oleh : Budi Handrianto

Mahasiswa S-3

Pendidikan Islam Univ Ibn Khaldun Bogor

Penulis buku “50 Tokoh Islam Liberal di Indonesia” dan “Islamisasi Sains”

Baca Selengkapnya | LIMA KONSEP ISLAMISASI SAINS

Nilai dari sebuah proses

Nilai dari sebuah proses
Oleh : Nurdin Al Azies


Banyak orang yang selalu mengeluh ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan yang menimpa dia, terkadang jalan keluar terakhir adalah menyerah, karena tidak mendapatkan keadaan sesuai dengan apa yang dia harapkan sebelumnya.
Terlalu fokus pada hasil yang ingin dicapai, akan berdampak keburukan bagi siapapun yang melaluinya. Contohnya, ketika seorang mahasiswa kuliah, dan apa yang dipikirkannya adalah nilai semata, maka apa yang akan dilakukannya adalah bagaimana caranya mendapatkan nilai yang bagus dengan cara yang instan tanpa memakan banyak waktu dan proses panjang yang melelahkan, maka jalan yang dipilihnya adalah dengan berlaku curang atau mencontek.

Inilah mengapa saya ingin mencoba membuat sebuah artikel yang akan membahas mengenai nilai dari sebuah proses, karena jika kita tela’ah ternyata yang bernilai dari hidup ini adalah sebuah proses, dan bukan hasil seperti apa yang kita damba-dambakan.
Bisa kita ambil pelajaran dari apa yang disampaikan Nabi Muhamad SAW atau apa yang terdapat dalam Al-Quran, bahwasannya manusia hanya wajib berusaha, sementara hasilnya hendaklah kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Kita semua yakin, Allah tidak akan pernah berbuat Dzolim terhadap hambanya, jikalau prosesnya benar, bersungguh-sungguh berusaha, melalui proses tersebut dengan menikmatinya dan bersabar terhadap hambatan, maka pastilah Allah akan memberikan hasil sesuai dengan apa yang kita harapkan. “Man Jadda Wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh maka berhasillah dia!.

Yang harus menjadi catatan untuk kita pada saat ini adalah selalu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar , selebihnya terserah ALLAH SWT.
Seperti para mujahidin yang berjuang membela bangsa dan agamanya, sebetulnya bukan kemenangan yang terpenting bagi mereka, karena menang-kalah itu akan selalu dipergilirkan kepada siapapun. Tapi yang paling penting baginya adalah bagaimana selama berjuang itu niatnya benar karena ALLAH dan selama berjuang itu akhlaknya juga tetap terjaga. Tidak akan rugi orang yang mampu seperti ini, sebab ketika dapat mengalahkan lawan berarti dapat pahala, kalaupun terbunuh berarti bisa jadi syuhada.


Bagi kita kuliah adalah suatu ikhtiar agar nilai kemanfaatan hidup kita meningkat. Kita menuntut ilmu supaya tambah luas ilmu hingga akhirnya hidup kita bisa lebih meningkat manfaatnya. Kita tingkatkan kemampuan salah satu tujuannya adalah agar dapat meningkatkan kemampuan orang lain. Kita cari nafkah sebanyak mungkin supaya bisa mensejahterakan orang lain.


Dalam mencari rizki ada dua perkara yang perlu selalu kita jaga, ketika sedang mencari kita sangat jaga nilai-nilainya, dan ketika dapat kita distribusikan sekuat-kuatnya. Inilah yang sangat penting. Dalam perkuliahan, niat kita mau apa nih? Kalau mau sekolah, mau kuliah, mau kursus, selalu tanyakan mau apa nih? Karena belum tentu kita masih hidup ketika diwisuda, karena belum tentu kita masih hidup ketika kursus selesai.

Sahabat. Kalau kita selama kuliah, selama sekolah, selama kursus kita jaga sekuat-kuatnya mutu kehormatan, nilai kejujuran, etika, dan tidak mau nyontek lalu kita meninggal sebelum diwisuda? Tidak ada masalah, karena apa yang kita lakukan sudah jadi amal kebaikan. Karenanya jangan terlalu terpukau dengan hasil.

Oleh sebab itu, sekali lagi jangan terpukau oleh hasil, karena hasil yang bagus menurut kita belum tentu bagus menurut perhitungan ALLAH. Kalau misalnya kualifikasi mental kita hanya uang 50 juta yang mampu kita kelola. Suatu saat ALLAH memberikan untung satu milyar, nah untung ini justru bisa jadi musibah buat kita. Karena setiap datangnya rizki akan efektif kalau iman kitanya bagus dan kalau ilmu kitanya bagus. Kalau tidak, datangnya uang, datangnya gelar, datangnya pangkat, datangnya kedudukan, yang tidak dibarengi kualitas pribadi kita yang bermutu sama dengan datangnya musibah. Ada orang yang hina gara-gara dia punya kedudukan, karena kedudukannya tidak dibarengi dengan kemampuan mental yang bagus, jadi petantang-petenteng, jadi sombong, jadi sok tahu, maka dia jadi nista dan hina karena kedudukannya.

Ada orang yang terjerumus, bergelimang maksiat gara-gara dapat untung. Hal ini karena ketika belum dapat untung akan susah ke tempat maksiat karena uangnya juga tidak ada, tapi ketika punya untung sehingga uang melimpah-ruah tiba-tiba dia begitu mudahnya mengakses tempat-tempat maksiat.

Nah, Sahabat. Selalulah kita nikmati proses. Seperti saat seorang ibu membuat kue lebaran, ternyata kue lebaran yang hasilnya begitu enak itu telah melewati proses yang begitu panjang dan lama. Mulai dari mencari bahan-bahannya, memilah-milahnya, menyediakan peralatan yang pas, hingga memadukannya dengan takaran yang tepat, dan sampai menungguinya di open. Dan lihatlah ketika sudah jadi kue, baru dihidangkan beberapa menit saja, sudah habis. Apalagi biasanya tidak dimakan sendirian oleh yang membuatnya. Bayangkan kalau orang membuat kue tadi tidak menikmati proses membuatnya, dia akan rugi karena dapat capeknya saja, karena hasil proses membuat kuenya pun habis dengan seketika oleh orang lain. Artinya, ternyata yang kita nikmati itu bukan sekedar hasil, tapi proses.

Begitu pula ketika ibu-ibu punya anak, lihatlah prosesnya. Hamilnya sembilan bulan, sungguh begitu berat, tidur susah, berbaring sulit, berdiri berat, jalan juga limbung, masya ALLAH. Kemudian saat melahirkannya pun berat dan sakitnya juga setengah mati. Padahal setelah si anak lahir belum tentu balas budi. Sudah perjuangan sekuat tenaga melahirkan, sewaktu kecil ngencingin, ngeberakin, sekolah ditungguin, cengengnya luar biasa, di SD tidak mau belajar (bahkan yang belajar, yang mengerjakan PR justru malah ibunya) dan si anak malah jajan saja, saat masuk SMP mulai kumincir, masuk SMU mulai coba-coba jatuh cinta. Bayangkanlah kalau semua proses mendidik dan mengurus anak itu tidak pakai keikhlasan, maka akan sangat tidak sebanding antara balas budi anak dengan pengorbanan ibu bapaknya. Bayangkan pula kalau menunggu anaknya berhasil, sedangkan prosesnya sudah capek setengah mati seperti itu, tiba-tiba anak meninggal, naudzhubillah, apa yang kita dapatkan?

Inilah yang akan menjadi pelajaran kita saat ini. Sekali lagi yang bernilai dari hidup ini adalah proses yang kita hadapi, jika didalam melalui proses ini terdapat sebuah kejujuran, keteladanan, dan kesabaran maka tak ayal hasil yang akan kita dapatkan adalah hasil yang baik pula. Bukannya apapun yang kita dapatkan didunia ini baik itu kekayaan, ilmu, takhta tak lain adalah kita ingin hidup terhormat baik dihadapan sesama makhluk maupun di hadapan Allah. Maka sudah pasti jawabannya adalah satu luruskan niat dan nikmati proses kehidupan ini dengan sebaik-baiknya proses.

Wallahua’lam..
Baca Selengkapnya | Nilai dari sebuah proses

RUNTUHNYA SENDI-SENDI ORIENTALISME DALAM KAJIAN ISLAM

RUNTUHNYA SENDI-SENDI ORIENTALISME DALAM KAJIAN ISLAM
Didin Saefuddin Buchori

A. Pengertian

Orientalisme adalah studi islam yang dilakukan oleh orang-orang Barat. Kritikus orientalisme bernama Edward W Said menyataka bahwa orientalisme adalah suatu cara untuk memahami dunia Timur berdasarka tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat Eropa[1].
Secara bahasa orientalisme berasal dari kata “orient” yang artinya “timur”. Secara etnologis orientalisme bermakna “bangsa-bangsa ditimur”, dan secara geografis bermakna “hal-hal yang bersifat timur, yang sangat luas ruang lingkupnya.” Orang yang menekuni dunia ketimuran ini disebut orientalis. Menurut Grand Larousse Encylopedique seperti dikutip Amin Rais[2], orientalis adalah sarjana yang menguasai maalah-maalah ketimuran, bahasa-bahsanya, kesusastraannya, dan sebagainya. Karena itu orientalisme dapat dikataka merupakan semacam prinsip-prinsip tertentu yang menjadi ideology ilmiah kaum orientalis.
Kata “isme” menunjukan pengertian tentang suatu pfaham. Jadi, orientalisme bermakna suatu faham atau aliran yang berkringinan menyelidiki hal0hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa ditimur beserta linkungannya.

B Latar Belakang Munculnya Orientalisme

Munculnya orientalisme tidak terlepas dari bberapa factor yang melatarbelakanginya, antara lain akibat perang Salib atau ketika dimulainya pergesekan politik da agama antara islam dan Kristen Barat di Oalestina. Argumentasi mereka menyatakan bahwa permusuhan politik berkecamuk antara umat islam dan Kristen Selama pemerinta Naruddin Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi. Karena kekalahan demi kekalahan yang dialami pasukan Kristen maka semangat membalas dendam tetap membara selama berabad-abad.

Fakto lainya adalah bahwa orientalisme muncul untuk kepentingan penjajahan Eropa terhadap Negara-negara Arab dan Islam di Timur, Afrika Utara dan Asia Tenggara, serta kepentingan mereka dalam memahami adat istiadat dan agama bangsa-bangsa jajahan iyu demi memperkokoh kekuaaan an dominasi ekonomi mereka pada bangsa-bangsa jajahan.
Factor-factor tersebut mendorong mereka menggalakan studi orientalisme dalam berbagai bentuknya di perguruan-perguruan tinggi dengan perhatian dan bantuan dari pemerintah mereka.

C Dogma Orientalisme
Menurut pengamatan Amien Rais [3] sekurang-kurangnya terdapat enam dogma orientalisme, yaitu pertama, ada perbedaan mutlak dan perbedaan sistematik antara Barat yang rasional, maju, manusiawi dan superior, dengan Timur yang sesat, irrasional, terbelakang dan inferior. Menurut anggapan mereka, hanya orang Eropa dan Amerika yang merupakan manusia-penuh, sedangkan orang Asia-Afrika hanya bertaraf setangah-manusia.

Edward W Said menyatakan orientalisme memandang Timur sebagai sesuatu yang kebaradaannya tidak hanya disuguhkan melainkan juga tetap tinggal pasti dalam waktu dan tempat bagi Barat. Seluruh periode sejarah budaya, politik dan sosial timur hanyalah dianggap sebagai tanggapan semata-mata terhadap Barat. Barat adalah pelaku (actor),sedangkan Timur hanyalah penanggap (reactor) yang fasif. Barat adalah penonton, penilai dan juri bagi setiapsegi tingkah laku Timur[4].

Sikap-sikap orientalis kontemporer, lanjut Said, telah menguasai pers dan pikiran masyarakat. Orang-orang Arab, umpamanya, dianggap si hidung belang yang senang menerima suap yang kekayaannya merupakan penghinaan terang-terangan terhadap peradaban sejati. Selalu ada asumsi bahwa meskipun konsumen Barat tergolong mitoritas dari penduduk dunia, mereka berhak untuk memiliki atau membelanjakan sebagian besar sumber daya dunia. Mengapa? Karena mereka manusia-manusia sejati yang berlainan dengan dunia Timur[5].

Kedua, abstraksi dan teorisasi tentang Timur lebih banyak didasarkan pada teks-teks klasik, dan hal ini lebih diutamakan dari peda bukti-bukti nyata dari mayarakat Timur yang konkret dan riil. Dalam masalah ini, para orientalis tidak bias mengelakan tuduhan Edward W Said baha mereka tidak mau menyelidiki perubahaan yang terjadi dalam masyarakat Timur, tetapi lebih mengutamakan isi teks-tek kuno sehingga orientalisme berputar-putar di sekitar studi tekstual, tidak realistis. Philiph K Hitti, umpanya, mengatakan bahwa untuk mempelajari islam dan umatnya tidak diperlukan kerangka teori baru karena, menuutnya, masyarakat Islam yang sekarang Sembilan abad yang lalu.

Keempat, pada dasarnya Timut itu merupakan sesuatu yang perlu ditakuti, atau sesuatu yang perlu ditaklukkan. Apabila seseorang orientalis mempelajari Islam dan umatnya, keempat dogma itu perlu ditambah dengan dua dogma pokok lainnya.
Kelima, al-Quran bukanlah wahyu Ilahi, melainkan buku karangan Muhammad yang merupakan gabungan unsur-unsur agama Yahudi, Kristen, dan tradisi Arab pra-Islam. Seorang orientalis bernama Chateaubriand, misalnya, mengindoktrinasi murid-muridnya bahwa al-Quran itu sekedar buku karangan Muhammad. Al-Quran tidak memuat prinsip-prinsip peradaban maupun ajaran yang memperluhur watak manusia. Ia bahkan mengatakan, al-Quran tidak mengutuk tirani dan iak mengajurkan cinta pada keerdekaan.
Keenam, kesahihan atau orientisitas semua hadis harus diragukan. Malah ada yang mengeritik syarat-syarat sehihnya hadist seperti yang dilakukan Joseph Schacht. Amien Rais menyindir bahwa disamping ada hadis riwayat Bukhari dan Muslim ada juga “hadis riwayat Josep Schacht”.

D Tujuan Orientalisme

Edward W Said melakukan kritik yang keras terhadap orientalisme. Menurutnya. Menurutnya, orientalisme tidak terletak dalam suatu ruangan hampa budaya[6]. Barat, tulis Said, betanggung jawab membentuk persepsi yang keliru tentang dunia yang ingin mereka “jalaskan”.
Merupakan suatu kenyataan baha para orientalis munyajikan karya tulisnya yang didasarkan pada tujuan tertentu. Secara garis tijuan itu terbagi tiga yaitu :
(1) untuk kepentingan penjajahan
(2) untuk kepentingan agama mereka
(3) untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Untuk kepentinagn penjajahan jalas tergambar dari penelitian-penelitian yang serius yang dilakukan para orientalis. Dalam kasus Indonesia, Snouck Hurgronye begitu jelas. Nama ini oleh pemerintah Belanda diberi kepercayaan untuk mangkaji Islam sedalam-dalamnya sehingga sempat menetap di Mekkah bertahun-tahun. Namun tujuan pengkajiannya tidak lain kecuali untuk melemahkan perlawanan umat islam terhadap Belanda serta mengobrak-abrik pertahanan persatuan dan pertahanan kaum muslim dengan politik belah bambunya[7].

Untuk kepentingan agama juga jelas karena semua penjajah yang menguasai Negara-negara muslim adalah berlatar belakang agama Kristen. Sekalipun ada teori bahwa para kolonialis tidak berambisi mengkristenkan penduduk, namun setidak-tidaknya para penginjil telah menemukan momentumnya untuk membonceng pihak kolonialis untuk menyebarkan Kristen ke tengah penduduk.

Untuk kepentingan ilmu pengetahuan; memang para orientalis beraal dari para intelek dan sarjana yang serius mengkaji masalah-masalah ketimuran. Hampir di tiap universitas di Amerika selalau ada pusat-pusat kajian ketimuran separti pusat kajian timur Tengah, Asia Tenggara, Asia Tengah dan Asia Selatan.

Tujuan yang ketiga dapat menghasilkan yang netral atau fair tentang islam sekalipun demi kenetralan imu mereka juga dapat member kesimpilan yang kurang fair tentang Islam. Namun tujuan pertama dan kedua sudah pasti akan menghasilkan penelitian yang miring, bias dan tidak fair tentang Islam demi kepentingan colonial dan ekspansi agama mereka.

E Pro Kontra terhadap Orientalisme

Berbagai macam tanggapan kaum Muslimin terhadap orientalisme. Sebagian mereka ada yang menganggap seluruh orientalis sebagai musuh Islam. Mereka bersikap ekstrim dan menolak seluruh karya orientalis. Bahkan di antara mereka ada yang secra emosional menyatakan bahwa orang Islam yang mempelajaritulisan orientalis termasuk antek Zions[8].
Mereka mempunyai argument bahwa orientalisme bersumber pad aide-ide Kristenisasi yang menurut islam sangat merusak dan bertujuan menyerang banteng pertahanan islam dari dalam. Karena pada Faktanya tidak sdikit karya-karya orientalis yang bertolak belakang dengan islam. H.A.R.Gibb, misalnya, dalam karyanya Mohammedanism berpendapat bahwa al-Quran hanyalah karangan nabi Muhammad; juga dengan menanamkan islam sebagai Mohammedanism, Gibb mencoba menurunkan derajat kesucian agama wahyu ini, padahal ia tahu persis tak ada seorang manusia Muslim pun berpendapat bahwa Islam adalah ciptaan Muhammad SAW[9].

Pandangan yang sepenuhnya negatife dikemukakan oleh Ahmad Abdul Hamid Ghurab mengenai karakter Orientalisme yaitu: pertama, orientalisme adalah suatu kajian yang mempunyai ikatan yang sangat erat dengan kolonialisme Barat; kedua, gerakan yang mempunyai ikatan yang sangat kuat dengan kristeniasi; ketiga, orientalisme merupakan kajian gabungan yang kuat antara kolonialisme dengan gerakan Kristenisasi yang validitas ilmiah dan obyektivitasnya tidak dapat dipertanggung jawabkan secara mutlak khususnya dalam mengutarakan kajian tentang islam; keempat, orientalisme merupakam bentuk kjian yang dianggap paling potensial dalam politik Barat untuk malawan islam[10].

Sebagian lagi bersikap lebih toleran dan mereka terbagi dalam dua kelompok, bersikap sangat berlebihan, artimya semua karya tulis kaum orientalis samgat obyektif dan dapat dipercaya.
Kelompok lain bersikap hati-hati dan kritis; mereka selalu berusaha berpijak pada landasan keilmuan. Menurut mereka, cukup banyak karya tulis kaum orientalis obyektif tentang Islam dan umatnya, karena memang tidak semua karya orientalis bertolak belakang dengan islam melainkan hanya sebagian kecilnya saja.

Maryam Jamilah menyatakan bahwa orientalisme tidak sama sekali buruk. Sejumlah pemikir besar di barat, kata Jamilah, telah menghabiskan umurnya untuk mengkaji Islam lantaran mereka ecara jujur tertarik terhadap kajian-kajian itu. Tanpa usaha mereka, banyak diantara pengethuan berharga dalam buku-buku Islam kuno akan hilang tanpa bekas atau tidak terjamah orang[11]. Para orientalis dari inggris seperti mendiang Reynold Nicholson dan Arthur J. Arberry brhasil menulis karya penting beripa penerjemah karya-karya islam klasik sehingga terjemahan-terjemahan itu untuk pertama kalinya dapat dikaji oleh para pembaca di Eropa.
Pada umumnya para orientalis itu bener-bener menekuni pekerjaan penerjemahan ini. Mereka yang cenderung manbatasi cukupan pengkajiannya hanya pada deskripsi, kadang-kadang berhasil menulis buku-buku yang sangat bermanfaat, informative dan membuka cakrawala pemikiran baru. Persoalan timbul pada saat mereka melangkah terlalu jauh dari batas-batas yang bener dan berusaha menafsirkan Islam dan pristiwa –pristiwa yang terjadi di Dunia Islam berdasarkan pendangan-pandangan pribadi yang tidak cocok.

Yang paling jelek diantara mereka adalah para orientalis yang mencoba memberikan saran kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita memecahkan persoalan-persoalan kita dan apa yang seharusnya kita lakukan terhadap agama kita[12]. Kritik tajam, ilmiah dan berdampak pada dunia orientalisme dating dari Edward W Said dalam karyanya Orientalisme. Karya Guru besar Universitas Columbia, New York, ini telah menimbulkan kehebohan da kontroversi di lingkungan dunia akademis Barat yang biasa disebut kaum orientalis.
Menurut Said, orientalisme bukna sekedar wacana akademis tetapi juga memiliki akar-akarpolitis, ekonomis, dan bahkan relijius. Secara politis, penelitian, kajian dan pandangan Barat tentang dunia “oriental” brtujuan umtuk kepentingan politik kolonialisme Eropa untuk menguasai wilayah-wilayah muslim[13]. Dan kolonialisme Eropa tak bias lain berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan sekaligus juga kepentingan keagamaan; tegasnya penyebaran Kristen.
Ketiga kepentingan yang saling terkait satu sama lain ini tersimpul dalam slogan yang sangat terkenal tentang ekspansi Eropa ke kaasan dunia Islam, yang mencangkup 3G yakni Glory, Goldand Gospel: “kejayaan, kekayaan ekonomi dan penginjilan.”
Semua motif dan kepentingan orientalisme ini secara implicit juga bersifat rasis. Dan ini tercermin dalam slogan missi “pembudayaan” terhadap duinia timur”yang terbelakang”,jika tidak”primitive”.

Kritik keras Said yang sangat menusuk itu mau tak mau sangat mengguncangkan sendi-sendi kajian Barat terhadap dunia timur. Hasilnya, di kalangan banyak sarjana barat yang biasa disebut orientalis, istilah “orientalisme” menjadi sesuatu yang pejorotif, jika tidak dasgisting[14].
F Beberapa contoh Orientalis

1. H.A.R Gibb

ia meninggal tahun 1971. Duu mengajar di Oxford dan Hardvard. Pendapat-pendapat Gibb mengenai Islam sering diamggap simpatik oleh kalangan sarjana Islam sendiri. Salah satunya pendapatnya yang simpatik adalah ia menyatakan bahwa “islam is indeed much more than a system of theology, it is complete civilization” (islam sesungguhnya lebih dari satu sistem teologi, ia adalah peradaban yang sempurna.
Tetapai menurut pengamatan Amien Rais, Kalau diteliti dalam salah satu bukunya ia mengarahkan pembacaannya supaya yakin baha pad azaman modern prana Islam dalam kehidupan social pasti akan sirna. Secara ringkas argumennya adalah:
Sebagai agama dalam arti sempit, islam hanya kehilangan sedikit kekuatannya. Namun sebagai penentu dalam kehidupan social di zaman modern, islam sedang dicopot dari singgasannya. Dalam kehidupan modern terlalau banyak masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan islam. Dalam hal ini, islam tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menyerah pada keadaan, dan islam akan ditelan oleh perkembangan zaman[15]. Orang islam yang tertarik pada Gibb ini tentu akan berfikir bahwa sekularisme memang tapat untuk kemajuan Islam.
2. Wilfred Cantwell Smith

Orientalis ini sering juga dianggap simpatik pada Islam. Bukunya Islam in Modern History sangat masyhur termasuk di Negara kita. Setelah kita selesai membaca buku ini penilaian aneh segera timbul karena menurut Smith perkembangan yang paling menggembirakan dalam dunia islam sedang dialami oleh lslam di Dunia dan Turki.
Tatapi bagaimana mungkin bisa mengambil kesimpulan yang begitu achistorical? Islam sedang berbentur-bentur di samudera India, dan sampai sekarang pun tetap jadi minoritas yang keadaannya sangat memprihatinkan, sedangkan ketika buku Smith itu terbit (1957), Islam di Turki sdang bergulat dengan sisa-sisa Sekularisme Attaturk yang mengakibatkan luka-lika terlalu dalam.

3. Montgomery Watt

Selain di pandang lembut dan simpatik pada islam, Wtt dinilai juga sebagai sangat teliti dan hati-hati dalam mempelajari sumber-sumber Islam. Walaupun demikian kita memperoleh sebuah “nasehat” yang “bagus” dalam bab terakhir bukunya Islam and the Integration of Society. Setelah memaparkan analisisnya, Watt cukup bebrbesar jiwa mau mengakui bahwa Islam bisa memiliki peranan besar didunia ini pada masa mendatang. Namun cepat ia menambahkan bahwa Islam “harus bersdia mengakui asal-usulnya”. Apa yang ia maksud? Tidak lebih dari pada pencampurbauran unsure-unsur perjanjian Lama, Logika selanjutnya adalah umat islam supaya mau melepaskan al-Qur’an kalau ingin memiliki di masa mandating.
Karya-karya Watt tentang Islam terhitun banyak. Kebanyakan kijiannya adalah tentang sejarah Islam. Karya-karyanya antara lain adalah: Muhammad at Mecca, Muhammad at Medina, The Majesty That Was Islam, History of Islamic Spains, The Influence of Islam in Medieval Europe. Dalam karya yang disebut terakhir, ia dengan meyakinkan menegaskan jasa besar Islam di biang ilmu pengetahuan yang kemudian diadopsi oleh orang-orang Eropa.

4. Gustave von Grunebaum
Menurut Amien Rais, tokoh ini tidak pernah menyembunyikan kebenciannya terhadap Islam. Di antara buku-bukunya yang mancaci-maki Islam adalah Modern Islam : The Search For Cultural Identity. Dalam buku ini antara lain ia menyataka bahwa peredaban islam tidak memiliki aspirasi-aspirasi primer seperi peradaban lainnya. Cirri peradaban Islam adalah antikemanusiaan. Selai itu, Islam tidak punya etik formatif dan kekurangan kesegaraan ontelektual. Kaun muslim tidak bisa maju, tidak ilmiah, tidak bisa obyektif, tidak kreatif, dan otorier. Islam ditangan von Grunebaum adalah islam yang direduksi dan ditempeli sifat-sifat negative yang bisa dikhayalkan oleh Grunebaum. Kebencinnya juga dituangkan dalam bukunya Medieval Islam.

G. Studi Islam para Orientalis
Studi yang dilakukan para orientalis berangkat dari pradigma berfikir bahwa islam agama islam yang bisa siteliti deri sudut mana saja dan dengan kebebasan sedemikian rupa. Tidak mengherankan kalau mereka begitu bebasnya menilai, mengritik bahkan melucuti ajaran-ajaran dasar islam yang bagi kaum Muslim tabu unuk dopermasalahkan.
Studi yang meeka lakukan meliputi seluruh aspek ajaran islam seperti sejarah, hukum, teologi, quran, hadist, tasauf, bahasa, politik, kebuyaan dan pemikiran. Di antara mereka ada yang mengkaji islam meliputi seluruh aspek tadi, ada juga yang hanya meneliti satu aspek saja. Philiph K Hiti, HAR Gibb, dan Montgomery Joseph Schact pada kajian hukum Islm, David Power pada kajian Quran, dan A J Arberry pada aspek tasauf.
Sebagai contoh Dvid Power pernah meneliti sedalam-dalamnya ayat-ayat al-Qur’an sehingga memunculkan kesimpulan Quran tidak sempurna antara lain karena tidak adil membagi waris antara laki-laki dan perempuan. Josep Schacht kesimpulan bahwa hadis tidak layak menjadi sumber hukum Islam.

H. Orientalis dan Islamisis

Akhir-akhir ini pengkajian islam oleh oaring-orang bukan islam terus dilakukan bahkan makin intensif. Pengkajian itu masih didominasi oleh para pemikir barat. Hanya kalau dahulu para peneliti islam disebut orientalis maka sekarang mereka tidak suka disebut orintalis. Sebutan yang mereka lebih sukai adalah Islamis
Menurut Azyumardi Azra kecenderungan mereka tidak ingin disebut orientalis muncul setelah kritik tajam Edward W. Said dalam bukunya Orientalisme[16]. Dalam buku ini Said mengungkapkan secara tajam bias intelektual Barat terhadap dunia Timur (oriental) umumnya, dan islam serta dunia Muslim khususnya. Dengan tegar dia mengemukakan gugatan bahwa Barat bertanggung jawab membentuk persepsi yang keliru tentang dunia yang ingin mereka “jelaskan”.

Perbandingan paradigm Orientalis dan Islamisis
Memang terdapat perbedaan antara keduanya. Orientalis lebih kental nuansa politis dan tendensi kecurigaannya terhadap Islam. Islamisis tampak lebih bersahabat. Kajiannya bersifat ilmiah, dari pada penyelidikan demi kepentingan imperealisme. Nama-nama Islamisis yang produktif saat ini adalah John L. Esposito, karena Armstrong, Martin Lings, Annemarie, John O. Voll, Ira M. Lpidus, Mrshal GS Hodgson, Leonard BINDER DAN Charles Kurtzman. Di antara mereka ada yang kemudian masuk Islam seperti Annemarie Svhimmel

Esposito amat produktif menulis kajian Islam. Di antara bukunya adalah: Voices of Resurgent Islam, Ensiklopedi Dunia Islam Modern, sejarah peradaban Islam, Islam politik, dan Ancaman islam Mitos atau Realitas. Kjiannya berusaha mengungkapkan fakta seobyaktif mungkin, nyaris tanpa komentar yang miring kecenderung mencari kelemahan-kelemahan islam dan umatnya seperti yang dilakukan para orientalis tampaknya tidak menonjol. Bahkan kekayaan data fakta menjadi cirri mereka dalam mengkaji islam. Marshal Hodgson baru peradaban islam lewat analisis-analisinya yang meltiaspek.

Azyumardi Azra memuji karya Hodgson sebagai “contoh yang sangat baik tentang penulisan sejarah islam setelah perang dunia II”[17] dan karya Lpidus sebagai “karya paling lengkap dan kompehensif tentang sejarah masyarakat-masyarakat Muslim”[18]

Catatan

  1. Edward W Said, Orientalisme, Trej. Asep Hikmat, Bandung: pustaka Slman,1996
  2. M. Amien Rais, Cakrawala Islam, Bandung: Mizan, 1986, hlm.
  3. Ibid., hlm. 234.
  4. Said, orientalisme, hlm.143-144.
  5. Ibid., hlm. 143.
  6. Ibid.,hlm. 16.
  7. Untuk melihat lebih jelas peran Hurgronje lihat Hamid Algadri, Snouck Hurgronye, polotik Belanda terhadap islam dan keurunan Belanda, Jakarta: penerbit Sinar Harapan, 1984. Dan Aqib Sumino, politik Islam Snouck Hurgronye, Jakarta: LP3ES.
  8. Qasim Al-samurai, bukti-bikti kebohongan Orientalis, Jakarta: Gema Insani Press, 1996, hlm. 1.
  9. Rais, Cakrawala,hlm. 241.
  10. Ahmad Abdul Hamid Ghurab, menyingkap Tabur Orientalisme, Jakarta: pustaka al-Kautsar, 1993, hlm. 21.
  11. Maryam Jamilah, islam dan Orientaisme, sebuah Kjian Analitik. Terj. Mchnum Husein, Jakarta: Rajawalipers, 1994.hlm. 11.
  12. Ibid
  13. Said, Orientalisme, hlm. 16.
  14. Azra, Historiografi, hlm. 187.
  15. HAR Gibb, Whiter Islam, hlm. 335 sebagaimana dikutup Amien Rais dalam Cakrawala, hlm. 240.
  16. Azra, Historigrafi, hlm. 187.
  17. Ibid., hlm. 68.
  18. Ibid., hlm 65.
Baca Selengkapnya | RUNTUHNYA SENDI-SENDI ORIENTALISME DALAM KAJIAN ISLAM

Menjadi Manusia terbaik

Menjadi Manusia terbaik
Oleh :Nurdin Al-Azies


Sahabat, Sungguh beruntung bagi siapapun yang dikaruniai ALLOH kepekaan untuk mengamalkan aneka peluang kebaikan yang diperlihatkan ALLOH kepadanya. Beruntung pula orang yang dititipi ALLOH aneka potensi kelebihan oleh-Nya, dan dikaruniakan pula kesanggupan memanfaatkannya untuk sebanyak-banyaknya umat manusia.

Karena ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauhmana dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain" (H.R. Bukhari).

Seakan hadis ini mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauhmana derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah sejauhmana nilai manfaat diri ini? Kalau menurut Emha Ainun Nadjib, harusnya tanyakan pada diri ini apakah kita ini manusia wajib, sunat, mubah, makhruh, atau malah manusia haram? Apa itu manusia wajib? Manusia wajib ditandai jikalau adanya sangat dirindukan, sangat bermanfaat, bahkan perilakunya membuat hati orang disekitarnya tercuri.

Akhi wa Ukhtifillah. Tanda-tanda yang nampak dari seorang 'manusia wajib', diantaranya dia seorang pemalu yang jarang mengganggu orang lain, sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku kesehariannya lebih banyak kebaikannya. Ucapannya senantiasa terpelihara, ia hemat betul kata-katanya, sehingga lebih banyak berbuat daripada hanya berbicara. Sedikit kesalahannya, tidak suka mencampuri yang bukan urusannya, dan sangat nikmat kalau ia berbuat kebaikan. Hari-harinya tidak lepas dari menjaga silaturahmi, sikapnya penuh wibawa, penyabar, selalu berterima kasih, penyantun, lemah lembut, bisa menahan dan mengendalikan diri, serta penuh kasihsayang.

Sama sekali bukan kebiasaan bagi yang akhlaknya baik perilaku melaknat, memaki-maki, memfitnah, menggunjing, bersikap tergesa-gesa, dengki, bakhil, ataupun menghasut. Justru ia selalu berwajah cerah, ramah tamah, mencintai karena ALLOH, membenci karena ALLOH, dan marahnya pun karena ALLOH SWT, subhanallah demikian indah hidupnya.
Karenanya, siapapun di dekatnya pastilah akan tercuri hatinya. Kata-katanya akan senantiasa terngiang-ngiang. Keramahannya pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yang sedang membara. Jikalau saja orang berakhlak mulia ini tidak ada, maka siapapun akan merasa kehilangan, akan terasa ada sesuatu yang kosong di rongga kalbu ini. Orang yang wajib, adanya pasti penuh manfaat dan kalau tidak ada, siapapun akan merasa kehilangan. Begitulah kurang lebih perwujudan akhlak yang baik, dan ternyata ia hanya akan lahir dari kepribadian yang baik pula.

Kalau orang yang sunah, keberadaannya bermanfaat, tapi kalaupun tidak ada tidak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amalnya belum dari lubuk hati yang paling dalam. Karena hati akan tersentuh oleh hati lagi. Seperti halnya, kalau kita berjumpa dengan orang yang berhati tulus, perilakunya benar-benar akan meresap masuk ke rongga kalbu siapapun.
Sedangkan orang yang mubah ada dan tidak adanya tidak berpengaruh. Sering kesekretariat LDK aau Tidak, ikut suro atau tidak, sama saja. Seorang yang ketika ada di rumah keadaan menjadi berantakan, dan kalau tidak adapun tetap berantakan. Inilah orang yang mubah. Ada dan tiadanya tidak membawa manfaat, dan tidak juga membawa mudharat.
Adapun orang yang makruh, keberadaannya justru membawa mudharat dan kalau dia tidak ada tidak berpengaruh. Artinya, kalau dia datang ke suatu tempat maka orang merasa bosan atau tidak senang. Misalnya, ada seorang mahasiswa, sebelum dia daang masuk kekelas waktu kuliah, suasana kuliah sangatlah tenang, tetapi seketika dia mengetuk pintu, mengucapkan salam, peranda dia akan mengikuti kuliah pada kesempatan itu, teman-teman yang lain menjadi gelisah malah perpindah tempat duduk, dosen pengajarnya risih, karena keberadaannya selalu menimbulkan masalah.

Seorang anak yang makruh, kalau pulang kuliah justru masalah pada bermunculan, dan kalau tidak pulang suasana malah menjadi aman tentram. Sedangkan karyawan yang makruh, kehadirannya di tempat kerja hanya melakukan hal yang sia-sia daripada bersungguh-sungguh menunaikan tugas kerja.
Lain lagi dengan orang bertipe haram, keberadaannya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Jikasaja dia pergi kuliah, justru perlengkapan kuliah pada hilang, maka ketika orang ini dipecat semua mahasiswa dan staf yang ada malah mensyukurinya.

Masya ALLOH, tidak ada salahnya kita merenung sejenak, tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan orang tua atau malah hanya jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat manfaat tidak dengan kehadiran kita? Adanya kita di masyarakat sebagai manusia apa, wajib, sunah, mubah, makhruh, atau haram? Kenapa tiap kita masuk ruangan teman-teman malah pada menjauhi, apakah karena perilaku sombong kita?

Kepada para sahabat, hendaknya tanyakan pada diri masing-masing, apakah sahabat-sahabat kita sudah merasa bangga punya kawan seperti kita? Punya manfaat tidak kita ini? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat? Kepada para kader dakwah, harus bertanya nih, benarkah kita menyampaikan kebenaran atau hanya mencari penghargaan dan popularitas saja?
Nampaknya, saat bercermin seyogyanya tidak hanya memperhatikan wajah saja, tapi pandanglah akhlak dan perbuatan yang telah kita lakukan. Sayangnya, jarang orang berani jujur dengan tidak membohongi diri, seringnya malah merasa pinter padahal bodoh, merasa kaya padahal miskin, merasa terhormat padahal hina. Padahal untuk berakhlak baik kepada manusia, awalnya dengan berlaku jujur kepada diri sendiri.

Kalaupun mendapati orang tua kita berakhlak buruk. Sadarilah bahwa darah dagingnya melekat pada diri kita, karenanya kita harus berada di barisan paling depan untuk membelanya demi keselamatan dunia dan akhiratnya. Bagi orang tua yang belum Islam, kewajiban seorang anaklah yang bertanggung jawab mengikhtiarkannya jalan hidayah. Apabila orang tua berlumur dosa dan belum mau melakukan shalat, maka seorang anaklah yang berada pada barisan pertama membantu orang tua kita menjadi seorang ahli ibadah dan ahli taubat.

Ingatlah, walau bagaimanapun kita punya hutang budi pada orang tua kita. Keburukan yang ada pada mereka, jangan menjadikan kebencian, jangan pula menyalahkan dan menyesali diri, "kenapa saya lahir dari orang tua yang sudah cerai?" misalnya. Atau adapula anak yang sibuk menyalahkan diri, karena tidak pernah tahu keberadaan orang tuanya. Sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah jika hanya menyalahkan keadaan. Lebih baik kita tanyakan pada diri ini, apakah sudah punya manfaat tidak kita ini? Makin banyak manfaat yang kita lakukan dengan ikhlas, insya ALLOH itulah rizki kita.

Begitu pula terhadap lingkungan, kita harus punya akhlak tersendiri. Seperti pada binatang, kalau tidak perlu tidak usah kita menyakitinya. Ada riwayat seorang ibu ahli ibadah, tapi ALLOH malah mencapnya sebagai ahli neraka. Mengapa? Ternyata karena si ibu ahli ibadah ini pernah mengurung kucing dalam sebuah tempat, sehingga si kucing tidak mendapatkan jalan keluar untuk mencari makan, padahal oleh si ibu tidak pula diberi makan, sampai akhirnya kucing itu mati. Karenanya, walau si ibu ini ahli ibadah, tapi ALLOH melaknatnya karena akhlak pada makhluknya jelek.

Kadang aneh kita ini, ketika duduk di taman nan hijau, entah sadar atau tidak kita cabuti rumput atau daun-daunan yang ada tanpa alasan yang jelas. Padahal rumput, daun, dan tumbuh-tumbuhan yang ada di alam semesta ini semuanya sedang bertasbih kepada-Nya. Yang paling baik adalah jangan sampai ada makhluk apapun di lingkungan kita yang tersakiti. Termasuk ketika menyiram atau memetik bunga, tanaman, atau tumbuhan lainnya, hendaklah dengan hati-hati, karena tanaman juga mengerti apa yang dilakukan kita kepadanya. Dikisahkan ketika Nabi SAW pindah mimbar, yang asalnya menyandar pada sebuah pohon kurma, maka pohon kurma itu diriwayatkan sangat sedih dan menangis, karena ia telah ditinggalkan sebagai alat bantu Rasulullah SAW dalam menyampaikan ilmu kepada para sahabatnya.

Kejadian lain adalah ketika seorang hamba yang shalih dihampiri seekor singa yang mengaum-ngaum seakan hendak menerkamnya. Tentu saja semua orang yang melihat kejadian ini berlari ketakutan. Anehnya, hamba yang shalih ini sama sekali tidak kelihatan merasa takut, kenapa? Karena dia yakin bahwa singa juga makhluk dalam genggaman ALLOH dan sama-sama sedang bertasbih kepada-Nya. Seraya mengajak berbicara layaknya pada makhluk yang bisa diajak bicara, "Mau apa kesini? Kalau tidak ada kewajiban dari ALLOH dan hanya untuk mengganggu masyarakat, alangkah baiknya engkau pergi", maka pergilah singa itu, subhanallah. Demikianlah, orang yang takutnya hanya kepada ALLOH, makhluk pun tunduk kepadanya.

Seperti halnya ketika ada ular di halaman rumah, maka bagi orang yang akhlaknya baik dan dia merasa tidak terganggu, sama sekali dia tidak akan membunuhnya, malah ditolongnya si ular ini untuk bisa kembali ke habitatnya, itu yang lebih baik. Kalaupun dirasa mengganggu sehingga tidak ada jalan lain kecuali harus dibunuh, maka ia akan membunuhnya dengan cara terbaik, dan tidak lupa disebutnya asma ALLOH. Jadilah proses membunuh ular ini sebagai ladang amal.

Betapa indah pribadi yang penuh pancaran manfaat, ia bagai cahaya matahari yang menyinari kegelapan, menjadikannya tumbuh benih-benih, bermekarannya tunas-tunas, merekahnya bunga-bunga di taman, hingga menggerakkan berputarnya roda kehidupan. Demikianlah, cahaya pribadi kita hendaknya mampu menyemangati siapapun, bukan hanya diri kita, tetapi juga orang lain dalam berbuat kebaikan dengan full limpahan energi karunia ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah energi-Nya, subhanallah. Ingatlah, hidup hanya sekali dan sebentar saja, sudah sepantasnya kita senantiasa memaksimalkan nilai manfaat diri ini, yakni menjadi seperti yang disabdakan Nabi SAW, sebagai khairunnas. Sebaik-baik manusia!
Semga kita mampu engamakan amal-amal kebajikan kita Insya ALLOH. ***

Wallahu’alam...
**Dikutif dan ditulis ulang dari kumpulan tausiyah AA GYM
Baca Selengkapnya | Menjadi Manusia terbaik

Hakikat Cinta

Hakikat Cinta
oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar


Cinta adalah bagian dari fitrah, orang yang kehilangan cinta dia tidak normal tetapi banyak juga orang yang menderita karena cinta. Bersyukurlah orang-orang yang diberi cinta dan bisa menyikapi rasa cinta dengan tepat.

Hikam:
"Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik." (Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14)

"Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Cinta memang sudah ada didalam diri kita, diantaranya terhadap lawan jenis. Tapi kalau tidak hati-hati cinta bisa menulikan dan membutakan kita. Cinta yang paling tinggi adalah cinta karena Allah cirinya adalah orang yang tidak memaksakan kehendaknya. Tapi ada juga cinta yang menjadi cobaan buat kita yaitu cinta yang lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yang semakin bergelora hawa nafsu, makin berkurang rasa malu. Dan, inilah yang paling berbahaya dari cinta yang tidak terkendali.

Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seperti minum air laut semakin diminum semakin haus. Cinta yang sejati adalah cinta yang setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja.
Cara untuk bisa mengendalikan rasa cinta adalah jaga pandangan, jangan berkhalwat berdua-duaan, jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan. Bagi orang tua yang membolehkan anaknya berpacaran, harus siap-siap menanggung resiko. Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, istighfar dan sholat sehingga kita tidak diperdaya oleh nafsu, karena nafsu yang akan memperdayakan kita. Sepertinya cinta padahal nafsu belaka.
Baca Selengkapnya | Hakikat Cinta

PENGAWASAN DALAM PANDANGAN ISLAM

PENGAWASAN DALAM PANDANGAN ISLAM
H. Hendri Tanjung, S.Si., MM., M.Ag., M.Phil.

Pengawasan dalam Islam dilakukan untuk meluruskan yang bengkok, mengoreksi yang salah dan membenarkan yang hak. Pengawasan (control) di dalam ajaran Islam (hukum syariah), paling tidak terbagi kepada 2 (dua) hal: Pertama, Kontrol yang berasal dari diri, yang bersumber dari tauhid dan keimanan kepada Allah SWT. Orang yang yakin bahwa Allah pasti mengawasi hamba-Nya, maka orang itu akan bertindak hati-hati. Ketika sendiri, dia yakin Allah yang kedua, dan ketika berdua dia yakin Allah yang ketiga. Allah SWT berfirman: “Tidaklah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima

melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Mujadalah [58]: 7).
Ini adalah control yang paling efektif, yang berasal dari dalam diri. Ada sebuah hadits yang menyatakan: “Bertakwalah Anda kepada Allah, dimanapun Anda berada.” (HR. Thabrani dari Abu Darda’).

Taqwa itu tidak mengenal tempat. Taqwa itu bukan sekedar di masjid, bukan sekedar di atas sajadah, tetapi yang namanya taqwa itu adalah juga ketika beraktivitas, ketika di kantor, ketika di meja perundingan dan ketika melakukan berbagai macam perbuatan. Taqwa semacam inilah yang Tawa shoubil marhamah (saling menasehati atas dasar kasih sayang). Hal ini ditetapkan dalam Al-Qur’an pada surat Al-Balad ayat 17 yang artinya adalah saling berwasiat atas dasar kasih sayang. Tujuan melakukan pengawasan, pengendalian dan koreksi adalah untuk mencegah seseorang jatuh terjerumus kepada sesuatu yang salah. Tujuan lainnya adalah agar kualitas kehidupan terus meningkat. Inilah yang dimaksud dengan tausiyah, dan bukan untuk menjatuhkan. Ternyata metode bil marhamah ini sangat dashyat pengaruhnya. Kita lihat firman Allah dalam surat Fushilat (41) ayat 34-35.

Dalam ayat tersebut Allah menegaskan, bahwa tidaklah sama antara kebaikan dan keburukan. Kebaikan akan abadi, sedang keburukan akan hancur. Kebaikan akan bernilai, akan diterima oleh fitrah manusia, sedang keburukan akan ditolak, sekalipun keburukan itu dominan. Bagaimanapun, pada akhirnya keburukan akan dapat dihancurkan oleh kebaikan.

Tetapi dalam menghadapi keburukan, ayat ini menegaskan: “Idfa’ billatî hiya ahsan”, tolaklah keburukan itu dengan cara yang lebih baik. Mengapa demikian? Sebab, jika kita sudah mampu menolak keburukan dengan kebaikan, misalnya menolak (membalas) orang kikir dengan memberi kepadanya, membalas orang yang membenci dengan mendatanginya, atau membalas orang yang memutuskan hubungan dengan bersilahturahmi kepadanya, maka pengaruhnya sungguh luar biasa. Sehingga, “fa idzal-ladzî bainaka wa bainahu’adâwatun ka annahû waliyyun hamîm”, maka tiba-tiba orang yang semula menunjukkan permusuhan dan kebencian terhadap kita, seolah-olah telah berubah menjadi teman yang sangat dekat. Jadi, sikap-sikap yang menampilkan marhamah ini ternyata punya dampak yang sangat besar.

Kita tidak akan bisa melakukan yang demikian ini (menolak kejahatan dengan kebaikan), kecuali jika kita memiliki kesabaran. Kesabaran tidak bisa tercapai juga, kecuali kita mendapatkan anugerah dari Allah SWT. Artinya, kita tidak bisa melakukan itu semua jika kita tidak punya silah qawiyyah (hubungan batin yang kuat) dengan Allah SWT.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab.
Baca Selengkapnya | PENGAWASAN DALAM PANDANGAN ISLAM

ISLAM DI INDONESIA MASA ORDE LAMA, ORDE BARU DAN REFORMASI

ISLAM DI INDONESIA MASA ORDE LAMA, ORDE BARU DAN REFORMASI
Didin Saefuddin
Dosen Pascasarjana UIKA Bogor

A. Islam Masa Orde Lama

Setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, mulailah bangsa Indonesia mengisinya dengan pembangunan di berbagai bidang; fisik, nonfisik, mental, spiritual dan infrastruktur. Para pemimpin waktu itu sepakat mengangkat Soekarno sebagai presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden.

Salah satu yang menjadi agenda para pemimpin waktu itu adalah departemen apa saja yang perlu dibentuk. Muncul usulan membentuk Kementrian Agama yang bertugas mengurusi masalah keagamaan bagi umat Islam. Dalam rapat yang berlangsung, Latuharhary, seorang utusan dari Maluku, keberatan dengan pembentukan kementrian agama tersendiri. Keberatan itu didasarkan pada kekhawatiran bahwa jika misalnya seorang Kristen yang menjadi menteri agama, kaum Muslim akan merasa kurang tenteram, dan begitu sebaliknya. Dari kalangan Islam, Abdul Abbas menyarankan agar masalah agama dijadikan bagian dari Kementrian Pendidikan. Usul ini akhirnya diterima, karena setelah dilakukan voting, gagasan membentuk kementrian agama tersendiri hanya memperoleh enam suara. Tetapi pada sidang Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), sebuah komite lanjutan dari PPKI, usul ini muncul kembali. Para tokoh Islam seperti Mohammad Natsir mendukung usul ini dengan pertimbangan supaya masalah agama tidak dianggap ”sambil lalu” oleh Kementrian Pendidikan. Presiden pun memberi isyarat setuju. Maka pada 12 Maret 1946 Kementrian agama resmi dibentuk dengan H.M. Rasjidi sebagai menteri pertamanya.

Adanya Kementrian Agama dapat dikatakan sebagai solusi kompromi atas polemik yang terjadi pada ”tujuh kata” pada Piagam Jakarta, yang dapat menawarkan kemungkinan bagi pelaksanaan ajarana agama, khususnya syariat Islam, sehingga Islam dapat berperan dalam negara modern.

Suasana sosial-politik Indonesia pada tahun-tahun pertama kemerdekaan memperlihatkan tidak adanya hambatan penting yang menghalangi hubungan politik antara kelompok Islam dan kelompok nasionalis. Perdebatan mereka tentang corak hubungan antara Islam dan negara seperti terhenti. Paling tidak untuk sementara, kedua kelompok ini melupakan perbedaan ideologis di antara mereka .

Kelompok Islam menjadikan wadah Masyumi sebagai organisasi politik untuk mennyuarakan aspirasi mereka. Para anggota Masyumi adalah. Kekuatan Masyumi antara 1946-1951benar-benar mencolok. Herbert Feith mengatakan bahwa dalam pemilihan umum tingkat regional yang diselenggarakan di beberapa wilayah di Jawa pada 1946, dan pemilihan umum di Yogyakarta pada 1951, Masyumi memperoleh mayoritas suara mutlak atau paling tidak lebih banyak dibanding kontestan lain manapun .

Dalam Parlemen yang berangotakan 236 orang, Masyumi tampil sebagai partai dengan menduduki 49 kursi. Karena besarnya perolehan kursi, Masyumi dipercaya memimpin kabinet yaiti Kabinet Natsir pada 1950-1951, Kabinet Sukiman pada 1951-1952, dan Kabinet Burhanudin Harahap pada 1955-1956.

Namun keutuhan Masyumi harus diuji dengan keputusan NU keluar dari Masyumi. NU kemudian membentuk partai sendiri. Menariknya kursi yang diperoleh dari Pemilu tahun 1955, NU memperoleh 45 kursi dan masuk dalam empat partai besar yaitu PNI, Masyumi, NU dan PKI .

Kekuatan Masyumi sebagai partai politik Islam terus diuji sehingga harus mengalami masa surutnya. Perkembangan lebih lanjut anggota-anggota yang menjadi pendukung Masyumi yaitu Muhammadiyah, Mathla’ul Anwar, al-Ittihadiyah, al-Jami’ah al-Washliyah, al-Irsyad, dan Persis keluar dari Masyumi. Terakhir karena konflik dengan Soekarno, Masyumi dibubarkan oleh Presiden pada tahun 1960. Tokoh-tokoh Masyumi dituduh Soekarno terlibat dalam pemberomtakan PRRI .

Soekarno kemudian menggagas ide yang ingin menyatukan paham Nasionalisme, Islam dan Komunisme yang terkenal dengan sebutan NASAKOM. Konsep yang jelas mengenai ide ini tak pernah terumuskan. Ide ini mendapat reaksi keras dari umat Islam. Namun secara tidak diduga ide ini didukung oleh NU. Bahkan NU memberikan gelar kepada Soekarno dengan gelar Waliyyul Amri Dharury bisy Syaukah. Pada bulan Mei 1963 NU dan PKI mendukung sepenuhnya pengangkatan Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Sikap akomodatif NU ini, menurut Ensiklopedi Tematis Islam , hanyalah suatu pragmatisme politik. Idham Khalid berpendapat partainya tidak akan turut serta dalam pemerintahan yang merugikan agama.

Peranan partai Islam di masa ini mengalami kemerosotan. Soekarno makin memperlihatkan otoritasnya sebagai penguasa. Pancasila ditafsirkan sesuai keinginannya. Partai yang mendapat angin waktu itu adalah PKI yang mulai melakukan manuver-manuver politiknya.

Masa Soekarno ini kemudian terkenal dengan masa Demokrasi Terpimpin. Era Soekarno berakhir setelah terjadinya pemberontakan Gerakan 30 September 1965 yang terkenal dengan G30S PKI. Para Jenderal yang setia kepada Pancasila dibunuh dengan sadis. Soekarno pun dikaitkan dengan dukungannya terhadap G30S. Masa ini kemudian dikenal dengan masa Orde Lama.
B. Islam Masa Orde Baru

Tanggal 10 Januari1966 para mahasiswa turun ke jalan memprotes pemerintah yang makin tidak berpihak kepada rakyat. Mereka melakukan demonstrasi menuntut PKI dibubarkan, mendesak membubarkan kabinet 100 menteri, dan meminta harga-harga diturunkan. Demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) itu kemudian dikenal demonstrasi Tritura atau tiga tuntutan rakyat. Sejak ini mulailah era baru yang disebut Orde Baru. Sebelum ini disebut Orde Lama.

Presiden Soekarno di masa ini sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Berdasar surat perintah sebelas Maret (Supersemar) dia memberikan kuasa kepada Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Kepada Soeharto diperintahkan ”untuk menciptakan suasana ketenangan dan keamanan, dan menjamin keselamatan pribadi presiden, yang jelas merasa terancam” . Melalui rapat di MPR Soeharto dipercaya menjadi presiden RI menggantikan Soekarno. Harapan baru umat Islam muncul kembali. Masyumi diusulkan untuk direhabilitasi, namun ditolak oleh pemerintah. Sebagai kompensasinya pemerintah mengizinkan pendirian partai baru untuk menampung para mantan aktivis Masyumi. Nama partai tersebut adalah Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dengan pimpinannya Djarnawi Hadikusumo dan Lukman Harun.

Satu dengmi satu keinginan umat Islam kandas di tangan Orde Baru. Piagam Jakarta yang diu sulkan untuk dilegalisasi kembali pada sidang MPRS tahun 1968 ditolak. Demikian juga keinginan menyelenggarakan Kongres Umat Islam Indonesia pada tahun yang sama tidak dikabulkan.

Sikap saling curiga muncul dan merebak, bahkan pemerintah Orde Baru makin memperlihatkan sikap represifnya terhadap kaum Muslimin. Setiap kegiatan dakwah harus meminta izin dari aparat keamanan, setiap organisasi Islam harus mengganti azas organisasinya dengan azas tunggal Pancasila, dan partai yang dibolehkan hanya tiga yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia. Semua pegawai negeri digiring untuk memilih Golongan Karya sehingga selama enam kali pemilihan umum Golkar berhasil memenangkan pemilihan umum. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di kampus-kampus juga dibatasi dengan norma-norma yang menyebabkan mahasiswa hanya memfokuskan hanya pada perkuliahan. Para pendakwah yang dianggap membahayakan penguasa dipenjarakan .

Menurut Din Syamsudin, agenda politik Orde Baru mencakup depolitisasi Islam. Proyek ini, menurutnya, didasarkan pada anggapan bahwa Islam yang kuat secara politik akan menjadi hambatan bagi modernisasi. Dengan mendepolitisasi Islam mereka akan mempertahankan kekuasaan dan melindungi kepentingan-kepentingan mereka .

Namun walaupun Islam secara politik mendapat tekanan dari berbagai sudut, di pihak lain, secara kultural kebangkitan Islam menyeruak tanpa dapat dibendung. Mungkin ini hikmah dari perlakuan kurang bersahabat pemerintah terhadap umat Islam. Secara fenomenal dakwah Islam menerobos dinding-dinding gedung mewah seperti hotel-hotel berbintang. Gedung-gedung perkantoran modern menyediakan tempat untuk shalat jumat, pengajian-pengajian muncul di kalangan birokrasi pemerintahan, berbagai kegiatan dakwah seperti tablig akbar mendapat sambutan ribuan pengunjung, masjid-masjid bermunculan, seminar-seminar keislaman diadakan di kampus-kampus sekuler seperti UI, ITB, IPB, Trisakti dan UGM, wanita-wanita dari kalangan terpelajar banyak yang mengenakan jilbab di kota-kota besar, buku-buku Islam terbitan baru dengan tampilan menarik diterbitkan secara besar-besaran. Dan pada tingkat ekonomi berhasil didirikan Bank Muamalat yang beroperasi secara syariat Islam. Pada lapisan kaum intelektual didirikan organisasi bernama Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) dengan ketuanya BJ Habibie. Jumlah jamaah haji pun meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai 200 ribu jamaah lebih.

Kekuatan Orde Baru semakin nyata berkat dukungan militer. Posisi Presiden Soeharto pun makin kokoh dengan dukungan tentara. Perkembangan kebangkitan Islam pun direspond oleh Soeharto dengan melakukan pendekatan terhadap kalangan Islam. Pendirian Bank Muamalat dan ICMI adalah hal yang didukung penuh oleh Soeharto. Namun di awal tahun 90-an ada wacana yang dimunculkan oleh Amien Rais tentang perlunya regenerasi kepemimpinan nasional. Seperti diketahui bahwa setiap sidang MPR yang menentukan kepemimpinan nasional, pilihan selalu menuju ke diri Soeharto sampai enam kali sampai angin reformasi yang menghendaki pergantian kepemimpinan nasional muncul.

Diawali dengan adanya krisis moneter yang melanda negara-negara Asia, yang berdampak nilai rupiah makin merosot terhadap dolar, posisi pemerintah di bawah Soeharto mulai disorot oleh rakyat. Demonstrasi mahasiswa secara besar-besaran muncul di Jakarta. Demonstrasi yang terjadi setiap hari itu sampai menelan korban yakni tewasnya tiga mahasiswa Universitas Trisakti. Kerusuhan dan penjarahan muncul secara brutal yang berujung pada kejatuhan Soeharto pada bulan Mei 1998. Soeharto menyatakan berhenti menjadi presiden dan digantikan oleh wakilnya yaitu Bacharuddin Jusuf Habibie.

C. Euforia Pasca Jatuhnya Soeharto

Berakhirnya masa kekuasaan Soeharto menandai dimulainya orde reformasi. Maka Habibie mendapat tugas berat menakhodai Indonesia di masa transisi. Langkah-langkah yang mengarah kepada proses demokratisasi pun diambil. Kebebasan pers dijamin, pemberantasan korupsi dilakukan, para pejabat yang diangkat melalui nepotisme diberhentikan, kabinet pun dirombak, sistem politik yang berkaitan dengan penetapan presiden dan para kepala daerah dilakukan melalui pemilihan langsung oleh rakyat. Dan yang paling menarik adalah dibukanya kran regulasi politik yang membolehkan didirikannya partai baru.

Situasi ini dimanfaatkan oleh rakyat untuk beramai-ramai mendirikan partai baru. Dan secara fenomenal di masa ini kembali Islam politik mendapat momentumnya untuk bangkit. Sejumlah partai Islam berdiri seperti Partai Keadilan, Partai Bulan Bintang, Partai Masyumi Baru dan Partai Syarikat Islam. Selain itu PPP yang pernah mengganti asas partai dengan Pancasila pun kembali menegaskan asasnya dengan Islam dan mengganti lambang dengan gambar ka’bah .
Partai-partai baru ini selain ada yang secara tegas berasaskan Islam, ada pula yang tidak menegaskan sebagai partai Islam namun konstituennya adalah kalangan Islam seperti Partai Amanat Nasional (PAN) yang digagas oleh Amien Rais, aktivis Muhammadiyah, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang digagas oleh Abdurrahman Wahid.

Secara fantastis Pemilu tahun 1999 mengikutsertakan 48 partai yang ditawarkan kepada rakyat untuk dipilih. Dari ke 48 partai itu dapat dikategorikan kepada empat kategori yaitu pertama, partai nasionalis seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar, dan Partai Keadilan dan Persatuan (PKP); Kedua, partai Islam seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan (PK), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Politik Islam Masyumi (PPIM), dan Partai Syarikat Islam; Ketiga, partai nasionalis berbasis Islam, seperti Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB); Keempat, partai Kristen; Keempat, partai para buruh seperti Partai Buruh Indonesia.

Seleksi alam menggugurkan satu demi satu partai yang berta rung di kancah pemilu 1999 tersebut. Partai yang di masa Orde Baru diberi kesempatan berlaga, yaitu PPP, Golkar dan PDI (yang kemudian berubah menjadi PDIP), masih mendapat suara signifikan. Namun para pendatang baru yang dianggap oleh rakyat sebagai alternatif pun bermunculan. Terdapat tujuh partai yang memperoleh suara di atas partai-partai lain yaitu PDIP, Golkar, PPP, PKB, PAN, PBB, dan PK.

Di masa keterbukaan ini, harapan akan terjaminnya rasa keamanan, keadilan dan kesejahteraan rakyat mulai berjalan. Kekuasaan represif rezim Orde Baru yang didukung militer mulai hilang. Rakyat mulai berani menyuarakan kepentingannya tanpa rasa takut, sehingga unjuk rasa-unjuk rasa menjadi pemandangan biasa di jalan-jalan.
Masa transisi kepemimpinan Habibie berlangsung satu tahun. Sidang MPR kemudian memilih Abdurrahman Wahid dan Megawati sebagai presiden dan wakil presiden. Namun Wahid pun hanya setahun memimpin karena terkait kasus Bulog yang menyebabkan ia diganti oleh Megawati.

Pemilihan langsung presiden pertama digelar pada tahun 2004. Susilo Bambang Yudoyono dan Jusuf Kalla berhasil memperoleh suara terbanyak sehingga ditetapkan sebagai presdien dan wakil presiden mengalahkan pasangan-pasangan lain yaitu Megawati-Hasyim Muzadi, Amien Rais-Siswono Judohusodo, Wiranto-Solahudin Wahid, dan Hamzah Haz-Agum Gumelar.
Para pengamat politik dunia menilai keberhasilan Indonesia menyelenggarakan Pemilu secara langsung menempatkan Indonesia sebagai negara demokratis ketiga di dunia setelah Amerika dan India.

D. Islam di Masa Reformasi

Kebebasan yang terbuka lebar di masa ini pun dimanfaatkan oleh umat Islam untuk menata dirinya, bukan hanya di bidang politik, melainkan juga bidang ekonomi, pendidikan, sosial dan kehidupan keberagamaan.

Di bidang politik, banyak fenomena menarik tentang menguatnya kebangkitan politik kaum santri. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro Islam semakin tampak terbuka, seperti dicanangkannya program zakat nasional pada tahun 2005 dan penataan madrasah-madrasah di bawah Departemen Agama dengan dukungan dana yang besar.

Ketika Undang-undang tentang pemilihan kepala daerah (pilkada) disahkan maka sekarang tidak lagi menjadi tugas DPRD untuk menentukan gubernur dan bupati/walikota. Maka berlangsunglah pesta demokrasi tingkat daerah yang memunculkan calon-calon pemimpin baru. Yang menarik dari hasil pilkada, secara tidak terduga, terdapat pemimpin baru yang terpilih dari kalangan santri. Terpilihnya Ahmad Heriawan dan Dede Yusuf sebagai gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat pada 2008 sangat mencengangkan banyak orang. Mereka adalah calon dari partai Islam yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan partai berberbasis massa Islam, Partai Amanat Nasional. Demikian juga calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara yang diusung PKS memenangkan Pilkada Sumut tidak lama setelah berlangsung Pilkada Jawa Barat.

Di bidang ekonomi, kaum Muslimin sudah memiliki bank yang beroperasi secara Islami, yaitu Bank Muamalat yang sudah dirintis sejak zaman Orde Baru. Karena minat umat Islam yang begitu besar akan beroperasinya bank Islam maka para bankir pun memanfaatkan momentum ini. Para pengusaha bank berusaha untuk mengkonversi sistem perbankan dari konvensional ke perbankan syariah. Banyak bank yang tadinya hanya beroperasi secara konvensional mulai membuka sistem syariah. Dimulai oleh Bank Syariah Mandiri, kemudian disusul oleh Bank BNI Syariah, IFI Syariah, BUKOPIN Syariah, BRI Syariah, BTN Syariah, BII Syariah, Permata Syariah, dan bahkan bank asing seperti HSBC.

Fenomena ini mendorong pihak Bank Indonesia (BI) untuk membuka divisi perbankan syariah untuk melakukan pembinaan dan regulasi. Jabatan pembina bank syariah di BI pun ditingkatkan dari setingkat divisi menjadi direktorat, seiring dengan menjamurnya bank-bank syariah baik di tingkat pusat maupun di tingkat lokal dengan munculnya bank-bank perkreditan syariah.

Kebutuhan akan tenaga sumber daya manusia yang ahli di bidang perbankan syariah secara otomatis disambut oleh kalangan perguruan tinggi untuk membuka jurusan ekonomi Islam. Maka perguruan tinggi Islam, baik negeri maupun swasta, ramai-ramai membuka jurusan ekonomi Islam. Namun kesempatan ini pun dimanfaatkan oleh kalangan perguruan tinggi umum untuk membuka jurusan ekonomi syariah. Maka UI, UGM, Trisakti dan IPB pun membuka program ekonomi Islam, tidak hanya di strata sarjana melainkan juga pascasarjana.
Pendidikan Islam juga memunculkan fenomena yang menarik. Di level pendidikan dasar dan menengah, muncul fenomena sekolah terpadu, yaitu Sekolah dasar Islam Terpadu (SDIT), Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) dan Sekolah Menengah Islam Atas Terpadu (SMAIT).

Kehadiran sekolah terpadu ini ternyata menarik minat kalangan masyarakat untuk memasukkan anak-anaknya. Sistem sekolah ini pada intinya memadukan pendidikan umum dan agama bukan hanya pada tingkat teoritis melainkan sampai pada tingkat praktik. Anak-anak diwajibkanuntuk mempraktekkan shalat berjamaah di masjid sekolah. Bahkan bukan hanya shalat wajib, sekolah ini pun mengharuskan mereka untuk shalat sunat seperti dhuha dan rawatib. Di bidang bacaan Quran, sistem SIT menekankan kefasihan dan hafalan Quran anak didik.

Animo masyarakat memasukkan anaknya ke sekolah terpadu bisa menjadi faktor terbukanya kesadaran akan pentingnya ajaran Islam bagi anak-anak mereka.

Di pihak lain muncul fenomena lain yaitu sekolah-sekolah berasrama atau yang populer disebut Boarding School. Sekolah ini sebenarnya sekolah umum, hanya siswanya diwajibkan tinggal di asrama untuk mengikuti pembinaan kepribadian yang menunjang tujuan sekolah. Sekalipun model sekolah ini menyerupai pesantren, namun tidak ada pelajaran mengaji kitab kuning atau kewajiban berbahasa Arab di lingkungan asrama. Beberapa nama sekolah yang menerapkan model ini adalah SMA Madania, SMA Dwiwarna, keduanya di Parung, Bogor; SMA al-Muthahhari Bandung, dan International Islamic Boarding School (IIBS) Cikarang.

Di level kehidupan keberagamaan masyarakat terjadi perkembangan yang juga menarik untuk diamati, seperti menjamurnya travel-travel haji dan umroh untuk memfasilitasi masyarakat yang hendak naik haji dan umroh. Jumlah jamaah haji terus meningkat mencapai lebih dari 220 ribu jamaah. Pengajian-pengajian dan training-training Islam dibanjiri pengunjung seiring dengan bermunculannya da’i-da’i muda yang menarik dalam menuturkan materi dakwahnya.

Majelis-majelis ta’lim yang menampilkan juru-juru dakwah yang populer dan menyejukkan bermunculan dan diminati kaum Muslim perkotaan. Dalam kaitan ini masing-masing majelis pengajian memiliki nama yang menjadi semacam ”trade mark” seperti Manajemen Qalbu yang dipelopori oleh Abdullah Gymnastiar, Majelis Zikir yang dipelopori oleh Arifin Ilham, dan Wisata Hati yang diasuh oleh Yusuf Mansyur. Juru dakwah yang lebih dahulu menyemarakkan tablig-tablig akbar adalah Zainuddin MZ, yang mendapat julukan ”da’i sejuta ummat”. Namun seiring dengan perannya di partai politik, namanya perlahan-lahan tidak lagi populer.

Di kalangan eksekutif, kebangkitan keagamaan juga makin meluas. Hampir tidak ada satu pun gedung pencakar langit di kota besar seperti Jakarta yang tidak memiliki fasilitas shalat jumat. Hotel-hotel berbintang berlomba-lomba menyediakan tempat untuk shalat tarawih yang diisi ceramah agama. Para artis banyak yang mengenakan busana yang menutupi aurat di samping melaksanakan umroh dalam mengisi liburan mereka.

Training-training motivasi juga diminati kaum menengah dan eksekutif. Dalam hal ini yang menonjol adalah training ESQ (Emotional, Spiritual Quotient) yang dipelopori oleh Ary Ginanjar Agustian. Sekalipun, untuk mengikuti training ini harus membayar jutaan rupiah namun tetap saja diminati kalangan eksekutif dan kalangan Islam kota. Bahkan di tahun 2006 ESQ sudah dilaksanakan di luar negeri seperti Malaysia dan Brunei. Training ESQ sebenarnya lebih banyak muatan keislamannya namun dikemas secara menarik melalui pendekatan sains modern mutakhir dan teknologi multimedia serta musikalisasi yang mengundang sentuhan emosi para pesertanya. Selain kaum profesional dan eksekutif, ESQ juga menyediakan training untuk mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga dan anak-anak.

Acara-acara dakwah pun menjamur di televisi, terutama pada waktu datangnya bulan Ramadhan. Pada bulan ini acara dakwah diadakan menjelang dan sesudah berbuka puasa serta menjelang dan setelah santap sahur. Cerita-cerita film di televisi pun memunculkan kisah-kisah Islami yang tidak ditemui di masa-masa sebelumnya.

Pendek kata, syiar Islam di masa ini tampak semarak menembus ruang-ruang kehidupan masyarakat. Dalam mengekspresikan pendapat, gagasan, pikiran dan cita-citanya, masyarakat tidak lagi dihantui perasaan takut, seperti di masa Orde Baru. Gagasan-gagasan provokatif, bernuansa politis, sekalipun, tidak mendapat teguran atau larangan dari pemerintah. Bahkan negara, secara legal formal, telah mengesahkan wilayah Provinsi Aceh, yang kemudian berubah nama menjadi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), sebagai wilayah yang diberi otonomi penerapan syariat Islam. Kasus-kasus pelanggaran pidana yang dilakukan warga diputuskan melalui peradilan syariat .

Di antara sebagian masyarakat ada yang secara demonstratif dan provokatif mengkampanyekan diterapkannya syariat Islam di negara RI , bahkan ada juga di antara mereka yang ingin membangun negara dengan sistem khilafah yang berdimensi universal di seluruh dunia .

Perkembangan Islam dan kehidupan umat Islam di Indonesia akan terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Banyaknya kaum muda Islam terpelajar yang bergelar sarjana, magister dan doktor tampaknya membawa angin segar bagi perkembangan baru Islam Indonesia di masa depan.

Beberapa pendapat yang dilontarkan para pakar dan pemikir Islam dunia memprediksi bahwa kebangkitan Islam akan muncul di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Apakah itu mitos atau realitas, hanya waktu yang akan menjawabnya.
Baca Selengkapnya | ISLAM DI INDONESIA MASA ORDE LAMA, ORDE BARU DAN REFORMASI

FILOSOFI HAJI DAN QURBAN


FILOSOFI HAJI DAN QURBAN
Oleh : Didin Saefuddin Buchori


Satu pekan Idul Adha sudah kita lalui. Makna apa yang dapat engkau ambil dari Idul Adha? Pertama, idul adha berkaitan dengan prosesi ibadah haji yang dilakukan oleh jutaan saudara-saudara kita di tanah suci Mekah. Pelajaran apakah yang dapat dipetik dari pengalaman menunaikan haji?

Prosesi ibadah haji diawali dari miqat. Miqat artinya batas tempat dan waktu memulai haji. Titik berangkat bertempat di Birr Ali atau Zulhulaifah. Di sini engkau berganti pakaian. Seluruhnya berwarna putih. Laki-laki hanya menggunakan 2 helai kain yang dililitkan ke tubuhnya tanpa sedikitpun ada jahitan. Wanita sekujur tubuhnya tertutup rapat kecuali muka dan telapak tangannya. Di sini engkau berniat Ihram artinya siap mengharamkan yang menjadi larangan Ihram.
Ketahuilah bahwa pakaian sering menjadi simbol keangkuhan seseorang. Banyak orang mendemonstrasikan status sosial dengan mengenakan pakaian mahal, rancangan disainer bertarif puluhan juta, dengan menggunakan bahan yang harganya tidak dapat dijangkau orang lain. Lalu pakaian pun bisa menjadi batas palsu yang menyebakan garis demarkasi. Muncullah egosentrisme ”inilah aku” dan bukan ”inilah kita”. Dengan pakaian Ihram keangkuhan itu dikubur dalam-dalam. Status kita sama di hadapan sang Maha Pencipta. Bedanya hanya pada ketakwaan. ”Inna Akramakum Indallahi Atqaakum

Sesampai di Mekah kita menuju pusat Kiblat dunia bernama Ka’bah. Kabah laksana matahari sebagai pusat tata surya yang dikelilingi planet-planet. Engkau saksikan jutaan manusia mengelilinginya bak bintang-bintang yang beredar dalam orbitnya. Kabah melambangkan keabadian Allah, sedang manusia-manusia yang bergerak mengelilinginya melambangkan kefanaan ciptaan-Nya. Itulah simbol bahwa posisi manusia akan berpindah dari alam satu ke alam lainnya, sedang Allah tetap dalam keabadian-Nya.

Selesai 7 kali thawaf, engkau menuju tempat sa’i. Sa’i adalah berjalan cepat antara Shafa dan Marwa sebanyak 7 kali. Sa’i artinya usaha/ikhtiar. Sa’i melambangkan bahwa manusia tidak boleh berdiam diri, ia harus gesit, cekatan, terus bergerak sampai kita mendapatkan capaian yang kita tuju. Dalam hidup tidak ada yang tidak bisa dicapai kalau kita bergerak, berusaha, bekerja keras. Seekor burung terbang jauh di pagi hari dalam keadaan perut kosong tidak pernah ia pulang dengan perut kosong pula. Ia telah menjalankan sa’i, berusaha, berikhtiar untuk mempertahankan hidupnya. Itu pula yang dilakukan siti Hajar ketika harus berlari-lari mencari seteguk air demi mempertahankan hidup sang putra tercintanya, Ismail a.s. Bacalah biografi orang-orang sukses di sekitarmu, pasti engkau akan dapatkan pelajaran berharga bahwa kesuksesan mereka tidak diperoleh secara gratis melainkan dengan kerja keras, tak kenal lelah. Seorang bijak mengatakan ”kesuksesasan bukan diperoleh dengan kekuatan tetapi berkat ketekunan.”

Setelah putaran ke 7, di bukit Marwah, guntinglah rambutmu, seberapa helai saja. Bercukur adalah simbol membuang pikiran-pikiran buruk yang ada dalam otakmu, pikiran serakah, pola pikir sesat, khayalan kotor, otak mesum, ide-ide jahat, senang melihat penderitaan orang lain atau menderita melihat kesenangan orang lain.

Ketika hari mulai menapaki tanggal 8 Zulhijjah bersiap-siaplah engkau menuju padang Arafah. Engkau akan menjalani wukuf. Wukuf artinya berhenti. Setelah bergerak saat Thawaf dan Sa’i saatnya engkau kini berhenti sejenak.

Hidup adalah gerak. Gerak akan berakhir dengan penghentian. Dan penghentian terakhir kita adalah kematian. Semua makhluk tidak satupun yang mampu menghindarinya. ”Qul Innal mawtal ladzii tafirruuna minhu fainnahuu mulaqiikum” Katakanlah bahwa kematian yang kamu lari daripadanya sesungguhnya ia akan menjemputmu ( al-Jumua’ah: 11).
Arafah adalah miniatur padang Mahsyar. Kita semua akan dikumpulkan di padang Mahsyar akhirat dan medan pertanggungjawaban segala perbuatan kita. Engkau punya mulut, tapi hari itu terkatup rapat, karena mulut adalah lubang tempat keluarnya kebohongan dan kepalsuan-kepalsuan. Engkau punya mata saat itulah ia bersaksi, engkau punya telinga saat itu ia mengungkapkan pernyataannya, engkau punya kaki di padang Mahsyar itu ia akan berterus terang kemana ia pernah melangkah, engkau punya tangan saat itulah ia terbuka mengeluarkan testimoninya.

Tangkaplah makna wukuf di Arafah sedalam-dalamnya sebagai refleksi bahwa engkau kelak akan memanen hasil perbuatanmu ketika menjalankan perananmu di panggung dunia. Perilaku buruk sekecil atom sekalipun pasti akan ada balasannya demikian sebaliknya dengan amal saleh. Menangislah engkau di padang Arafah sejadi-jadinya untuk menyatakan pertobatan abadi dan kesiapan total untuk menjadi manusia mulia di hadapan Allah.

Sesampai di Mina, engkau berangkat untuk melempar jumratul ula, jumratul wushtha dan jumratul aqabah. Melempar jumrah adalah simbol permusuhan abadi kepada syetan laknatullah. Syetan bisa menggoda kapan saja sehingga iman kita bisa berguncang karenanya. Banyak orang yang baik dan terhormat tiba-tiba jatuh menjadi hina dan berlumuran dosa akibat bisikan jahat syetan. Karena itu lemparlah syetan yang ada dalam diri kita sekeras-kerasnya seperti jamaah haji melempar jumrah.

Usai haji pulanglah engkau ke tanah air membawa oleh-oleh berupa kemuliaan akhlak, ketinggian martabat, kesucian kalbu dan gelar haji mabrur. Lalu engkau bangkitkan negerimu menjadi negeri baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, negeri yang bersih, suci sesuci hatimu ketika menangis di Padang Arafah.

Dan kita yang tinggal di negeri sendiri alhamdulillah sudah melaksanakan penyembelihan hewan qurban. Berqurban adalah simbol ketaatan kita kepada perintah Allah dan kepatuhan kita menjauhi larangan-Nya. Berqurban juga adalah simbol rasa syukur karena Allah telah menganugerahkan banyak kenikmatan yang tak terhingga sehingga kita wujudkan syukur itu dengan menyembelih hewan qurban. Berqurban juga adalah simbol kesiapan kita menyembelih nafsu kebinatangan yang ada dalam diri kita seperti keserakahan, kebuasan, ketiadaan rasa malu, dan ketiadaan rasa terimaksih.

Semoga saudara-saudara kita di tanah suci pulang membawa haji mabrur. Semoga qurban yang telah kita lakukan menjadi peneguh ketakwaan kita.

Wahlahua'lam
Baca Selengkapnya | FILOSOFI HAJI DAN QURBAN

15 Jul 2011

SEMINAR SEHARI TEKNOLOGI INFORMASI PENDIDIKAN

( Zainal Abidin ( Batik), Budi Susetyo (Hitam), Foni Agus Setiawan (Coklat)
sedang memberikan materi pada seminar yang Teknologi Pendidikan di UIKA Bogor


berlatar belakang pendirian program studi baru pada program pascasarjana UIKA Bogor, Seminar yang bertajuk Teknologi pendidikan yang diselenggarakan oleh Jurusan Teknik informatika Fakultas Teknik UIKA Bogor ini, mendatangkan 3 pembicara anatara lain Bapak Foni Agus Setiawan S. Kom M.Kom ( Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ), Dr. Zainal Abidin Arif M.Sc (Ketua Prodi S2 Teknologi Pendidikan UIKA) Victor Terinate ( Direktur Telematika BNSP).

Ketiga pembicara ini memaparkan tentang pentingnya implementasi Teknologi bagi pendidikan, dalam sambutannya dekan FT UIKA Bapak Arief Goeritno mengungkapkan, seminar ini bertujuan selain mempromosikan Prodi baru di Program pascasarjana UIKA Bogor, seminimar ini pula dihadirkan agar para civitas akademika yang bergerak khususnya dibidang IT bisa menyadari bagaimana pentingnya implementasi ilmu yang diajarkan di bangku kuliah utuk pendidikan, sehingga perlu adanya suatu semangat baru dalam menjalani perkuliahan. Tambahnya, dalam seminar inipula akan dipaparkan mengenai sertifikasi propesi sebagai penunjang dan bukti tambahan lain bahwa lulusan fakultas teknik khususnya teknik Informatika adalah para propesional yang mempuni dibidangnya.


Seminar yang dimula pukul 9.00 Wib ini diikuti oleh sekitar 100 Peserta dengan latarbelakang dan profesi yang berbeda-beda, dengan antusias para peserta mendengarkan para pembicara yang dihadirkan
Baca Selengkapnya | SEMINAR SEHARI TEKNOLOGI INFORMASI PENDIDIKAN